
Juwi, mau ketemu enggak?
Udah lama banget, nih.
Juwita tidak bisa membalas chat Adit, dan cuma pura-pura belum membacanya. Ingatan Juwita soal Adit rasanya tidak begini.
Dia itu senior yang cuek. Tidak cuek parah juga, tapi ya tidak kegatelan begini juga.
Sempat Juwita menanyakan pada Sandy kabar Adit, buat tahu sedikit sebenarnya dia sudah berubah atau tidak.
Kata Sandy, Adit begitu-begitu saja. Katanya mulai sibuk kerja dan punya pacar.
Terus ini maksudnya apa, njir?
Juwita bergidik. Masak sore sambil terus berusaha mengalihkan pikiran.
"Gue lagi pusing, ternyata garem habis." Juwita menggeleng-gelengkan pada toples garam yang kosong. "Habisnya besok kek, Minggu kek. Kenapaaaaaaa mesti sekarang?"
Tentu saja toples tidak bisa menjawab. Yang ada dia minta diisi atau masakan Juwita hambar.
"Pikachu!"
Cetta datang, bersama Pika.
"MAKSUD AKU TUH KAMU DOANG!" Juwita bergidik mundur melihat ular di tangan Cetta.
Anaknya Melisa tidak ada yang waras.
"Taro, taro, taro! Buruan!"
Cetta tertawa, mendekatkan Pika pada Juwita.
__ADS_1
Tapi sekali lagi Juwita menjerit, dia patuh untuk pergi, menaruh Pika di kandangnya sebelum dia muncul lagi.
"Kakak kenapa takut uler? Kan ularnya Cetta lucu."
"Ndasmu lucu." Juwita mengisyaratkan Cetta memegang tangannya. "Sini, temenin aku beli garam."
"Tapi Cetta mau dibeliin es krim."
"Es krim di kulkas masih banyak, Bocah."
"Enggak mau yang itu. Cetta maunya yang kecil. Yang ada gambar harimaunya."
"Banyak mau kali kau ini." Juwita berdecak, tapi tetap membawa dompet karena ia juga mau sekalian jajan.
Sebagai mantan anak gadis yang baru lepas perawan beberapa waktu lalu, jajan di supermarket masihlah salah satu hobi Juwita. Apalagi sekarang ia tak perlu terlalu memikirkan soal biaya dan menunggu seluruh kebutuhan sudah terpenuhi baru bisa belanja camilam.
Mereka berjalan keluar rumah. Menyapa beberapa tetangga biarpun tidak kenal, karena bergaul adalah kunci hidup mudah.
"Loh, Satan pulang sendiri? Lucifer di mana?"
Banyu melotot pada panggilan Juwita. "Lo ngapain, hah? Mau jual adek gue?"
"Ih, kok tau?" Juwita merangkul dia sambil tertawa. "Sini kujual juga kamu. Sini, sini."
"Paan, sih?! Lepas!"
"Abang, Kakak mau traktir es krim."
"Halah, duit Papa juga."
Juwita mengangkat jempol. "Tul sekali."
__ADS_1
Banyu mendengkus. Mengejek Juwita itu susah sekali, demi Tuhan. Mau dikatai apa, rasanya dia hanya mengembalikan dengan santai.
Kecuali soal orang tuanya dulu, dia sampai menangis.
Karena ditarik-tarik, Banyu terpaksa ikut. Apalagi karena Juwita bilang dia memegang kunci rumah, jadi Banyu tidak mungkin bisa masuk.
"Kamu tadi pagi marah, yah?" tanya Juwita tiba-tiba. Mana mungkin Juwita enggak sadar kalau muka bocah ini macam orang habis kalah judi. "Kenapa? Karena Papa kamu manggil aku sayang?"
"Enggak usah ngomong jijik."
"Dih, sensi." Juwita menarik Cetta berjalan lebih cepat, soalnya mereka sudah tiba. "Tapi satu yah, Bocah. Aku yang paling enggak bisa lupain Mamamu."
Karena kalau bukan Melisa mengikhlaskan Adji pada Juwita, sekarang mungkin ia sedang menangis memikirkan uang untuk Ibu.
Juwita berbalik mau mengejek Banyu, tapi justru dibuat terkejut dengan seseorang yang berlari mendekat memakai penutup wajah.
Perasaan Juwita tidak enak. Secara spontan ia melepaskan Cetta, berlari pada Banyu.
Bersamaan ketika Juwita memeluk remaja itu, sebuah pukulan keras mengenai wajahnya, membuat Juwita dan Banyu terlempar.
Banyu syok. Apalagi waktu teriakan histeris terdengar disusul teriakan Cetta.
Orang bertopeng itu menginjak-injak Juwita keras sebelum berlari kencang.
"Juwita!"
Banyu bergetar memegangi kepala ibu tirinya. Apalagi Juwita mengerang kencang dengan wajah memerah berdarah.
"Kakak!"
*
__ADS_1