
Tapi Juwita juga bukan orang bodoh.
Logikanya, sejak kapan orang dengan gangguan jiwa bisa kabur dari kejaran polisi berhari-hari?
Dia kan tidak waras. Masa polisi yang waras tidak bisa menemukan sama sekali? Apalagi dengan bantuan Adji dan uangnya yang bisa membayar orang sebatalion.
Juwita langsung paham Adji berusaha menyembunyikan. Tapi Juwita tidak menuntut, memilih pergi ke dua bocah andalannya.
Pertama, Juwita harus mendapatkan ponsel dulu.
"Heh, aku cerita ke kalian bukan buat begini, yah."
Juwita menarik lengan Abimanyu agar memberikan ponselnya.
"Sini. Aku liat juga." Dia ngotot sekali menyembunyikan.
"Enggak usah."
"Abi, please."
Abimanyu terus menarik ponsel itu menjauh, tapi akhirnya kalah dari raut serius Juwita.
Mereka duduk begitu saja di atas semen lapangan, sedangkan Banyu berdiri di belakang, melihat dari atas.
"Ini kenapa Bang Adit—"
"Itu palsu." Banyu menyela cepat. "Adit senior lo udah klarifikasi, itu nomornya bukan dia."
"Hah?"
"Menurut gue itu temen lama lo."
Juwita terperangah. "Aku perasaan enggak temenan sama cewek yang model begini, deh. Sumpah."
Model-model sok cantik, ngegas pada urusan orang dan merasa harus menentukan begini sih banyak, tapi Juwita tidak pernah menjadikan mereka teman.
Teman tuh yang bikin waras, serius, bukan yang malah bikin tambah gila.
"Terus dari mana dia tau lo sama Adit kenal? Sampe dia nyamar jadi Adit, tau lo dulu suka sama dia, dia suka sama lo."
Juwita menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Apalagi
__ADS_1
waktu membuka chat horor itu, isinya semakin brutal dan tidak kenal adab.
Teman lama yang tahu soal Adit, lalu membenci Juwita. Siapa, yah? Juwita benar-benar merasa tidak ada teman dekatnya begitu.
"Aku enggak inget siapa-siapa."
"Pasti ada. Lonya yang enggak curiga."
Juwita sumpah tidak bisa memikirkan siapa pun.
"Lagian paling jauh tuh aku diomongin miring doang. Enggak pernah sampe begini. Demi Tuhan, deh, enggak pernah."
Lagian Juwita malah yakin ini ada hubungannya dengan Adji. Seseorang yang nampaknya merasa terganggu karena Adji menikahi Juwita padahal dia yang mau mengambil posisi itu.
"Ck."
Melihat Juwita mulai pusing, Abimanyu merebut handphone itu lagi. "Udah gue bilang enggak usah liat."
Tapi Juwita terlalu sibuk berpikir, coba mengingat-ingat.
Musuh sih Juwita pasti ada. Cuma bukan musuh yang urusannya menyangkut Adit.
"Juwitaaa!" teriak Adji dari dalam rumah.
Abimanyu beranjak. "Udah jam sembilan. Psikolog nyuruh lo tidur sebelum jam sepuluh. Buruan sana."
"Emang aku anak kecil!"
Tapi Adji memanggilnya, memang buat menyuruh Juwita tidur sesuai saran psikolog.
Juwita berdecak, patuh untuk masuk dan naik bersama Adji.
Mama dan Papa-nya Adji tidur lebih awal, masih jetlag karena perjalanan panjang.
Juwita berbaring di kasur setelah melakukan serangkaian kewajiban wanita di kamar mandi, masuk ke pelukan Adji.
"Besok saya jemput Ayah sama Ibu ke sini. Nginep sekalian ngumpul sama Mama saya."
"Hm."
"Kamu enggak usah ikut. Di rumah aja. Anak-anak besok saya suruh sekolah, jadi baik-baik di rumah sama Mama."
__ADS_1
"Hm."
Adji menunduk. "Kamu kenapa?"
Sedang sibuk memikirkan siapa musuhnya yang sebrutal itu, sekurang kerjaan itu, seantagonis itu sampai bukan cuma meneror, dia bahkan membayar orang memukul Juwita.
Ayo coba pikirkan siapa. Siapa? Siapa? Siapa?
"Kamu disuruh tidur malah ngerut-ngerut mikir. Tidur, Juwita. Atau saya kangkangin, nih."
Biasanya Juwita ketawa, tapi pikirannya terlalu sibuk berselancar.
Pokoknya besok Juwita harus tahu orang itu. Atau setidaknya mengumpulkan satu dua kemungkinan.
"Sayang."
"Hm?"
Adji menarik paksa dagu Juwita. "Tidur. Orang tidur tutup mata bukan sibuk ngerutin alis."
Bukannya menjawab, Juwita malah memandangi Adji.
Feeling Juwita masih berkata itu ada hubungannya dengan Adji. Karena Adji. Bagaimana yah caranya tahu?
"Apa? Mau jatah? Saya mah hayo." Adji mencubit bibirnya gemas. "Hm? Mau?"
Juwita menggigit tangan Adji. "Mau minta sesuatu."
"Jatah? Uang?"
"Ya dua-duanya, tambah satu lagi." Juwita hanya spontan memikirkan ini. "Aku mau ikut kamu ke kantor."
"Hah?"
"Iya. Lagian aku masih enggak enak ditinggal sama Mama kamu. Nanti kalau ada Ibu, baru enggak pa-pa. Yah, yah? Pleaseeeeeeee?"
Muka Juwita yang đŸ˜¥ bikin Adji meneguk ludah tak berdaya. Memang gadis muda bermuka manja susah ditolak.
"Yaudah."
*
__ADS_1