Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
138. Yang Kena Surprise Malah Adji


__ADS_3

Walaupun sempat terjadi keributan, Mama memberitahu Adji untuk naik saja dan nikmati waktunya bersama Juwita, tanpa memusingkan persoalan apa-apa.


Karena itu lebih mudah dilakukan, ya itulah yang Adji lakukan.


Adji mengajak Juwita ke kamar yang sudah Adji siapkan, dihiasi oleh sejumlah besar hiasan khas kamar pengantin baru.


Tapi waktu melihat Juwita di sampingnya, Adji merasa ada yang kurang.


Reaksi Juwita belum terlihat baper sungguhan. Dia malah lebih tersentuh waktu Abimanyu, Banyu dan Cetta memutar rekaman itu di depan tamu undangan.


Walau itu salah satu hal paling membahagiakan buat Adji, masa satupun momen ia tak bisa membuat Juwita bersemu?


Juwita malah lebih sering marah dan kesal pada kelakuan Adji.


Kata Melisa dulu, semua perempuan suka keromantisan, walau tidak semua jenis perilaku bisa dianggap romantis oleh wanita.


Kalau Juwita suka apa, yah?


"Aku izin hapus make up dulu yah, Mas."


Juwita mau masuk ke kamar mandi tapi buru-buru Adji menahan tangannya. "Saya bantu."


Wanita itu mengerjap, tersenyum kecil. "Yaudah."


Adji menuntun Juwita masuk ke kamar mandi, membiarkan dia duduk sementara Adji berdiri di belakangnya.


Dia menuangkan cairan pembersih ke kapas sementara Adji melepaskan satu per satu riasan di kepala Juwita, berikut jepitan yang membuat semuanya terlihat sangat kaku.


Satu per satu, perlahan-lahan Adji lepaskan tanpa sedikitpun menyakiti Juwita.


"Kamu seneng?"


"Apanya?"


"Pestanya."


"Enggak."


Adji melotot kaget.


Malah ditertawakan oleh Juwita. "Aku enggak seneng sama pestanya, tapi seneng sama kamu, sama anak-anak juga. Aku enggak suka pesta soalnya, Mas."


Oh. Hampir saja Adji menangis membuang-buang uangnya tanpa guna.


Tidak lucu kalau Juwita malah tidak bahagia sama sekali.


"Saya masih nyiapin satu pesta lagi."

__ADS_1


"Lah, ada lagi?"


"Buat keluarga kamu. Hari ini dominan keluarga saya yang hadir."


Adji mengusap-usap kepala Juwita waktu dia mendongak, menatap Adji dari pantulan cermin.


"Saya bikin pesta cuma buat bilang ke semua orang kalau kamu diterima di keluarga saya. Makanya anak-anak bikin kejutan kayak gitu."


Ini adalah cara Adji menyelesaikan masalah tanpa terlihat norak. Adji benar-benar tak suka ikut menurunkan levelnya buat marah-marah ke orang lain karena mereka menghina.


Biarlah mereka hina sendiri. Kalau Adji ikutan, berarti ia hina juga.


Memamerkan Juwita di depan semua orang sebagai bagian dari keluarga, terutama yang disayangi oleh anak-anak adalah cara Adji buat bilang 'jangan banyak bacott'.


Keluarga Adji saja terima, masa mereka orang asing tidak terima?


"Kalo gitu kan udah." Juwita malah menggerutu. "Mas, aku serius enggak enak. Kamu keluar uang terus gara-gara aku. Kamu ngasih terus, aku enggak pernah ngasih apa-apa. Jangan kayak gitu."


"Kalo mau ngasih saya, kasih aja jatah. Saya udah seneng."


"Mas, aku serius!"


Lah, memang Adji tidak? Jatah dari istrinya itu jauh lebih penting daripada yang lain.


"Saya tetep mau bikin." Adji menunduk, mengecup puncak kepala Juwita. "Saya mau balikin reputasi saya di mata keluarga kamu."


"Lagian kalo enggak gitu, nanti orang pada ngira saya sama kamu beneran bakal cerai. Kamu kan bilang mau nikah lagi habis cerai."


Juwita langsung terkesiap, tidak menyangka Adji tahu.


"Sa-salah kamu juga bikin aku ngira mau cerai!" sangkal Juwita, pokoknya tidak terima kalau disalahkan. "Harusnya kamu enggak ngomong gitu. Aku orangnya kalo udah disuruh pergi nanti pergi beneran."


"Emang saya pernah nyuruh kamu pergi?"


"Ya tetep aja kamu bikin salah paham!"


"Kok malah jadi saya?"


"Masa salah aku?!"


Ini kenapa jadi ribut?


Adji mencubit pipi Juwita, yang justri membuat bedaknya langsung bergeser parah.


Dia terpekik, sementara Adji yang melihatnya tertawa keras.


Adji bingung mau berbuat romantis apa, jadi sekalian saja ia buat Juwita berteriak histeris. Soalnya memang lebih seru melihat dia begini.

__ADS_1


Kapas yang dia pakai membersihkan make up-nya hati-hati Adji gosokkan asal ke mukanya.


Jelas Juwita malah semakin teriak.


Muka Juwita yang cemong langsung jadi bahan tertawaan Adji.


"Mas, kamu mah!"


Adji masih tertawa, tapi tangannya meraih Juwita, memeluk badan perempuan kesayangannya itu.


"Saya enggak bakal ninggalin kamu sampe saya bilang langsung kalau saya mau ninggalin kamu."


Adji mengusap-usap punggung Juwita, yang beberapa hari ini hilang dari usapannya karena dia ngambek.


"Jadi kalau saya belum bilang, jangan pernah mikir saya mau ninggalin kamu."


Juwita diam, tapi hanya sesaat setelah itu, badannya bergetar.


Tangisannya mendadak pecah mengingat hari-hari singkat nan menyiksa di mana dia berpikir Adji bakal pergi.


Itu sangat menakutkan sampai Juwita pikir langit runtuh dari atasnya secara langsung.


"Aku takut." Juwita terisak. "Aku takut kamu beneran mau pisah."


Adji tersenyum.


Menunduk, mengecup sudut mata Juwita yang mengeluarkan air mata.


"Kalau kamu takut saya ninggalin kamu, langsung dateng ke saya. Saya bakal langsung peluk kamu, biar kamu liat kali saya enggak bisa lepas dari kamu."


"Bener?"


"Bener."


Juwita buru-buru melingkarkan tangan ke punggung Adji, memeluknya erat.


Pokoknya sekarang dia punya Juwita, dan tidak bakal ia biarkan perasaan takut berpisah itu datang lagi.


"Ohiya, Mas. Aku mau ngasih tau kamu."


"Kamu sayang banget sama saya? Udah tau, sih."


"Dih, geer." Juwita menyengir. "Aku hamil."


Yang kena surprise ternyata malah Adji.


*

__ADS_1


__ADS_2