
"Cieee, ada yang galau nungguin budaknya pulang, cieee."
Juwita menggoda anaknya yang terlihat sedang sangat bosan menunggu kepulangan abang dan papanya.
Di kepala Lila sudah tersetel jadwal kapan saja Banyu, Abimanyu dan Adji pulang. Dia tahu yang paling pertana datang pasti abang kesayangannya, Banyu, lalu Abimanyu, baru nanti malam papanya.
Dari semua orang, Lila memang paling dekat dengan Banyu. Mungkin karena kepribadian mereka hampir sama, yaitu sama-sama anak yang lebih suka tenang dan santai.
Lila bisa tidur seharian suntuk di gendongan Banyu nyaris tanpa mainan, berbeda dengan Abimanyu yang kadang-kadang mengajak Lila main voli di luar—atau lebih tepatnya menonton dia.
Yang paling Lila tidak dekati adalah Cetta. Cetta suka main, Lila tidak suka, maka pada akhirnya Juwita yang lebih sering bersama Cetta, sedangkan Lila diurus abangnya.
"Makan buah dulu sama Ibu, mau?" Juwita menyodorkan potongan stoberi ke mulut Lila. Dan anak itu langsung buka mulut, memakannya.
Lihat, dia bahkan tidak berinisiatif memegang buahnya sendiri.
Sudah Juwita ajari berkali-kali, tapi para lelaki tidak bertanggung jawab itu selalu membiasakan Lila makan dari tangan mereka. Seakan tugas Lila cukup bernapas, sit still look pretty saja.
"Pegang, Nak. Buahnya Lila pegang sendiri. Kayak Ibu nih, nih kayak Ibu."
Lila cuma memandang Juwita dengan mata mengantuk khasnya. Terus berusaha makan stoberi dan tidak mengerti maksud Juwita apa.
Ketika pintu depan tiba-tiba terbuka disusul suara salam singkat dari Banyu, Lila langsung menjauhkan mulutnya dari stoberi, merangkak menuju pintu.
__ADS_1
Hadeh.
Kadang-kadang Juwita sampai merasa itu tiga orang tidak usah pulang dulu seminggu, biar Juwita bisa mengajari anaknya hal-hal yang mendasar.
"Lila, Banyu mandi dulu, Sayang. Bentar gendongnya kalau udah mandi."
Banyu sudah menggendong Lila, lalu mengajaknya berbaring di sofa.
"Kamu enggak mandi dulu, Bocah?"
"Capek." Banyu mendudukkan Lila di atas perutnya. "Lila udah makan?"
Juwita berkacak pinggang. "Aku lebih inget makannya Lila daripada makanku sendiri. Jadi mending kamu nanyain aku aja."
"Lo udah gede, makan sendiri kalo laper."
Mau sih cemburu, tapi masa cemburu pada anak sendiri?
Juwita menghela napas, beranjak mengambil Lila. "Kamu sana makan dulu. Kalau mau mandi sebelum makan lebih bagus. Soalnya aku mau ngajakin Lila jalan-jalan."
Lepas dari Banyu membuat Lila gelisah. Anak itu meraih-raih udara ke arah Banyu, maunya sama dia saja.
"Abang mandi dulu yah, Lila." Banyu mencium wajah mewek adiknya. "Hm? Mandi dulu baru temenin Abang makan. Sebentar aja."
__ADS_1
Lila mulai menangis terisak-isak seakan Banyu mau meninggalkannya sangat jauh.
Tapi Juwita malah lebih khawatir pada nasib anaknya kedepan kalau para bocah sontoloyo ini sudah bosan.
Mereka memanjakan soalnya Lila masih belum memasuki usia sinting-sintingnya.
Nanti kalau mereka sudah bosan, alamat Juwita repot pagi siang sore malam subuh.
"Sini, Ibu mau ngomong empat mata sama kamu," ucap Juwita ketika Banyu sudah pergi, dan Lila antara menangis tidak menangis. "Lila dengerin Ibu."
Bayi satu tahun itu merangkak pergi.
"Eh, eh, eh. Dengerin Ibu dulu, Nak. Duh, gemesnya kamu nih. Sini, dengerin Ibu."
Dia Juwita dudukkan di kursi saja, biar tidak bisa kabur.
"Nah, Lila dengerin Ibu dulu." Juwita mengatakan pembukaan yang sama lagi. "Lila enggak boleh manja banget sama Abang. Nanti Abang enggak suka Lila. Itu enggak—"
"Bbbbrrrr." Lila membuat vokal, tetap mau mencari Banyu.
"Lila, Ibu lagi ngomong."
Bayi itu tidak peduli, menangis, menginginkan abangnya segera datang.
__ADS_1
Memang dasar drama queen.
*