Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Jangan Buang Sampah Sembarangan


__ADS_3

Menonton anak tirinya yang berteriak 'I love you' pada Juwita kini justru mencium perempuan entah siapa itu terasa menjijikan. Juwita bahkan bisa memuntahkan seluruh sarapannya sekarang tapi ia tahan dan tetap berdiri di sana, untuk melihat kenyataan.


Inilah Abimanyu.


Dia Abimanyu.


Lihat dia.


Anak yang dulunya manis dan menggemaskan, sibuk berpikir tentang voli sampai-sampai mustahil rasanya dia memikirkan perempuan, kini ada di sana, membuang seluruh ambisi terhadap voli, terhadap omong kosong mimpi dan cuma fokus membelit lidah anak gadis orang.


Juwita berdiri di sana, menerima kenyataan dalam hatinya bahwa ia telah melewatkan banyak hal.


Tangan Abimanyu bermeremas dada perempuan itu saat tiba-tiba si perempuan menyadari, menoleh pada Juwita. Juwita tak berekspresi sekalipun Abimanyu tiba-tiba membuat wajah seakan dia merasa bersalah.


"Juwita." Abimanyu menjauh dari perempuan itu, menghampirinya. "Lo ngapain—lo ... you shouldn't be here."


"Oh ya?" Juwita menatap perempuan itu alih-alih Abimanyu. "Nama kamu siapa?"


"Lo siapa dan kenapa lo kepo?" kata perempuan itu kesal. "Abimanyu, jangan bilang lo—"


"SHUT UP!" Abimanyu membentak murka sebelum dia memegang lengan Juwita. "Ikut gue."

__ADS_1


Juwita menepis tangan Abimanyu dan fokus pada perempuan itu. "Saya mama tirinya. Entah siapa nama kamu, tapi mending jangan ladenin laki-laki yang lagi enggak waras."


"Juwita."


"You shut up," tegas Juwita pada Abimanyu. "Mending sekarang kamu beresin barang-barang kamu, ikut aku pulang ke rumah."


Abimanyu menggeleng, malah tertawa sinis. "Lo enggak punya hak ngatur-ngatur idup gue. Papa aja enggak peduli."


"Aku punya hak."


"Punya hak, huh?" Abimanyu mencengkram lengannya, memojokkan Juwita ke tembok. "Punya hak karena lo istri Papa atau punya hak karena lo cemburu gue sama cewek lain?"


"I said shut up," desis Juwita, berusaha keras menahannya. "Ini bukan soal aku atau kamu tapi ini soal berapa banyak perempuan yang mesti jadi korban otak gila kamu!"


"TERUS LO NYURUH GUE NGAPAIN?!" bentak Abimanyu, memukul tembok tepat di sebelah wajah Juwita.


Ini bukan pertama kaki Juwita mendapat bentakan namun ini jelas pertama kali Juwita mendapat bentakan semacam itu dari orang yang berharga baginya.


Untuk sejenak Juwita membeku. Jantungnya langsung berpacu gila disertai rasa membara dalam sana. Otaknya sempat berhenti memikirkan apa-apa dan tanpa sadar ia menggigil.


"Aku," bisik Juwita bersamaan dengan tetesan air mata jatuh ke pipinya, "mau kamu pulang sekarang juga."

__ADS_1


Juwita menarik napas dan menenangkan dirinya sebagai orang dewasa.


Tapi Abimanyu yang melihat itu justru tersadar sudah melakukan kesalahan besar. Walau sudah sering melihat Juwita menangis untuk berbagai hal, Abimanyu belum pernah melihat Juwita menangis sampai dia sulit berkata-kata.


"Juwita." Abimanyu mundur, mendadak takut pada dirinya sendiri. "Gue enggak sengaja. Maksud gue—"


Tangan Juwita terangkat, isyarat agar dia diam.


"Kita pulang." Juwita menunjuk ke kamarnya dengan jemari gemetaran. "Masuk, beresin semuanya, pulang sama aku. Kamu ngerti?"


Setidaknya Juwita sadar bahwa kalau ia meninggalkan anak ini di sini, membiarkan dia dengan alasan dia sudah bisa memikirkan dirinya sendiri, berlusin-lusin perempuan tidak bersalah akan jadi korban.


Juwita dulu berpikir bahwa Abimanyu tidak pantas bermain wanita lalu terkena penyakit kelamin. Dia berhak mendapatkan masa depan lebih baik.


Tapi sekarang Juwita cuma berpikir bahwa siapa pun itu, siapa pun, tidak pantas membuang-buang waktu mereka untuk sampah ini.


Setidaknya Juwita harus 'mengangkut' dia pulang sebab Juwita orang tuanya. Mau tidak mau.


Itu peraturan, kan? Jangan buang 'sampah' sembarang.


*

__ADS_1


__ADS_2