
Juwita masuk ke kamar untuk mandi. Melihat jam masih belum menunjuk ke angka enam, Juwita tak membangunkan Adji. Ia turun ke bawah menyiapkan sarapan.
Nyaris selesai masakan ia buat, Cetta muncul dari lantai dua sambil menggosok-gosok matanya.
"Kakak," panggil anak itu setengah sadar.
"Apa, Sayang?"
"Gendong."
Buset. Bangun-bangun malah minta gendong.
Tapi Juwita tak protes, mengambil dia meski harus masak dengan satu tangan.
"Abang Banyu udah bangun?"
"Kata Abang Abi biarin aja." Cetta bergumam. "Kalo telat sekolah biarin aja. Orangnya yang rugi."
"Yaudah, Cetta gimana kalo bangunin Papa?"
Anak itu menggeleng. "Males."
Jam tahu-tahu nyaris menyentuh angka tujuh. Ketika Adji turun dengan setelan santai dan Banyu muncul meski matanya masih ingin tertutup rapat, Abimanyu belum kunjung pulang.
Ke mana anak itu?
__ADS_1
"Abimanyu ke mana?" tanya Adji pada anak keduanya.
Banyu menggigit apel, tampak sangat tidak mau menjawab saking malasnya. "Tauk."
"Tadi joging bareng aku." Juwita meletakkan Cetta di kursi dekat Adji. "Nambah putaran kali."
Walau agak meragukan kecuali anak itu benar-benar maniak. Sudah sudah nyaris dua jam, jadi mustahil dia masih lari keliling.
"Papa, enggak ke kantor?" Cetta menyendok potongan stoberi di atas mangkuknya saat bertanya pada Adji. "Papa bolos juga, yah?"
Adji mengusap-usap kepala anaknya. "Papa enggak sibuk, jadi mau di rumah sampe siang. Temenin kamu nonton bola."
"Sama Kakak juga?"
"Iya."
Kalau tidak sedang marah atau jengkel, Juwita luar biasa canggung memanggil Adji dengan sebutan mas. Lidahnya kaku.
"Tadi aku liat chat Ibu, katanya sodara Ayah mau jenguk ke rumah sakit. Kamu enggak pa-pa kan sama Cetta dulu?"
"Bisa bertiga ke rumah sakit."
Itu situasi yang agak tidak menyenangkan. Oke, sangat tidak menyenangkan.
Ibu sudah bilang, kan? Keluarganya Adji itu keluarga yang paling banyak gaya. Nah, keluarganya Adji adalah keluarga Ayah juga. Alias, saudaranya Ayah sebelas dua belas.
__ADS_1
Ayah tidak terlalu peduli pada siapa pun yang mengabaikannya juga, tapi terus terang Juwita tidak suka pada seseorang dari keluarga Ayah, mungkin kecuali beberapa sepupu Juwita.
Sisanya menjengkelkan.
"Kenapa?" Adji menyadari keengganan dalam ekspresi Juwita. "Ada masalah?"
"Mereka nyebelin," jawab Juwita pelan. "Rasanya aku malah kalah kalo kamu ikut."
"Maksudnya?"
"Ya pastilah mereka permasalahin. Kayak, 'ih kok kamu nikah sama duda punya anak, padahal anak perawan, cantik pula, masa enggak nikah sama yang seumuran aja, yang lebih bebas, kesian amat'."
Juwita menggigit sendoknya dongkol.
"Kalo kamu enggak dateng kan, aku bisa bilang 'haha, aku sukanya emang yang udah mateng, yang duitnya banyak biar bisa beli Dior tiap bulan, oh maaf yah suami aku enggak bisa dateng soalnya dia sibuk'."
Banyu menatap ibu tirinya dengan sodot mata 'situ gila?', sementara Adji memiringkan wajah tak paham.
Cetta tertawa, hanya merasa terhibur karena ekspresi Juwita berubah-ubah. "Kakak suka belanja, yah?"
"Sukalah." Juwita menjawab ekspresif, tapi setengahnya cuma bercanda. "Beli barang mahal banyak-banyak terus pamer bilang 'nih, liat nih aku beli ini mahal, kamu mana?'. Akh, enak banget. Cetta mau juga?"
"Cetta sukanya cokelat."
Juwita tergelak. Mengacak-acak rambut Cetta hingga anak itu ikut tertawa.
__ADS_1
*