
Kata Mama dulu, memaafkan seseorang yang berbuat jahat pada kita jauh lebih baik daripada membalas mereka dengan hal sama. Sebab kalau kalian membalasnya, kalian akan sama hinanya dengan mereka.
Apakah seorang pencuri harus dicuri juga miliknya agar impas? Itu kan kebodohan berkedok keadilan, yah.
Jadi, Abimanyu dan Banyu tidak mau berbuat bodoh.
Mereka mengikhlaskan kalau Nana berbuat salah pada Juwita. Apalagi, Juwita juga sudah memaafkan dan Nana sudah diberi hukuman oleh Adji.
Jadi ini bukan balas dendam.
Ini namanya Mencegah Sebelum Terjadi Sesuatu Yang Buruk.
"AAAAAKKKKKKHHHHHHHH!"
Suara teriakan keras Nana dari dalam apartemen baru yang dia tempati langsung membuat Abimanyu dan Banyu saling menarik seringai.
Mereka berdua bertukar kepalan tinju, sebagai sebuah perayaan misi pertama berhasil.
Karena masih ada misi kedua, mereka pun bergegas pergi.
Banyu pergi bersembunyi di sudut lain bersama tablet dan headset di telinganya sebagai alat komunikasi yang tersambung dengan Abimanyu.
Sementara itu, Abimanyu mendekati pintu apartemen Nana sambil pelan-pelan mengawasi sekitar.
"Alpha One, come in. I repeat, Alpha One, come in. Can you hear me?"
Abimanyu sempat berhenti. "Lo ngapain ngomong gitu?"
__ADS_1
Adiknya malah sok-sokan berkata, "Biar kayak misi beneran."
"...."
Oke, terserah. Suka hati dialah.
Abimanyu terus mengawasi sekitaran sambil tetap mendengar. Ditempelkan tubuhnya ke tembok, mendengar lebih kelas teriakan histeris dari kamar kamar.
"Alpha Two, lapor situasi." Ujung-ujungnya Abimanyu ikutan juga.
"I'm not Alpha Two, I'm Beta."
"Serah lo, lah."
Banyu memerhatikan layarnya yang menampilkan sejumlah sudut kamera kecil dari dalam kamarnya Nana.
Ya, itulah cara mereka balas dend—maksudnya, Mencegah Sebelum Sesuatu Yang Buruk Terjadi.
Tadi Pak Mahardika bilang mereka harus kreatif. Dan satu-satunya kreativitas anak laki-laki yang berada di level dewa adalah ... membuat perempuan histeris karena kejailan.
"Alpha One, masuk." Banyu mendekatkan mikrofon headset-nya ke bibir lalu bicara. "Target lagi nangis, tujuh puluh persen kemungkinan bakal pingsan. Tindakan penyelamatan diperlukan. Diulang, tindakan penyelamatan diperlukan."
Abimanyu semakin mendekati pintu.
Begitu benar-benar di depannya, anak itu langsung memasang penutup mulut yang sekaligus menyamarkan wajahnya untuk dikenali, baru kemudian mendorong pintu terbuka sedikit.
Apartemen ini bukan apartemen mewah—karena kekayaan Nana sudah nyaris habis—maka kecuali dikunci manual, dia bisa terbuka bahkan oleh psikopat.
__ADS_1
"Alpha One siap menyelamatkan," ucap Abimanyu sebagai isyarat akan segera masuk.
"On three. One, two, three!"
Abimanyu menendang pintu agar terbuka sepenuhnya.
Ibarat seorang petugas penyelamat dari FBI yang siap menangkap ******* di tempat kejadian perkara, Abimanyu menodongkan pistol.
"Go, go, go, go!" teriak Banyu dari alat pendengar.
Pistol di tangan Abimanyu menembakkan cairan ke arah Nana yang semakin histeris. Cairan itu adalah racikan khusus yang Abimanyu dan Banyu sangat amat menjamin, kodok akan menganggap Nana makanannya.
"AKHHHHH, TOLOOOOONG!"
Banyu mendengar suara permintaan tolong itu. "Alpha One, misi ketiga."
"Roger."
Abimanyu berjinjit-jinjit mendekati lemari dan membukanya. Seketika itu muncul sejumlah ular berukuran sedang, menyebar ke seluruh ruangan.
Pelan-pelan mereka mendekati Nana, sementara Abimanyu mengamankan diri sendiri.
Bisa berabe kalau ularnya mengajak Abimanyu bermain.
"ULAR, ULAR, ULAR! HUAAAAAAAAA!"
***
__ADS_1