Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
110. Kamu Salah Orang


__ADS_3

Memang biasanya ada orang macam itu.


Sudah tahu salah, bukannya berusaha berubah, dia justru makin berbuat salah, makin berbuat gila, karena berpikir bahwa dia sudah terlanjur kotor.


Pepatahnya, terlanjur basah, mandi sekalian.


Terlanjur buat dosa, jadi setan saja sekalian. Atau masuk neraka saja sekalian.


"Aku kayaknya mau kamu inget satu hal baik-baik, Bocah."


Juwita menepuk bahu Abimanyu, mendorongnya mundur dari jarak tidak pantas itu.


"Aku enggak minta kamu percaya karena aku nyelametin kalian."


"...."


"Buat Mama kamu, aku mungkin kayak penyelamat. Orang yang kalau enggak nekat, adek kamu bisa enggak ada. Aku superhero. Tapi denger baik-baik," tegas Juwita, menepuk-nepuk bahunya dia biar sadar.


"Aku, di sini, karena aku, istri Papamu. Bukan karena aku mau nyelametin kalian, bukan karena aku mau jadi superhero kalian, atau mau jadi mama kalian."


Juwita menunjuk dirinya sendiri. Di depan mata Abimanyu.


"Aku ya aku. Dan setau aku, aku ini, Juwita Padmavati enggak punya hobi ngadu ayam, ngadu kambing, atau ngadu domba, atau ngadu manusia. Hobiku cuma jailin Cetta. Jadi kalau kamu ngerasa aku hobi gosipin kamu di belakang—"


Juwita menepuk-nepuk pipi Abimanyu seakan lagi membangunkan dia.


"—kamu salah orang."


Juwita beranjak pergi dari kamar itu. Menarik pintu terbuka, lalu menutupnya kencang.


Emosi Juwita sebenarnya membara, tapi berusaha keras buat ia tahan, karena yang terpenting adalah Abimanyu paham.


Sudahlah. Memang anak kecil hobinya begitu, kan?


Dia salah, dia menyalahkan. Dia berbuat salah, dia tidak mau disalahkan. Dia disalahkan, dia bakal balik menyalahkan.

__ADS_1


Jadi stop berharap pada logika tidak sempurna.


"Pikachu, kamu mau es krim enggak?" Juwita mengalihkan kemarahan pada kegiatan positif saja, seperti mengajak Cetta bicara.


Biarpun otak anak ini juga belum sempurna, tapi dia juga belum dilahap oleh hormon remaja.


"Cetta mau!"


Macam kodok baru keluar sawah, dia muncul dengan baju basah dan bau amis.


Oh, jangan lupakan cengiran tak berdosanya.


"Ckckck." Juwita geleng-geleng.


Memang anaknya Melisa semua luar biasa. Mukanya dicetak premium, otaknya dicetak blur.


"Sini kamu."


Cetta datang, mengotori lantai yang Juwita sudah bersihkan capek-capek.


"Habis ngapain kamu?" tanya Juwita, berusaha tidak bertanduk.


"Main."


"Main apa sampe basah-basahan?"


"Cetta berenang sama Mimi," jawab dia santuy.


Begitu santuy buat peduli kalau Juwita harus encok mengepel lantai.


"Apa kubilang sama kamu tadi?" Juwita masih berusaha menegur baik-baik.


"Hati-hati."


"Terus kenapa berenang?"

__ADS_1


"Cetta hati-hati berenangnya. Soalnya kolam Mimi enggak dalem. Cuma sampe betis."


Anakmu mau kujual ke tukang sampah boleh enggak sih, Kak? Pliiiis banget.


Hadeh. Maksud Juwita hati-hati tuh ya jangan mengotori badannya, jangan basah-basahan, jangan malah nyemplung ke tempat tidurnya Mimi.


Bisa tidak sih dia ini berpikir normal? Waras sedikit bisa tidak? Tidak dia, tidak Abimanyu, tidak Banyu, semuanya bikin greget.


"Kakak, Cetta mau es krim. Katanya mau kasih es krim."


Juwita pusing. Yang satu begini, yang satu begitu. Ini syukur-syukur nih kalau Banyu pulang baik-baik. Kalau dia pulang dengan masalah pula, tiga-tiganya Juwita obral murah.


Kalau perlu gratis.


Gratis, demi Tuhan, ambil saja.


"Cetta mau es krim?" Juwita mengulas senyum lembut


Harus sabar. Harus cantik. Biar tidak cepat keriput.


"Hmmmm, boleh, boleh. Tapiiiiiii—"


Cetta mengerjap penuh harap..


"Cetta bantuin aku beres-beres. Pertama, mandi yang bersih, baru pel lantai, baru makan es krim."


"Oke!"


Tahu sih Juwita kalau anak itu mengepel pasti cuma buat dikerjakan dua kali—yang pertama dia, yang kedua Juwita, karena yang pertama tidak bersih.


Tapi setidaknya Juwita harus mengajari dia buat membersihkan kekacauan yang dia buat.


Lagian Juwita ogah membersihkan air bekasnya Mimi.


Hih, menjijikan.

__ADS_1


*


__ADS_2