Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
70. Dalang Sebenarnya


__ADS_3

"Ini namanya nyiksa diri." Adji menggeram kecil, merapikan rambut Juwita yang rada berantakan karena ulah tangannya sendiri.


Adalah sebuah kemustahilan bila pengantin baru macam mereka bisa keluar murni hanya bekerja, terkhusus saat berdua.


Jam setengah sebelas menjelang pertemuan di rumah makan, sempat-sempatnya Adji menarik Juwita ke pangkuannya untuk memuaskan diri.


Juwita terkekeh kecil. Menjatuhkan kepalanya ke bahu Adji yang dipenuhi keringat panas.


"Enggak puas," gumamnya sengaja.


"Siapa suruh kamu godain saya sekarang."


"Yaudah, skuy-lah ke hotel."


"Ayok."


Juwita memukul dadanya, jelas cuma bercanda. Alarm ponsel Adji berbunyi menandakan dia harus segera turun karena lima menit lagi waktu yang dijanjikan.


Agar panik Juwita kembali ke kursinya, tapi dibuat terpekik karena tamparan Adji di bokongnya.


"Itu namanya KDRT!"


Adji menyambar wajahnya, menekan sesuka hati pipi Juwita. Meski waktu Juwita meringis, Adji langsung mencium pipinya.


"Pake topi sama masker, Juwita."

__ADS_1


"Panas, Mas. Habis keringatan kamu suruh aku keringetan lagi?"


"Iya."


"Enggak mau!" Juwita melotot. "Jangan nyuruh-nyuruh! Enggak aku kasih jatah tau rasa!"


Biasanya kalau diancam begitu, laki-laki manut aja.


Tapi Adji bukanlah suami yang takut istri. Dia menarik tangan Juwita, memasangkan secara paksa. "Enggak usah kasih. Nanti saya yang ambil sendiri."


Juwita menggigit pipinya kesal, meskipun Adji cuma tertawa dan berbenah sebelum keluar.


Dari belakang, Juwita melihat bekas gigitan di leher Adji. Dia membenahi rambut dan pakaiannya, tapi tidak sadar waktu Juwita tergelak.


Biarin, deh. Siapa suruh overprotektif.


Waktu mereka mau masuk, secara tak sengaja Juwita menyenggol bahu seorang wanita yang juga berjalan terburu-buru.


"Maaf."


"Nana." Adji ternyata kenal. "Tumben kamu baru nyampe jam segini."


"Adji?" Perempuan itu mengerjap. Melihat bekas gigitan di leher Adji, lalu pada Juwita. "Ini ...."


"Istri saya, Juwita."

__ADS_1


"Oh, halo." Perempuan itu tersenyum ramah. "Duh, aku kira siapa pake-pake beginian. Kenapa? Lagi sakit?"


"Iya, dia lagi demam." Adji menjawab sebelum Juwita bisa menjawab. "Saya suruh istirahat di rumah malah pengen ikut."


"Hmmm, manja yah, istri baru. Eh, anyway congratulation loh, yah. Turut seneng aku."


"Sama-sama."


Juwita berjalan dalam rangkulan Adji yang bicara pada perempuan bernama Nana itu. Nampaknya dia salah satu rekan kerja Adji atau sejenisnya, karena tidak secara formal menyapa seperti pak atau bos.


Enggak mungkin ini, gumam Juwita dalam hati, mencoret lagi daftar orang yang dia temui dan kemungkinan adalah penerornya.


Perempuan pintar macam ini pasti lebih sibuk berkarier daripada meneror istri orang.


Tanpa Juwita tahu, Nana tersenyum misterius melihatnya.


Mereka masuk ke ruang rapat di restoran makan itu. Adji mengizinkan Juwita lepas masker karena sudah berada di ruang tertutup, plus memang tidak mungkin ia duduk di sana dengan topi, masker plus kacamata macam mata-mata.


Juwita cuma jadi pendengar, soalnya tidak bisa bermain handphone gara-gara Abimanyu.


Ketika Juwita duduk tenang mendampingi pertemuan Adji, sedikitpun Juwita tidak tahu kalau Nana sebenarnya tersambung panggilan video dengan orang lain yang sudut kameranya mengarah langsung pada Juwita.


Orang di seberang sana, perempuan yang merupakan teman baik Nana, adalah orang yang bertanggung jawab atas semua teror Juwita, terutama adegan pemukulan itu.


Nana tidak mengetahui secara pasti apa yang mau temannya lakukan, tapi Nana membantunya karena selalu ada alasan dibalik sebuah tindakan.

__ADS_1


Semua ini salah Adji juga.


*


__ADS_2