Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
103. Bwleeek


__ADS_3

"Oh, jadi kamu pindah suka sama dia karena dia lebih muda? Masih sempit makanya kamu seneng?"


Kayaknya Ajeng memang sengaja memuntahkan pancingan biar kesannya Adji itu pria yang menilai wanita dari nafsunya, terus Juwita salah paham.


Tapi Juwita suka waktu Adji bilang, "Terus? Kamu iri dia lebih enak dari kamu? Enggak kayak kamu, dia enggak banyak yang make."


"Yakin?" Ajeng menyeringai pada Juwita. "Anak kamu bukannya—"


"Cie, iri." Juwita harus ngebacot demi melindungi kedamaian dunia. "Gue enggak paham sama lo yah, Mbak. Udah cakep, kaya, sukses, mandiri—bukannya waras malah gila."


Juwita menghela napas, pura-pura memijat kepalanya seolah ia sangat amat pusing.


"Enggak habis pikir tuh gue, Mbak. Banyak gitu yang mau jadi elo. Gue juga termasuk. Siapa gitu yang enggak pengen jadi cewek berpenghasilan sendiri, biarpun capek kerja? Tapi elo? Malah enggak bisa move on dari suami orang."


"Lo tau apa soal gue, babii?"


"Ya taulah, bebi. Lo perempuan, gue perempuan. Ya biarpun gue enggak tau-tau banget ya soalnya gue waras lo gila."

__ADS_1


Juwita beranjak, berdiri di depan Ajeng yang kedua tangan dan kakinya dirantai.


"Lo bener, Mbak. Kayaknya lo lebih pantes sama Mas Adji ketimbang gue. Gue cuma beban doang. Dateng ke hidupnya minta duit, terus ya ngerjain tugas pembantu. Kalo lo jadi istrinya, lo pasti bisa kerja bareng dia, sukses sama-sama."


Senyum Juwita berkembang. Tangannya terulur meraih rahang Ajeng, menekannya kuat sampai wanita itu meringis.


Ketika membunhkuk, senyum Juwita hilang tersapu habis. Matanya mati saat berhadapan dengan sorot mata Ajeng.


"Tapi denger yah, Cantik," bisik Juwita, "yang suka main sama babii ya cuma babii. Yang jodoh sama anjing ya cuma anjing."


Dia tak bisa bicara karena cengkraman keras Juwita.


Juwita cemberut di depan Ajeng.


"Tapi lo kan enggak waras, Sayang. Masa Mas Adji milih cewek sempit enggak waras. Kan ada gue, udah waras sempit lagi, aw, gemes."


Agar dia tidak banyak bicara, Juwita merogoh berlembar-lembar tisu dari tasnya untuk dimasukkan ke mulut Ajeng.

__ADS_1


Sampai dia tidak banyak bicara, sebab Juwita sejujurnya takut kalau Adji tahu soal Abimanyu, keluarga mereka yang baik-baik saja berubah tidak baik-baik saja.


Abimanyu sudah memutuskan mau berubah dan jadi anak baik. Jadi jangan mengganggunya dengan sesuatu yang seakan-akan dia harus dihakimi lebih berat.


Lepas memastikan Ajeng tidak bisa bicara, Juwita mengusap-usap puncak kepalanya. Tersenyum manis.


"Jangan muncul lagi, yah. Saya capek denger nama kamu."


Habis itu Juwita berbalik, melangkah pada Adji yang cuma tersenyum geli.


"Ayok, Mas."


"Udah puas?" tanya Adji santai. "Kamu enggak mau mukulin kepalanya pake batako juga? Mau saya aja?"


"Gak. Ngeliat aja udah males." Juwita menarik Adji kekuar, tapi diam-diam berbalik buat menjulurkan lidah.


Bwleeek 😝.

__ADS_1


Itu balasan karena sudah membuat Ibu dan Ayah khawatir, padahal sudah Juwita wanti-wanti agar orang tuanya hidup tanpa beban.


*


__ADS_2