
"Bang." Banyu mengunyah permen karet sambil memandangi jalanan dari luar bus yang mereka tumpangi ke sekolah masing-masing. "Papa kayaknya aneh enggak, sih?"
Abimanyu tidak menjawab, tapi setuju.
Bukan terlihat senang karena punya istri baru. Hanya, bagaimana yah mengatakannya? Adji terlihat ... tidak lagi terlihat frustrasi.
Padahal kemarin-kemarin, Adji terlihat sulit menerima kenyataan.
Baik Abimanyu atau Banyu, keduanya anak nakal tapi tidak bodoh. Mereka bisa menyadari kalau Adji diam-diam putus asa karena kematian Mama. Keluarga mereka yang dari awal memang sepi jadi semakin sepi karena kepergian wanita itu.
Tapi, sejak Juwita datang, Adji tidak sesedih kemarin.
Padahal terlihat jelas dia tidak tertarik pada Juwita sebagai lawan jenis.
"Lo enggak pa-pa kalo dia beneran deket sama Papa?"
Abimanyu menatap datar langit-langit bus yang sesak. Terlintas bagaimana gadis yang cuma beda enam tahun darinya itu mengejek Abimanyu sebagai pecundang.
"Entah."
"Gue enggak bakal." Banyu bergumam. "Enggak bakal pernah."
*
Juwita menjatuhkan diri ke sofa setelah semua orang pergi, menyisakan dirinya dan Cetta.
Melelahkan sekali mengurus orang lain. Jauh lebih melelahkan dari mengurus orang tuanya, karena mereka asing dan Juwita tak tahu harus melakukan apa.
Apalagi, mereka menyebalkan.
Tapi, yah, kalau ini bisa membantu Ayah dan Ibu, Juwita tidak akan terlalu mengeluh.
__ADS_1
"Cetta, sini nonton TV sama Kakak."
Juwita melompat dari duduknya, terpaksa harus mencari karena anak itu tidak menjawab.
"Cetta? Kamu di mana?"
Duh, Juwita malah lupa anak itu juga setan kecil. Buru-buru ia berlari, mencari karena khawatir dia terjungkal atau lebih parah malah tenggelam di suatu tempat.
Tapi ternyata tidak. Anak itu sedang di ruang mainan.
"Sayang, lagi apa?"
Cetta sedang membenturkan pesawat dengan bus mainannya.
Yah, kalau dia sibuk main, Juwita rasa tidak masalah.
Juwita duduk mengawasi, meski lama-lama ia bosan. Ketika nyaris Juwita tidur, Cetta tahu-tahu sudah menghilang.
Juwita duduk lagi, menunggui sampai mengantuk, dan sekali lagi dia hilang.
"Duh, kamu, nih." Bisa tidak sih dia diikat di tiang?
Cetta malah berlari sambil memegangi bola. Juwita menjerit histeris waktu anak itu melempar bolanya begitu saja, nyaris mengenai vas di atas meja.
"Mainnya jangan dilempar-lempar, Nak. Duh, sini keluar. Main bola di luar."
"Enggak mau!" Cetta berlari menghindar, membuat Juwita frustrasi.
Suara tawa di belakang terdengar dari pengasuh Cetta yang baru datang. "Emang begitu, Mbak. Waktu Ibu masih ada juga maunya main bola di dalem rumah."
Juwita menepuk dahi. Tapi jika ia tak belajar sabar, bisa-bisa Juwita sinting tahun depan.
__ADS_1
"Cetta, suka bola, Nak? Kesukaannya siapa?"
"Lonaldo!"
"Ronaldo?" Juwita berdecak seolah meremehkan. "Masa suka Rolando?"
"Cetta suka Lonaldo!"
"Rolando main bolanya di lapangan. Kamu kan di rumah. Pasti bukan Rolando."
Cetta cemberut.
"Keluar, yuk. Kakak tunjukin cara mainnya Ronaldo."
Jangan remehkan kemampuan fisik Juwita yang terlatih sejak SD. Ia dari dulu keluar masuk berbagai klub sesuka hati. Jadi asalnya bukan melawan profesional, Juwita percaya diri.
Cetta berlari mengikutinya keluar. Akhirnya mau bermain bola dengan Juwita di lapangan voli kakaknya.
Tapi ... main dengan bocah sangat membosankan.
Juwita malah mau lari ketika Cetta masih sangat bersemangat.
Begini yah rasanya punya anak? Juwita merasa dipaksa suka pada yang mereka suka padahal sebenarnya tidak suka.
"Istirahat, yuk. Minum dulu."
"Enggak mau. Lagi. Kayak gitu lagi."
Juwita benar-benar mau melarikan diri.
*
__ADS_1