
Adji tidak membela diri kalau seseorang bilang ini salahnya. Karena memang Adji akui ia pernah selingkuh.
Atas kesadaran dan kemauannya sendiri.
Tapi Adji bersumpah hal yang dulu ia nikmati itu dosa yang paling ia sesali. Sampai kadang-kadang Adji takut jika punya anak perempuan, anak perempuannya diselingkuhi setelah menikah, atau mungkin anak laki-lakinya yang juga selingkuh setelah menikah.
Adji menyesalinya dan berusaha menghindari. Cukup sekali, cukup saat umurnya masih umur gila-gila.
Masalahnya kenapa Juwita yang harus terkena masalah?
Juwita tak ada hubungan sama sekali dengan urusan lama Adji.
"Papa, Kakak kenapa tidur terus?" Cetta duduk di dekat ranjang Juwita, cemberut dengan wajah lesu. "Cetta mau pulang sama Kakak."
"Juwita lagi istirahat, Nak."
Adji merasa tertusuk akan suasana sendu di sekeliling anaknya.
Padahal mereka mulai sembuh dengan Juwita, tapi rusak karena masalah Adji.
"Kok Kakak masuk rumah sakit terus? Kayak Mama dulu."
"...."
"Kakak marah yah Cetta pelihara Pika? Atau karena Mimi?"
Adji menarik napas panjang, cuma bisa mengelus kepala Cetta.
Seisi ruangan itu hening. Abimanyu dan Banyu juga masing-masing cuma menidurkan kepala mereka di dekat tangan Juwita, istirahat sambil berharap Juwita cepat bangun.
Saat Adji bermaksud memindahkan Cetta yang juga sudah tidur di sana, mendadak Abimanyu terlonjak.
Anak itu tiba-tiba berdiri.
__ADS_1
"Juwita?" Dia mengecek Juwita seperti panik. "Juwita, lo denger?"
"Kenapa?" tanya Adji yang ikut terkejut.
"Tangannya gerak." Abimanyu menekan-nekan tangan Juwita berharap dia merasakan sakit atau apa pun yang menyentak kesadarannya. "Juwita."
Adji mengambil alih tempat di sisi Banyu sedangkan anak itu bergegas memanggil dokter.
Anaknya tak bohong. Tangan Juwita bergerak samar di tangan Adji, pelan-pelan tampak merespons panggilan Abimanyu.
Saat perlahan kelopak mata Juwita terbuka, kelegaan luar biasa menghantam Adji.
...*...
Kondisi Juwita disebut belum stabil, namun perlahan-lahan ia merasa baik. Rasanya menakutkan ketika terakhir kali menutup mata.
Sampai Juwita sendiri merasa mungkin ia tak akan selamat.
"Kenapa malah kalian yang nangis?" kata Juwita lemah, mengusap-usap kepala dua putranya Melisa.
Ini begitu berbeda dari apa yang awal Juwita lihat. Mereka brengsekk, melihat Juwita sebagai penjahat lalu bertingkah kurang ajar. Namun sekarang?
Ini seperti menyiratkan Juwita adalah bagian dari ketenangan hidup mereka. Keduanya menangis khawatir.
"Aku enggak pa-pa." Juwita berusaha menenangkan mereka. "Kalian udah makan, kan? Ini rambut kenapa kayak enggak pernah kenal air sama sampo? Entar aku dikomentarin lagi, loh. Dibilang enggak ngurusin anak tiriku."
Keduanya cuma mengusap air mata mereka ke lengan baju, bahkan tidak membalas.
Tangan Juwita masing-masing di tangan mereka, seolah tak mau melepaskan.
Juwita melihat Cetta malah murung di gendongan Adji.
Pria itu menunduk, membenamkan kecupan kecil di hidungnya lalu mengarahkan Cetta agar Juwita bisa menciumnya.
__ADS_1
"Muach. Rindu aku sama kamu. Kenapa, Pikachu? Belum disawer sama Papa?"
Dia malah memeluk leher Adji, menyembunyikan wajahnya yang terlihat sangat sedih.
Terlepas dari apa yang terjadi, Juwita mensyukuri keluarga yang Tuhan berikan padanya ini. Mereka menganggap Juwita sangat berarti dan mau menangis untuknya.
Esok paginya Abimanyu dan Banyu terpaksa harus menepi, karena Ibu dan Ayah datang menjenguk Juwita.
Waktu Ibu menangis, Juwita merasakan sesuatu di dadanya terbakar.
Juwita berjuang keras. Berjuang sangat amat keras agar Ibu berhenti susah, berhenti menangis, berhenti khawatir.
Tapi karena satu hal yang bahkan Juwita tidak tahu pasti, orang itu menghancurkannya.
Dan dia pikir Juwita akan diam? Dia pikir Juwita akan membiarkan dia melakukan hal bodoh ini berulang-ulang?
Jangan bercanda. Juwita sudah cukup tololl berpikir dia orang waras. Ternyata tidak.
"Maafin saya." Adji bergumam saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Dia mengakui kalau itu perbuatan selingkuhannya, atau bisa dibilang mantan selingkuhannya.
Wanita itu sekarang sudah diawasi, tapi Adji menunda penangkapannya karena menunggu Juwita.
Begitu mendengarnya, Juwita serasa mau meremukkan tulang-tulang manusia.
Jadi ceritanya ini sama sekali bukan urusan Juwita? Ia dipukul dua kali, demi Tuhan, untuk hal yang bukan urusannya?
Tenang, Wi. Juwita menarik napas panjang. Tenang. Manusia halal dibunuh kalo dia mau ngebunuh juga.
Kayaknya dunia harus mengenal sebuah penemuan baru bernama Rempeyek Manusia. Oh, Rempeyek Pelakor.
*
__ADS_1