Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Tidak Siap


__ADS_3

Juwita terusik oleh beban berat yang menindih tubuhnya. Perempuan itu mengerang, merasa sangat amat lelah sekarang tapi mau tak mau terbangun.


"Lila, Nia, Yunia, berapa kali Ibu bilang jangan diem-diem masuk kamar Ibu." Juwita mengacak rambutnya kesal karena pagi-pagi dibangunkan. Walaupun saat membuka mata dan melihat tiga anak gadisnya tidur mengelilingi kasur, rasa kesal itu berubah jadi pasrah.


Dulu, Juwita pikir saat-saat paling berat punya anak adalah saat melahirkan mereka. Tidak bisa bohong bahwa Juwita selalu merasa ingin gila oleh rasa sakit setiap kali mengeluarkan anak dari perutnya lewat persalinan normal.


Namun ternyata itu hanya bagian kecil. Anak-anak jauh lebih sulit dari yang Juwita harapkan. Mereka terobsesi pada orang tua mereka, tidak mau makan jika tidak disuapi, harus selalu diberi waktu dan perhatian, sampai-sampai menyelinap ke kasur Juwita karena mereka semua ia paksa untuk tidur di kamar terpisah, dekat kamar Banyu dan Cetta.


"Good morning," sapa Adji yang terlihat sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


Pria itu datang mencium kening Juwita, mengacak rambutnya lembut.


"Mas, kamu enggak ngunci pintu?" tanya Juwita masih setengah mengantuk. "Kalo aku enggak pake baju terus anak-anak masuk, kamu kira pertanyaannya bakal satu doang?"


Adji tertawa dan tidak menanggapi itu sama sekali. Dia tidak pernah mau berdebat dengan Juwita tentang mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak perempuannya.


Dia adalah tipe bapak yang tega bersikap dingin pada anak laki-lakinya tapi bahkan tidak berani melotot pada anak perempuannya.


Juwita beranjak dari kasur, meninggalkan tiga anaknya yang masih berselancar dalam mimpi. Bergegas Juwita ke kamar mandi untuk bersih-bersih kecil, sebelum ia turun menyusul Adji yang membuat kopi untuk dirinya sendiri.


"Sarapan?" Juwita bertanya sembari memasang apron ke tubuhnya.


"Roti aja." Adji duduk di kursi khusus dirinya setelah selesai membuat kopi. Pria itu minum dengan tenang, tapi diam-diam melirik Juwita. "Abi enggak pulang?"


Untuk sedetik, tangan Juwita bergerak bergerak tapi buru-buru kembali dia paksakan, tak ingin membuat Adji curiga.

__ADS_1


"Dia sibuk banget katanya."


"Ohya? Kamu enggak pa-pa sama itu?"


"Ya, emang kenapa?" balas Juwita spontan, cemas memikirkan perkataan anak tirinya.


Itu bukan sesuatu yang baik untuk diketahui oleh ayah dari anaknya.


Tapi balasan Juwita justru menbuat Adji mengerutkan kening. Sebagai suaminya, Adji mengenal Juwita dengan sangat amat baik. Juwita adalah orang terakhir yang akan baik-baik saja kalau anak tirinya tidak pernah pulang ke rumah, bahkan kalau alasannya kuliah.


Sebenarnya Juwita bahkan ngambek sangat amat lama sebelum akhirnya dia menyerah pada keputusan Abimanyu tinggal sendiri.


"Wife."


"Yep?"


Juwita menoleh horor seolah-olah Adji baru saja berkata 'ayo cerai aja'. Biasanya wanita berharap suaminya sedikit peka tentang apa yang mereka cemaskan, tapi Juwita berharap Adji sedikitpun tidak bertanya padanya sekarang.


"Enggak ada." Juwita menggeleng dengan wajah yang sangat jelas ada sesuatu di belakang punggungnya. "Enggak ada sama sekali. Enggak ada. Sama sekali enggak ada."


Adji akan percaya kalau Juwita berkata tidak ada, tapi Adji dibuat tidak percaya karena Juwita malah terkesan menekankan.


"Kenapa?" tanya pria itu serius. "Abimanyu bikin masalah apa?"


Di antara anak Adji, Abimanyu adalah yang paling sering terkena masalah. Itu sudah terjadi sejak dulu dan Adji sudah sangat hafal bagaimana tabiat anak sulungnya.

__ADS_1


Jauh lebih gampang percaya bahwa Cetta tidak bertengkar setelah mainannya dirusak daripada percaya bahwa Abimanyu tidak membuat masalah di luar sana.


"Enggak ada—"


"Juwita Padmavati." Adji menekan namanya yang seketika membuat Juwita tutup mulut. "Abimanyu kenapa?"


"Abi ...." Juwita berusaha menatap lurus mata Adji tapi itu justru membuat pikirannya kacau. "Abimanyu ...."


"Bang Abi bilang mau nikah sama pacarnya," timpal suara Banyu yang mengejutkan Juwita.


Mata Juwita jelas melotot pada Banyu yang malah memberi kebohongan keji itu, tapi Banyu membalas dengan keyakinan bahwa dia cukup benar.


"Hah?" Adji menatap anaknya tak percaya. "Abimanyu mau nikah? Abimanyu?"


"Yap." Banyu menarik kursi dan duduk santai di tempatnya yang biasa. "Enggak. Actually, Pa, Bang Abi tidur sama pacarnya di kosan dan kita mergokin dia kemarin. So, Juwita takut pacarnya hamil jadi yah, mending dinikahin, kan?"


Juwita serasa habis menelan batu salak. Tapi saat Adji menoleh padanya dengan tatapan penuh tanda tanya, Juwita tahu ia harus maju.


"Iya, Mas."


Adji menggeleng muak. "Banyu, suruh Abi pulang nanti malem," perintahnya tegas. "Bilang kalo dia mesti di sini sebelum Papa pulang."


"Siap."


Juwita yang tidak siap.

__ADS_1


*


__ADS_2