
Sikap dingin Juwita itu berlanjut sampai esok dan esok harinya. Bahkan pada hari Abimanyu mengundang teman-temannya buat datang karena mereka entah bagaimana sudah dengar berita pernikahan Abimanyu, Juwita terang-terangan memasang wajah tak ramah.
Padahal biasanya Juwita akan dengan senang hati membuatkan snacks untuk teman-teman Abimanyu atau Banyu, tapi Juwita justru cuma ke dapur membuat makanan untuk anak-anaknya, juga Banyu dan Cetta, lalu naik ke atas seperti Abimanyu adalah hantu.
Abimanyu tak suka. Ia tak suka diabaikan oleh Juwita.
Maka dari itu, di saat Abimanyu punya kesempatan, anak itu langsung menarik Juwita.
"Lo enggak bisa kayak gini terus, Juwita." Abimanyu menuntut egois. "Lo yang maksa gue di rumah sekarang lo perlakuin gue seakan-akan gue enggak ada? Maksud lo apa sih?"
"Hah?" Juwita mengerutkan kening seolah-olah perkataan Abimanyu itu sulit dimengerti. "Kasih aku satu alasan kenapa aku harus baik sama kamu."
Rahang Abimanyu mengetat. "Kalo lo emang enggak seneng seenggaknya biarin gue pergi!"
"Oh, enggak bisa." Juwita menarik tangannya dari Abimanyu, tak menyembunyikan kesan jijik. "Kamu enggak punya hak bikin satu rumah senewen mikirin kamu. Satu-satunya hak kamu di sini itu cuma tetep di rumah, senewen sendiri sama pikiran kamu!"
Abimanyu menyambar paksa lengan Juwita, mendorongnya ke tembok. "Lo pikir bisa seenaknya terus sama gue?" geram Abimanyu mengancam. "Lo pikir karena lo sok jadi nyokap gue sekarang berarti gue mesti takut?"
Juwita melotot sekalipun matanya memerah dan terlihat sangat terluka. "Kamu mau apa, hah? Kamu mau bentak aku lagi? Mau teriak di muka aku biar aku takut sama kamu? Atau apa hah, Abimanyu? Mau pake lagi skill mukul bola kamu itu ke aku?"
__ADS_1
Dengan sangat tegas, Juwita menunjuk dada Abimanyu. "Inget yah, Bocah. Inget baik-baik. Kamu enggak pernah menang dari aku tiap kita tanding spike bola jadi jangan kamu mikir vuma karena aku nangis darah waktu ngelahirin, mendadak aku enggak bosa mentalin bola ke muka orang lagi."
Abimanyu tak fokus pads omongan Juwita tentang seberapa kuat dan mampunya dia melawan. Abimanyu justru menatap lekat wajahnya, bernapas dalam aroma khas darinya, terfokus pada gerakan bibirnya.
"Kamu ngapain?" Juwita semakin melotot saat Abimanyu tak menyembunyikan itu.
Namun jika dia mengeraskan suaranya sekarang satu rumah ini akan tahu. Kelemahan Juwita adalah dia benci membuat keributan yang menyebalkan. Abimanyu tahu betul itu.
Maka tanpa ragu Abimanyu menyentuh wajahnya, bernapas berat oleh kegilaan yang tak mau berhenti itu.
"Abimanyu, kamu gila?!"
"Kamu anak gila! Lepasin aku sebelum aku mukul kamu!"
Detik setelah dia mengatakannya, Abimanyu justru menggenggam paksa kedua tangan Juwita, menahannya dengan mudah di tembok.
"Lo lebih jago mukul bola, emang." Abimanyu berbisik. "Tapi dulu dan itu soal bola, Juwita."
"Abimanyu."
__ADS_1
"I love you!"
Juwita tersentak saat kedua tangan Abimanyu meninju tembok sambil tetap menggenggam tangannya. Dia bisa saja membenturkan tangan Juwita sebagai ancaman, tapi anak itu memastikan hanya tangannya yang mengenai tembok.
"I love you," bisik Abimanyu setelah bentakan tiba-tiba itu. "I love you, Juwita. I love you so much that I can't even breath. I love you."
Juwita berusaha bernapas lewat mulut, mendadak ia lupa bagaimana hidungnya bisa berfungsi.
"Gue mau lo, Juwita, biarpun lo istri Papa. Gue mau lo sampe gue rela gila buat lo. Gue mau lo, gue mau lo cuma buat gue. Plis."
Juwita mengembuskan napas berat dan menatap mata anak yang tersesat itu.
"Omongan kamu," ucap Juwita yang ingin suaranya jelas tapi justru habis, "enggak bikin kamu berubah jadi siapa-siapa buat aku."
Abimanyu mengeratkan genggamannya.
"Aku cuma bisa bilang, Bi," Juwita menarik tangannya lepas dengan mudah, "kamu bersyukur karena budaya kita enggak ngewajarin orang tua ngusir anak. Because if that so ... aku bakal minta kamu pergi ke ujung dunia sekarang juga. Sekarang juga."
Juwita mendorongnya dan berlalu.
__ADS_1
*