
"Kenapa, Mas?"
Adji tidak tahu mau bilang apa ketika banyak orang berkeliaran di sekitarnya. Tapi yang jelas Adji tidak sudi kalau Juwita pergi membuatkan permintaannya pria asing itu, apalagi setelah dia memanggil Juwita dengan sebutan Wiwi.
Brengsekk. Panggilan itu terdengar sangat akrab.
Harusnya Adji yang memanggil Juwita dengan sebutan itu.
"Dih, kamu kenapa sih kok diem? Kopinya diminum tuh. Aku bikinin Mas Bima susu dulu."
Adji rasanya malah tambah kesal. Mas Bima ndasnya.
Dari kejauhan Bima melihat hal itu. Awal-awal dia memiringkan wajah heran, tapi pelan-pelan paham juga.
Loh, loh, loh, cemburu yah bapak tiga anak itu?
Bima tertawa dalam hati, bergegas datang mendekati Juwita.
"Wiwi, Sayang, bikinin dulu loh Masmu ini."
Mata Adji melotot keluar. Begitu pula Juwita, walau artinya beda.
"Wawa-Wiwi-Wawa-Wiwi. Udah gue bilang sejuta kali nama gue Juwita."
"Eh, enggak boleh gitu, loh. Kualat. Buuuuu, itu Juwita masa ngomong kasar ke aku, Bu."
Apa-apaan dia memanggil kakaknya sendiri dengan sebutan ibu?! Juwita rasanya mau menendang telur Bima, tapi kicep juga karena Ibu datang.
Bima itu paling cepu. Kalau Juwita bikin ulah sedikit, dia suka melebih-lebihkan cerita ke Ibu biar Juwita dimarahi. Dan Ibu biasanya bakal lebih percaya orang sesat ini daripada Juwita.
Soalnya dia pinter bohong.
__ADS_1
"Yaudah!" Juwita menarik tangan dari Adji, pergi membuatkan susu dengan protein bubuk buat Bima.
Sedikitpun Juwita tidak sadar kalau Bima lagi memanas-manasi Adji.
Tidak tahu sih kenapa Adji bisa cemburu padanya, tapi kalau bisa jahil, ya kenapa tidak?
"Gue mau live IG ah pagi-pagi." Bima mengeluarkan HP, terus datang ke samping Juwita dan Mama. "Say hay dulu sini, cantik-cantik. Ayo Tante, sini. Wi, sini, Wi."
"Lo norak banget sih ah!"
Adji menatap panas tangan Bima di bahu Juwita, merangkul istrinya seolah tidak paham ada suami yang panas melihat itu.
Tapi Adji tidak bisa mengusik karena Mama malah ikutan, memperlihatkan masakannya sambil mengobrol dengan pria siialan itu.
Makin lama, Adji makin panas.
Kenapa tidak ada satupun yang merasa perbuatan mereka itu salah?
Perempuan itu berpaling. "Ya, Mas?"
"Sini dulu."
Adji beranjak, terus menarik tangan Juwita naik meninggalkan semua orang.
Bima sebagai pelaku yang sengaja memancing keributan rumah tangga orang langsung terbahak kencang, menjelaskan pada semua orang tentang kekonyolan apa yang tengah melanda Adji.
"Kamu nih, Bim, Bim." Ibu menggeleng atas kelakuan adiknya itu. "Kamu kalo istrimu digituin mana suka juga."
Iya betul. Makanya Bima tidak membiarkan istrinya di begitukan sembari ia melakukannya pada orang lain.
Sementara di atas, Juwita masih belum peka ada apa. Dikira ekspresi Adji serius itu ada hubungannya dengan Ajeng.
__ADS_1
Masih ada sesuatu yang perlu didiskusikan. Memang masih tertunda karena mereka berusaha tidak menekan diri masing-masing.
"Mas?"
Adji mendorong Juwita ke kamar, menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
Pipi Juwita spontan menggembung oleh ulah tangan Adji.
"Apa?" tanya Juwita lagi, karena dari tadi belum dijawab. "Apa sih, Mas? Kenapa? Kamu pengen?"
"Kamu mesra banget sama dia."
"Hah? Siapa?"
Adji sedang bete, tadi bukan menjawab, dia cuma menarik Juwita ke kasur. Membaringkan wajahnya ke dada Juwita, macam anak kecil yang tidak bisa mengatakan apa penyebab dia marah karena memang setidakjelas itu.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Juwita gemas. Mulai agak tertawa geli karena Adji bertingkah terlalu jauh dari umur. "Mas? Itu yang di bawah nungguin kita loh. Nanti dulu habis sarapan."
Adji menggigit leher Juwita. "Bodo amat."
"Mas, serius loh aku. Pada tau mereka kita ngapain. Malu ah."
"Malu kenapa?" Adji malah berekspresi seperti Cetta. "Orang nikah emang kerjanya di kamar berduaan. Masa saya udah nikah berduaan di hotel sama cewek lain? Itu baru aneh."
"Dih, nyari pembelaan. Udah, aku malu."
"Enggak usah malu." Adji menarik paksa pakaian Juwita terbuka, hingga Juwita terpekik geli. "Sini buka. Mau saya tandain satu badan."
"Gila yah kamu?!"
Adji tak mau dengar, tetap melakukan apa yang dia mau.
__ADS_1
*