
"Kamu mau aku apa sebenernya, Bi? Hm? Aku sebenernya mesti gimana?" Juwita menyeka air matanya, tak bisa lagi menahan rasa sesak itu berhadapan dengan semua drama menjengkelkan ini.
Iya, Juwita tahu kalau anak ini memang lagi tidak waras. Juwita berusaha paham dan berusaha buat menghadapinya sebagai orang waras, karena menyuruh orang tidak waras jadi waras itu sia-sia.
Kalau bisa semudah itu, dokter jiwa dari awal tidak dibutuhkan.
Tapi dada Juwita sesak. Di sini Abimanyu begini, di sana Adji begitu, di mana-mana Juwita jadi sasaran seakan-akan Juwita memaksa semua orang buat jadi buruk.
Apa pernah? Apa pernah sekali saja Juwita menyuruh mereka ribut? Apa pernah satu saja kalimat Juwita keluar biar mereka bertengkar?
"Kamu mau aku pergi?" tanya Juwita lagi, di antara tangisannya.
Di sisi lain sudah terlihat Mbak Ria menonton, bersama suaminya yang melihat Juwita prihatin.
"Kamu mau aku ngilang? Menurut kamu aku gitu yang bikin kalian begini? Menurut kamu gara-gara aku makanya kalian kacau begini? Kalau kamu mau aku pergi, Bi, bilang yang jelas."
Abimanyu terdiam.
"Bilang sama aku sini. Pulang ke rumah, bilang ke Papamu, bilang yang jelas ke dia kalau aku bikin kamu enggak betah di rumah. Enggak bakal Papamu milih aku daripada kalian. Enggak mungkin. Bilang sama dia, jangan kayak gini."
Juwita menekan keningnya ke kusen pintu, menangis sampai dadanya kembang kepis. Kepalanya sakit, pusing luar biasa dan mual.
__ADS_1
Tapi kalau tidak menahan, Juwita merasa bisa ikutan gila dengan semua orang.
"Selalu aku yang kena," isak Juwita tanpa sadar. "Kamu begini, aku yang kena. Aku enggak becus jadi kamu marah, ninggalin rumah. Kamu dikeluarin dari sekolah, Papamu yang pergi ke sekolah minta kamu di-Do, aku juga yang kena."
"...."
"Aku yang dibilang nyuruh Papamu berhentiin kamu. Karena aku enggak becus ngurus keluarga, karena yang aku incer cuma duit Papamu, jadi kamu mesti jadi pengangguran biar uang Papamu ke aku semua."
Juwita sudah tidak sadar kalau ia memuntahkan perasaan jujurnya.
"Aku enggak pernah minta Papamu dateng ke aku. Kamu denger yah, aku enggak kenal siapa Papamu waktu dia dateng. Aku enggak tau nama dia Adji, aku enggak tau dia punya anak, aku enggak tau sama sekali sama kalian semua!"
"Aku nerima Papamu emang karena uang. Aku enggak tau lagi mesti gimana, Ibu mesti operasi, aku enggak mau Ibu kenapa-napa jadi aku nikah sama dia biarpun anaknya tiga, biarpun umurnya jauh dari aku, biarpun semua orang ngomongin aku ngel*nte."
"...."
"Terus sekarang apa, hah? Sekarang apa? Aku mesti nyuruh Papamu ngusir Banyu sama Cetta juga? Biar aku bikin anakku sendiri, lupain kalian semua yang nyusahin? Kamu kira aku sudi begini? Kamu kira aku mau ngemis begini? Kamu kira aku enggak malu di sini?"
Juwita menggosok kasar matanya. Memalingkan wajah dari kamar itu, dari Abimanyu yang membalik badannya agar tak terlihat sedang menangis.
"Kamu capek sama keadaan, iya aku tau. Cuma aku juga, Bi. Aku enggak ngapa-ngapain semua orang benci. Aku di sini aja semua orang enggak suka."
__ADS_1
Dan Juwita pikir setidaknya di keluarga mereka, di keluarga yang ditinggalkan Melisa pada Juwita, setidaknya mereka berteman.
Mereka saling paham rasanya tersudut oleh opini tak berotak kubu sebelah. Kemarin-kemarin mereka memang bertengkar, tapi kan pelan-pelan saling menerima.
Lalu ternyata dia masih melakukan ini, seolah masih tidak puas pada Juwita.
"Aku enggak maksa kamu lagi."
Juwita menggigit bibirnya yang bergetar oleh emosi.
"Ayo pulang. Kamu pulang, aku pergi. Jangan bikin susah Papamu. Kasian dia udah capek kerja. Dia itu sayang sama kamu. Emang susah aja dia jujur."
Meski Abimanyu tidak membalas, Juwita berlalu. Membawa mobilnya pergi untuk pulang.
Juwita tidak langsung mengatakan pada Adji bahwa ia mau pergi, mau berpisah saja karena sepertinya keadaan tidak mengizinkan mereka bersatu terlalu lama.
Tapi keputusan Juwita sudah bulat, menganggap anak-anak Melisa juga keluarganya akan jauh lebih bahagia kalau Juwita hengkang.
Tempat ini tidak menerima Juwita. Ia tak bisa memaksa lagi kalau mereka tidak suka melihatnya.
*
__ADS_1