Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
22. Berbakat Menyakiti


__ADS_3

Juwita menguap bebas ketika akhirnya Cetta tidur. Bocah merepotkan ini benar-benar sulit ditangani karena tak bisa diam bermain di satu tempat yang sama.


Dia berbaring di ruang mainnya, jadi Juwita hanya mengambilkan selimut tipis untuk dia lebih nyenyak tidur.


Saat Juwita beranjak, tak sengaja ia mendengar suara pukulan bola khas. Ternyata Abimanyu tengah melatih spike jump-nya dengan sekeranjang bola voli.


Entah kenapa Juwita kasihan. Bukan karena dia berlatih sendirian, tapi karena Abimanyu begitu haus akan pertandingan tapi sampai sekarang belum punya kesempatan sama sekali.


Hah. Apa Melisa memang sengaja meninggalkan dia agar dewasa sendiri, yah?


"Yo, Bocah."


Abimanyu mendelik bahkan sebelum Juwita keluar dari pintu samping rumah. "Gue lagi sibuk. Jangan ganggu."


Juwita tetap turun, pergi ke seberang net.


"Aku juga udah bosen nemenin adekmu main. Sekarang aku yang main."


Mata dia terlihat sangat tidak suka. Tapi Abimanyu tetap melompat, melempar servis keras.


"Akh!" teriak Juwita, merasa tangannya perih.


Namun detik berikutnya ia menjulurkan lidah ke samping, karena bola melayang ke atas, yang berarti diterima sangat baik.


"Kurang kenceng. Ayo dong, Cahku. Jangan suka nahan diri gitu ke Mama. Ayo, ayo. Yang buas mainnya."


Abimanyu menggeram jengkel. Kali ini dia melompat sambil mengumpat.


Melayangkan sebuah bola yang memantul ke tangan Juwita sebelum melesat ke sisi lain lapangan.

__ADS_1


"Heh, Bocah! Kamu sengaja bikin miring biar bolanya out, kan?! Curang! Huuu, curang!"


"Apa lo bilang?!"


Juwita mengejek dia, tapi diam-diam meringis kesakitan.


Luar biasa. Usia enam belas tahun dia sudah bisa memukul bola sekeras itu. Juwita dulu pernah menerima pukulan bola atlet profesional—tentu bukan dalam pertandingan—dan kekuatannya hanya berbeda empat puluh persen.


Juwita pada akhirnya menemani dia bermain—bergantian saling memukul dan menerima bola.


Saat Abimanyu terkapar kelelahan melompat, Juwita datang ke sisinya, melemparkan sebotol air mineral dari kulkas.


"Kamu mau ikut turnamen di Asgard, iya kan?"


Abimanyu mendengkus. Tapi masih mau membalas, "Papa yang bilang?"


"Waktu turnamen nasional kan bukan sekarang. Cuma dua turnamen terkenal yang semua orang pada ikutan, kan?"


Popularitas didapatkan dari nama sekolah Asgard sebagai sekolah terbaik di negeri ini, dan uang didapatkan dari hadiah memenangkan turnamen. Kalau tidak salah, juara satu dari tim sekolah mana pun, masing-masing pemainnya akan diberi uang tunai seratus juta.


Karena adanya iming-iming hadiah itu, setiap sekolah di seluruh negeri berlomba-lomba meningkatkan kemampuan mereka agar bisa ikut dalam pertandingan.


Nampaknya anak ini tidak bermain karena uang, melainkan popularitas. Dia ingin diakui, dikenal karena dia hebat, dan cara membuktikan itu mau tak mau adalah ikut turnamen berkelas.


"Kamu ... sebenernya udah tau kamu hebat, kan?" Juwita mencondongkan tubuh pada bocah itu, sangat suka melihat dia sebal mau dalam kondisi apa pun.


Mukanya dia memang tipe muka galak, sepertinya.


"Kamu udah tau kamu hebat, tapi kamu enggak puas kalau orang lain enggak bilang kamu hebat. Bocah banget, deh."

__ADS_1


"Berisik." Abimanyu menyahut kasar. "Orang yang jual diri enggak usah sok tau."


Juwita tertegun. Tidak menyangka Abimanyu akan mengatakan hal semacam itu.


Tatapan Juwita agak meredup, tapi segera ia menggeleng. "Padahal aku mau bilang kamu udah bener."


"Hah?"


"Enggak ada salahnya mau diakuin hebat. Dan egois, yah, siapa sih yang enggak? Apalagi kalo hebat kayak kamu."


Abimanyu mengerjap. Langsung mendongak ketika Juwita beranjak. "Maksud lo?"


"Apa lagi? Maksud aku, kamu udah bener. Yang jadi masalah, kok biarpun kamu udah bener, masih aja kamu gagal? Berarti ada yang salah, dong? Teng-tong, apakah itu?"


Juwita tersenyum teduh.


"Jadi egois sama kemampuan kita bukan berarti enggak bisa akrab sama orang payah, kan?"


"...."


"Anggep aja kamu minjem bus butut orang. Tujuannya bukan numpang bus sampe tujuan, tapi cuma sampe mobil lamborghini kamu yang parkirkan dua puluh kilometer dari tempat kamu berdiri sekarang. Bukan buat menang, tapi buat nemuin mana tempat kamu yang sebenernya bisa menang."


Juwita mengedipkan sebelah mata, berlalh pergi untuk mandi.


Ekspresinya yang sempat santai langsung berubah masam, karena jelas tak melewatkan ucapan Abimanyu.


Orang yang jual diri, kah?


Anak itu benar-benar berbakat menyakiti hati orang.

__ADS_1


...*...


__ADS_2