
Cetta baru benar-benar bisa diletakkan justru ketika Abimanyu selesai main bola, dan Banyu sudah tidur pulas. Juwita memastikan Cetta tidak lagi bergerak gelisah atau mau menangis, baru ia keluar, mematikan semua lampu sebelum naik ke kamar.
"Cetta kenapa?" tanya Adji begitu Juwita muncul.
"Mau tidur sama Kakak." Juwita masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, perawatan rutin, sebelum ikut naik ke kasur. "Capek juga yah ngurus anak."
Adji berbaring menyamping. Untuk pertama kali, bisa dibilang, dia menghadap langsung pada Juwita ketika berbaring.
"Kamu butuh bantuan? Saya bisa cariin babysitter baru yang enggak kayak Mbak Uni."
"Enggak pa-pa." Juwita menatap langit-langit kamar. "Dulu, saya pernah bilang ke diri saya. Kalau nanti nikah, saya enggak mau kerja. Soalnya capek. Saya bilang, enakan di rumah santai-santai sama anak. Tapi, dua-duanya sama aja ternyata."
"Kamu mau buka toko lagi?"
"Dilarang sama Ibu. Kuncinya udah diambil sama Ayah. Katanya fokus aja ngurus rumah."
Adji mengulurkan tangan. Tak Juwita sangka dia menyentuh wajahnya, mengusap-usap pipi Juwita lembut. "Saya juga lebih seneng kamu di rumah."
Baiklah, tentu masih berlangsung, sebuah perang yang dinamakan 'Yang Baper Duluan Kalah'. Maka, Juwita berusaha terus cuek. "Kenapa?"
"Entah. Saya lebih suka kalau apa-apa kamu ngandelin saya daripada enggak. Kalau kamu kerja, kamu punya uang, kamu enggak minta uang lagi ke saya."
"Jadi boleh nih minta banyak?"
"Enggak semuanya juga."
__ADS_1
Juwita terkekeh. "Yaudah, besok saya minta."
"Enggak bakal saya kasih."
"Kok gitu?!"
Adji malah mencubut hidungnya seperti Juwita mencubit hidung Cetta. "Layanin saya dulu."
Kali ini, Juwita tak bisa menahan diri tidak tersedak. Ia langsung terduduk, berusaha keras melotot ketika wajahnya justru dirasa panas.
Kenapa bapak-bapak ini malah suka sekali menggoda setengah-setengah, sih?! Kalau dia mau kan tinggal dia lakukan!
Si*l. Dia benar-benar mau Juwita yang mulai duluan.
Ceh. Lagipula dia juga yang bakal tersiksa.
"Kamu pasti lagi mikir saya yang bakal susah?"
Dih?!
"Kamu ngeremehin umur." Adji tertawa kecil. "Emang saya yang bakal kesiksa, tapi saya juga pengalaman sama perempuan."
Bibir Juwita kaku waktu Adji duduk, tiba-tiba mendekat seperti akan menciumnya. Aroma maskulin yang terasa pekat dari pria itu memaksa Juwita menelan ludah.
"Kalian perempuan," Adji meniup bibirnya seolah pengganti kecupan, "kalo udah dirayu kan bakal nunggu diserang. Nunggu, nunggu, nunggu, sampe enggak sabar kalo enggak buru-buru."
__ADS_1
Juwita buru-buru menarik diri, berbaring membelakangi Adji yang tergelak. "Itu barusan pelecahan seksual! Sama pelecehan gender!"
"Hubungan suami istri kan emang ranah pelecehan yang direstuin agama sama hukum. Kamu mau ngadu ke mana?"
Juwita menggigit selimut saking gemas dengan Adji.
Dia ini selalu datar tapi setiap jawaban lempengnya sudah cukup membuat Juwita ketar-ketir.
"Yaudah kalau enggak mau. Terserah."
Adji berbaring lagi, tak membalas Juwita.
Sejenak itu hanya hening, membuat Juwita berpikir dia pun sudah tidur. Tapi saat ia berbalik, Adji ternyata sedang tersenyum melihatnya.
"Saya lupa bilang ke kamu."
"Apa?"
"Ada aturan di ranjang saya." Adji berbaring telentang, terlihat sangat menikmati pikirannya sendiri. "Makin saya puas, makin saya manjain istri saya. Itu aturan mutlak."
Juwita bingung mau menggetok kepalanya atau menendang bokongnya.
"Ya kalo kamu enggak mau sih terserah kamu." Lalu dia berbalik, tertidur meninggalkan Juwita yang sebal.
*
__ADS_1