
Baru hari ini Juwita mengajak bicara ART barunya tentang peraturan rumah, lalu setelah itu ia berencana pergi menjemput anak-anaknya. Tapi sebelum pembicaraan terjadi, Adji mendatangkan ART baru lagi.
"Mas?"
Adji beralasan kalau rumah ini terlalu besar untuk diurus satu ART saja, juga agar Juwita kedepan tidak perlu lagi mengurus urusan rumah tangga selain mengurus anak. Juwita tahu ada alasan lain, tapi ia diam, mulai membuat peraturan.
"Oke, Mbak Icha, Mbak Sumi, tugas kalian cuma rumah." Juwita harus menegaskan itu dulu. "Bersih-bersih, termasuk cuci piring, nyapu termasuk halaman, bantu belanja juga seminggu sekali. Cukup. Itu aja. Anak-anak saya enggak usah diurusin. Tolong, itu penting. Anak-anak saya, yang cowok, yang cewek, sedikitpun bukan tanggung jawab Mbak sekalian. Boleh kalau mau bantuin ngambil sesuatu, tapi nyuapin, nasehatin, segala sesuatu tolong lempar ke saya."
Juwita sudah trauma mempercayai orang lain perihal anaknya jadi ia benar-benar harus menekan ini. Bahkan sebenarnya Juwita masih kurang nyaman punya pembantu di rumah, namun apa boleh buat jika ia butuh.
Sekalipun mereka baik, Juwita tetap merasa khawatir.
"Masak juga urusan saya. Area yang enggak boleh dimasukin itu kamar saya, kamar anak-anak. Sisanya tolong bantu handle."
"Iya, Bu."
"Dan saya enggak suka gosip." Juwita menatap keduanya tegas. "Jadi apa pun di rumah ini, APA PUN, tolong simpen sendiri. Berbagi informasi soal keluarga ini enggak saya tolerir yah, Mbak. Apa pun alasannya enggak. Paham?"
"Iya, Bu."
"Good." Juwita beranjak, meraih tasnya sebelum ia menyusul Adji yang sudah lebih dulu keluar.
Juwita menarik pintu mobil terbuka, duduk seraya menarik napas panjang.
"Mas udah lama enggak komentar soal ini." Adji mulai mengeluarkan mobil dari halaman. "Kamu punya bakat handle orang, Sayang. Kamu orangnya enggak enakan tapi kalo harus tegas ya kamu tegas."
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba muji?" balas Juwita curiga. "Tapi makasih."
"Siapa tau kamu mau kerja." Adji menoleh. "Daripada di rumah terus, kamu banyak pikiran."
Juwita dengan tegas menggeleng. "Aku enggak bisa nitipin anak-anak ke siapa pun, kecuali Ibu sama Mama, itupun kepaksa."
Bibir Adji malah tersenyum. Adji selalu menyukai sisi Juwita yang ini. Ketika orang lain merasa bisa melakukan keduanya, berkarier sambil mengurus anak, Juwita malah dengan tegas membatasi diri, karena dia mau selalu ada buat anaknya.
Itu menunjukkan prioritas Juwita selalu pada keluarga dan itu membuat Adji tidak bisa berhenti percaya padanya. Padahal kalau Juwita mau, dia bisa mulai berbisnis dengan bantuan Adji, menjadi seorang wanita hebat yang dipanggil bos oleh banyak orang.
Tapi dia memilih dipanggil Ibu saja.
"Juwita." Adji merasa harus mengatakan ini. "Kamu lebih hebat dari yang kamu pikirin."
Jadi lain kali lebih percaya dirilah alih-alih merasa dia harus mengambil keputusan menyakitkan.
*
Juwita membiarkan tubuhnya terjungkal ke belakang, sampai nyaris berbaring di halaman rumah orang tuanya gara-gara Nia dan Lila berlari menerjang. Tentu saja, si bungsu juga ikut. Terlambat menyusul tapi buru-buru naik ke atas Juwita seolah dirinya ini kuda-kudaan.
Juwita tertawa geli. "Oke, oke, guys. Oke, kalian mau tanda tangan sama foto, yah? Oke, sabar yau. Antri."
Empat lengan secara bersamaan memeluk lehernya dan pipinya mendapat serangan bibir. Juwita menjerit histeris seolah-olah ciuman anaknya itu gigitan zombie, namun mereka malah tertawa.
Melihat mereka tertawa, Yunia secara sepihak menganggapnya bermain. Anak itu ikut mencium Juwita, membuat wajah nya sekarang penuh bekas ciuman.
__ADS_1
"Mas, tolongin! Tolongin, woi!"
Adji terkekeh. Ikut berjongkok dan seketika Lila dan Nia memeluknya, meninggalkan Juwita.
"Papa!"
Cuma Yunia yang setia memeluk Juwita.
"Halo, Bocahku." Juwita ganti mencium wajahnya. "Sehat kamu, Nak? Hm? Sehat kamu kan? Enggak dibikin gila sama Opa Bima, kan?"
"Sembarangan Opa!" Bima datang, langsung protes. "Panggil Eyang," lanjutnya penuh kebanggaan.
Lila dan Nia kompak berseru, "Eyang."
"Top. Nih kukasih dua ribu. Beli permen."
Nia menatap uang itu bengong. "Jelek," kata dia polos.
Lila memilih minta pada Adji saja. "Papa, uang."
Juwita mendelik. "Heh! Itu dompet pribadi Ibu! Enggak boleh minta-minta!"
"Yaudah, Papa, Ibu minta uang titipin ke Lila."
Dari kejauhan, Banyu dan Cetta geleng-geleng melihat mereka.
__ADS_1
*