Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Teralihkan Sejenak


__ADS_3

Sementara Abimanyu pergi mengurus masalah pengawalan pada orang terbaik yang bisa dimintai bantuan, Adji bergegas pulang. Tangannya bahkan dingin mengingat masa-masa dulu, di mana ia harus berulang kali melihat istrinya diserang.


Demi Tuhan, Adji tak punya selingkuhan selain Ajeng. Ia bukan tipe pria yang berbuat salah lalu mengulang kesalahan itu lagi.


"Juwita."


Begitu tiba di rumah, Adji langsung memanggil nama istrinya. Tapi ternyata Juwita sedang tidur nyenyak bersama anak-anak, ditemani oleh Cetta yang bermain game dan Banyu yang menonton di iPad.


"Katanya cuma diikutin," jelas Banyu ketika Adji mengecek kalau-kalau istrinya terluka di satu tempat. "Orangnya langsung kabur ngeliat Abimanyu. Aku juga udah cek CCTV jalan di depan, emang ada orang ngikutin Juwita. Tapi mukanya ketutup."


"Perempuan laki-laki?"


"Laki-laki. Tingginya sepantaran aku, agak kurus."


Adji menelan ludahnya gelisah. Tangannya bergerak mengusap-usap kepala Juwita, berharap dia tidak mimpi buruk karena harus mengalami ini lagi.


"Abimanyu ke Mahardika buat minta pengawal." Adji menoleh pada kedua anaknya. "Kalian juga pergi. Lacak semua jejak yang kalian bisa. Kalau bisa, malem ini juga, kita harus tau siapa."


Jangan sampai seperti dulu, berlarut-larut hingga Juwita terluka dua kali. Kalau bisa, malam ini juga temukan orang yang berusaha mengikuti Juwita itu.


*

__ADS_1


Juwita terbangun akibat tepukan lembut di kepalanya yang nampak berniat membuat ia tidur lebih lama. Tapi karena sudah tidur terlalu lama, Juwita akhirnya terbangun.


Wanita itu membuka mata, menemukan Adji, entah sejak kapan, duduk memangku kepalanya.


"Mas?"


"Maaf." Adji mengelus-elus wajah Juwita. "Maaf enggak liat telfon kamu. Kamu enggak pa-pa kan, Sayang?"


Juwita mau tak mau tersenyum. Sungguh pria ini. Tak peduli bahkan jika dia terlambat, Juwita justru merasa semua selesai kalau dia sudah turun tangan.


"Mas, Mbak Icha sama Mbak Sumi, mereka aman, kan?"


"Mereka dari agensi istrinya Mahardika, Juwita. Mas enggak sembarangan bawa orang ke rumah."


"Pastiin anak-anak enggak kena apa-apa, Mas." Juwita mengusap-usap kepala Yunia. "Pastiin enggak ada apa-apa. Tolong."


"Kita cari orang itu secepatnya. Jangan khawatir." Adji menarik Juwita datang ke pelukannya, membelai lembut punggungnya yang terasa panas. "Mas enggak akan biarin kamu atau anak-anak kenapa-napa. Enggak akan pernah kayak dulu lagi."


Ya, Juwita tahu. Setidaknya di rumah ini, ia tahu ia dikelilingi oleh pelindung paling terpercaya. Baik Adji atau anak-anak tirinya. Termasuk Abimanyu.


"Tapi siapa, Mas? Kira-kira siapa?" Juwita bergumam di leher Adji. "Ada orang dendam sama kamu?"

__ADS_1


"Ada, banyak." Adji mengangguk, mengakuinya. "Kalau beneran ada hubungannya, Mas bakal selesaiin."


Juwita tersenyum. "Aku enggak nyalahin kamu," bisik Juwita lirih. "Enggak bahkan soal Ajeng. You're doing your best. As always, Mas."


Adji merengkuh tubuh Juwita di antara lengannya. "Susah bayangin hidup Mas enggak ada kamu," gumam pria itu lemah. Seolah-olah dia sedang membayangkannya. "Susah banget, Sayang."


Suara rengekan Yunia mengusik suasana hangat itu. Dia membuka matanya, mengerjap, lalu tiba-tiba menangis.


Juwita mau tak mau tertawa.


"Oooo, Papa peluk juga dong." Juwita mengambil dia ke pangkuannya. "Papa enggak peluk Yuni yah, Nak? Makanya nangis?"


Adji terkekeh. Langsung memindahkan Yunia ke pelukannya dan satu tangan lagi memeluk Juwita.


"Kembar Ibu kamu," ujar Adji pada anaknya. "Mewek mulu kerjanya."


"Heh!"


Untuk sejenak saja, ketakutan itu teralihkan dari pikiran Juwita.


*

__ADS_1


Dukung karya author dengan likeπŸ‘, vote dan komen, yahπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2