
Rahwana sudah babak belur. Bahkan dia sudah tidak bisa berdiri. Anak itu berhasil memancing kemarahan Abimanyu yang frustrasi mengkhawatirkan anaknya.
Tak cukup sampai di sana, Abimanyu meminta sarung tangan berduri untuk dia bisa memberi rasa sakit lebih, agar Rahwana segera mengatakan di mana Nabila.
Tapi sebelum Abimanyu berbuat semakin kejam demi anaknya, Olivia mencegah.
"Rahwana, tadi kamu bilang mau nyelesaiin ini secara kekeluargaan. Maksud kamu?"
Rahwana tertawa di antara mulutnya yang berdarah. "Ada pepatah bilang mata dibalas mata, darah dibalas darah."
Pemuda itu memandang ke langit yang terasa semakin gelap di atas sana. Udara begitu dingin, membuat rasa sakit di tubuh Rahwana jadi berlipat. Tapi Rahwana justru 'tidak merasa sakit' karena ia mengingat istrinya.
Dia menerima hal sama bertahun-tahun karena dendam.
"Saya bakal pulangin Bisu," kata Rahwana tenang, "dengan syarat apa pun yang terjadi sebelumnya dianggep enggak pernah ada. Alias ... kalian harus maafin kesalahan Mama saya."
Olivia mengeraskan rahang. "Kamu kira perbuatan keluarga kamu bisa dimaafin? Mereka nyulik anak kecil dan mukulin dia dengan alasan kesalahan orang tuanya! Kamu ngaku suaminya Nabila tapi kamu enggak ngerasa bersalah sama istri kamu?!"
"Ya ampun. Saya enggak tau kalian pura-pura bodoh atau memang bodoh tapi," Rahwana yang sempat tersenyum main-main, tiba-tiba menatap mereka tajam, "jangan bawa-bawa orang baru ke urusan masa lalu."
"Apa—"
"Mama saya menderita karena Sakura, kakak yang enggak pernah saya tau, itu bunuh diri gara-gara kamu." Rahwana tentunya menatap Abimanyu. "Kamu marah soal anak kamu, kan? Berarti harusnya enggak perlu dijelasin buat kamu ngerti perasaan Mama saya."
"Terus kamu ngajak saya ngertiin perasaan kamu?!" balas Abimanyu emosi, namun masih dihentikan oleh Olivia.
Mereka harus bicara tenang untuk benar-benar tahu apa maksud pemuda ini.
"Sakura bunuh diri, Mama depresi. Sekarang Bisu diculik dan kamu depresi. Impas, kan?"
"Impas? Kamu segampang itu bilang impas buat semua penderitaan Nabila di tangan Mama kamu?" Olivia lagi-lagi sengaja membalas sentimental.
"Terus? Emang harus gimana?" Rahwana tersenyum. "Impas menurut kalian adalah Mama saya ditangkep, disiksa juga persis sama kayak dia nyiksa Bisu? Ah, kenapa Nabila dipanggil Bisu? Soalnya Mama mukulin dia pake besi sampe dia enggak mau lagi ngomong. Bisu kalo nangis sama sekali enggak ada suara karena trauma dipukulin pake besi."
Air wajah Abimanyu memerah murka. Membayangkan putrinya diperlakukan seperti itu membuat Abimanyu ingin melakukannya berkali-kali lipat pada Rahwana.
Namun sebelum bisa melakukannya, Rahwana berkata, "Kalo kamu nyiksa saya sampe mati, kamu pikir selesai? Waktu Sakura mati, Abimanyu, kamu juga pikir semuanya selesai kan? Tapi faktanya, bertahun-tahun kemudian, enggak ada yang selesai."
Rahwana menghela napas. "Saya enggak peduli kamu sakit hati, Mama sakit hati. Saya enggak ada urusan. Saya sama Bisu cuma mau hidup damai. Ngikutin dendam kalian yang enggak selesai-selesai bikin hidup damai saya sama Bisu rasanya cuma mimpi."
Pemuda itu beranjak, menahan semua sakit di tubuhnya untuk mendekati Abimanyu bahkan sekalipun Abimanyu bisa saja langsung memukul dengan sarung tangan berduri itu.
"Saya bakal jagain mereka. Bisu plus Mama. Kamu harus pilih. Kamu nerima Bisu sepaket sama Mama, atau nolak Mama yang otomatis nolak Bisu."
"...."
"Pilihan ketiga cuma soal nyawa kamu, Abimanyu."
*
"Enggak ada apa-apa," kata Abirama saat memasuki ruangan Abimanyu di posko. Karena hanya mereka berdua, Abirama tidak menggunakan formalitas. "Dia cuma dateng sendiri. Enggak ada pengawas, enggak ada pasukan, enggak ada identitas FAM."
__ADS_1
Hanya orang gila yang masuk ke tempat musuh tanpa perlindungan, tanpa jaminan keamanan bahkan secuil senjata. Apa anak itu sudah gila?
