
Meskipun Juwita sempat rada-rada labil mau pergi atau tidak, akhirnya dia pergi juga begitu hari H tiba.
Selama perjalanan lintas benua itu, Juwita tepar akibat tak terbiasa. Bahkan Cetta masih terlihat lebih baik daripada Juwita yang menangis-nangis minta pulang di tengah pesawat sedang terbang, karena dia sudah tak tahan dengan mabuk perjalanan.
Andi cuma bisa geleng-geleng melihat kelakuan Juwita yang benar-benar menguji kesabaran sampai tetes terakhir.
Tapi ketika mereka sampai, lalu Juwita diberi obat sesuai saran dokter, besoknya dia segar kembali.
Hal pertama yang Juwita lakukan adalah main kejar-kejaran dengan Cetta, lalu belanja ke supermarket bersama Mama.
Di hari kedua, Juwita bilang dia mau tinggal di negara ini saja, sebab lingkungannya lebih enak.
"Banyak cocot padahal di pesawat nangis-nangis." Banyu tak lupa mencerca. "Hiks, suruh aja puter pilotnya, aku mau pulang. Palaku sakit, hiks," tiru Banyu pada ucapan Juwita waktu itu.
Tentu saja semua orang tergelak, kecuali Juwita yang langsung lompat, memburu Banyu dengan bantal sofa buat dipukul.
"Iya, Kakak payah naik pesawat. Padahal Cetta aja bisa. Emang Kakak tuh penakut."
"Mas, anakmu tuh ngatain aku!"
"Itu bukan ngatain kalo fakta, mah." Adji tidak membelanya. "Kamunya emang lebay."
"MAMA, ITU MAS ADJI NGATAIN MANTU MAMA!"
Karena jarang berjumpa, Mama akan selalu menbela Juwita jika dibandingkan dengan Adji. Tapi Adji santai, karena Ibu-nya Juwita itu bakal membela Adji.
"Bu, liat tuh, Bu. Anak Ibu mancing-mancing biar ribut."
"Ma, Mas Adji ngomong sembarangan sama Ibu!"
"Tuh, Bu. Marahin tuh biar insaf."
Abimanyu dan Banyu lagi-lagi harus menghela napas. Entah kenapa deh belakangan Adji dan Juwita jadi sering begitu. Tidak ribut tapi kelihatan ribut.
Terus pakai perantara. Kalau bukan Abimanyu dan Banyu, pasti Oma dan Ibu-nya Juwita.
Namun itu tidak masalah sih, karena ketika Juwita minta sesuatu, berhubungan karena mereka berada di negara asing, Adji langsung sigap memberikan. Tidak mengeluarkan keluhan waktu Juwita jam setengah dua belas malam merasa lapar, mau makan seafood setelah tadi sempat mual-mual cukup lama.
__ADS_1
Restoran seafood yang bisa diakses jam segini jauh, sementara mereka memang tinggal tidak benar-benar dalam kota sebab Adji mau menghindari kepadatan.
Malam-malam Adji mengeluarkan mobil Papa dari garasi, bersiap pergi bersama Abimanyu.
Tidak banyak percakapan terjadi di antara mereka. Adji sibuk menyetir, Abimanyu bermain handphone.
Tapi waktu mereka tiba di restoran, menunggu pesanan untuk Juwita, Abimanyu tiba-tiba berkata, "Pa, how much you love Juwita?" [Seberapa cinta Papa ke Juwita?]
Mungkin dia bosan jadi tiba-tiba menanyakan hal semacam itu. Adji mengangkat alis, berpikir beberapa saat untuk menemukan jawaban yang tepat.
"How much, huh?" Adji bersedekap, bersandar pada kursi dan menatap putranya. "Not that much." [Berapa banyak? Enggak banyak banget.]
Tidak sebanyak yang orang lain pikirkan. Memang, Adji jujur.
"Maksud Papa?"
"Cinta itu cuma garem buat pernikahan yang kalu diibaratin masakan," jawab Adji tenang. "Papa sama Mamamu enggak bertahan enam belas tahun karena saling cinta doang. Ada keterpaksaan juga."
"Sama Mama?"
"Iyalah. Sama kamu juga Papa terpaksa. Terpaksa doang sebenernya Papa ngurusin kamu."
"Intinya, jangan terlalu terpaku sama cinta. Papa lebih suka bilang kalau Juwita itu menarik. Dan menuhin apa yang Papa rasa kurang dari hidup Papa."
"Apa yang kurang dari Papa?"
"Sesuatu yang bikin Papa ngerasa deket sama kalian."
Adji mengacak rambut Abimanyu.
"Papa butuh orang yang gantiin Mamamu, tanpa harus ngambil tempat Mamamu, mau disandingin sama Mamamu, mau menghargai sejarah Papa sama Mamamu, dan mau nerima kalian tanpa harus ngerasa 'kalian anak istri pertama yang udah mati jadi harusnya enggak diurusin lagi'. Banyak perempuan kayak gitu, dan Papa enggak mau."
Intinya Adji tidak terlalu tertarik memikirkan ia secinta apa dengan Juwita atau apa pun itu.
Yang jelas Adji memberikan apa yang membuat Juwita bahagia, terpenuhi, tak kekurangan, dan damai.
"Pa."
__ADS_1
"Hm?"
"Aku mau jujur sama Papa."
"Silakan."
Abimanyu menekan bibirnya satu sama lain, Anak itu tiba-tiba menunduk, terlihat agak tertekan namun memaksakan dirinya sendiri.
Sepertinya Adji tahu dia mau bicara.
"Aku ... aku pernah suka Juwita," ucap Abimanyu gugup, kentara sedikit ketakutan.
Tapi Adji tak bereaksi apa pun selain, "Papa tau."
"Eh?"
Sesama jenis biasanya lebih memahami satu sama lain sebab pada intinya mereka punya rangka yang sama.
Sebagaimana Abimanyu dan Banyu dapat menyadari ketertarikan Adji pada Juwita, jelas Adji juga dapat menyadari ketertarikan Abimanyu pada Juwita.
Ia sudah tahu itu.
Dan ia tahu Juwita berusaha menyembunyikannya agar Adji tidak merasa ada sesuatu yang harus dibereskan dengan anaknya.
"Papa udah bilang sama kamu, kan? Cinta itu enggak cukup. Kalo kamu cuma cinta sama Juwita, itu enggak cukup buat kamu milikin dia. Dia punya Papa, lagian."
Adji menaikkan alis, tidak menyembunyikan senyum tipis kemenangannya.
"Ngapain Papa harus ngelakuin sesuatu padahal udah jelas kamu juga tau? Harus kamu yang sadar diri sendiri. Kalau Papa ketar-ketir, itu berarti Papa ngerasa kamu bisa ngerebut Juwita."
Nyaris bersamaan, pesanan mereka datang. Adji beranjak, sekali lagi mengusap kepala Abimanyu dan mengacak rambutnya.
"Kamu enggak bisa, Nak. Soalnya kamu cuma punya cinta. Jadi ujung-ujungnya kamu ngelepasin, sadar diri, mundur jauh-jauh."
Abimanyu menatap datar pria tua itu.
Memang sih itu papanya, tapi kayaknya dia tidak melewatkan sama sekali kesempatan buat pamer bahwa dia lebih unggul.
__ADS_1
Cih.
*