"Pa, gimana kalo kita nurutin omongan dia aja?"
"Kamu gila?" Abimanyu menoleh tajam. "Kamu mau biarin gitu aja yang nyiksa adek kamu bertahun-tahun?!"
"At least sampe dia bawa kita ke Adek."
Abirama tahu papanya sekarang sedang kalut. Dia sulit berpikir karena khawatir. Dia mungkin sudah sangat ingin melihat Nabila sampai tenggorokannya terasa sakit. Maka dari itu Abirama ingin sedikit membantunya.
"Pa, perjanjian bisa dilanggar. Kita cuma pura-pura nyerah, asal bisa ketemu Adek, baru habis itu kita agresif."
"Rahwana, jangan sembarangan ngomong." Olivia tiba-tiba masuk ke ruangan itu, menegurnya.
"Tapi Tante—"
"Aturannya Mahardika dari dulu jelas. Perjanjian enggak boleh dilanggar. Kalo kamu bikin perjanjian terus kamu sengaja langgar, sama aja kamu bikin malu. Kamu mau dieksekusi?"
".... Terus gimana? Kita cuma di sini nungguin dia mau ngomong?"
Abimanyu beranjak. "Emang harus disiksa baru dia mau ngomong, Liv."
"Abimanyu—"
Suara alarm lagi-lagi terdengar. Dari bunyinya, itu sinyal serangan. Abimanyu, Abirama dan Olivia keluar terburu-buru, melihat sejumlah tim tampak panik menyisiri sekitaran lokasi.
"Lapor, Pak!" kata seseorang sambil mengangkat tangannya hormat pada Abimanyu. "Tahanan melarikan diri. Pencarian siap dilaksanakan."
"Cari!" Abimanyu menggeram kasar, memberi perintah yang seketika dilaksanakan.
Ia tak peduli bagaimana anak itu melarikan diri tapi Abimanyu tidak akan membiarkannya lari.
"Lapor, Pak!" Seseorang lagi-lagi datang. Tapi kali ini dia menyerahkan sesuatu. "Kami menemukan ini. Dari pemeriksaan sidik jari, ini ditinggalkan oleh tahanan."
Abimanyu membuka lipatan kertas itu, menemukan tulisan tangan Rahwana yang singkat.
[Besok, jam 12 siang saya bawa Bisu. Kalau Om gerak dari sana, saya enggak jamin apa-apa.]
Urat-urat di tangan Abimanyu serasa akan meledak saking kuat cengkramannya.
"Cari," gumamnya lagi. "Cari dia sebelum jam enam!"
Beraninya bocah berlendir itu mengancam Abimanyu!
*
Nabila duduk meringkuk di jendela. Gadis itu berusaha untuk tetap terjaga, menunggu Rahwana pulang karena dia ternyata tidak ada kabar. Nabila khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya.
Dinginnya malam menembus kamar Nabila karena jendela yang terus terbuka. Karena tubuhnya juga capek, Nabila bersusah payah untuk tetap terjadi.
Sampai tiba-tiba ....
__ADS_1
"Bisu," panggil seseorang yang membuka pintu kamar Nabila. "Bisu, ini aku."
Nabila seketika beranjak, menarik pintu terbuka hanya untuk menemukan Rahwana yang babak belur.
Jelas Nabila terkejut. Menutup mulutnya ngeri dan bisa membayangkan sakit semua itu.
"Hehe, aku berantem sama orang. Maaf yah bikin khawatir."
Nabila menatapnya sedih. Buru-buru menarik Rahwana masuk dan menyuruhnya duduk. Gantinya Nabila yang keluar, diam-diam ke dapur untuk mengambil air dan beberapa buah. Nabila berusaha tidak terdengar, karena di rumah ini ia tidak boleh makan kecuali yang diberikan.
Setelahnya Nabila kembali ke kamar.
"Bisu manis banget deh, khawatir sama aku. Jadi mau cium."
Nabila melotot. Memukul paha Rahwana sebagai hukuman, tapi justru membuat dia mengerang sangat sakit.
"Argh!"
Nabila menegang panik. Ia kelepasan. Tangannya panik memegang paha Rahwana, takut jika sampai dia terluka parah di sana.
Namun Rahwana malah menahan tangan Nabila, sekonyong-konyong menarik punggungnya agar terjatuh ke pangkuan dia.
"Nah, gini baru enak," kata dia tanpa rasa berdosa.
Nabila kembali melotot.
"Apa sih, Istriku? Perlu banget yah marah gitu? Lucu tau." Rahwana menusuk-nusuk pipi Nabila dengan telunjuknya. "Ssssshhh, mau kucium banget kamu nih. Mau enggak?"
Nabila membuang muka kesal.
"Dih, ngambek. Kan suami istri boleh ciuman. Sini dong."
Nabila mendorong bahu Rahwana, memaksa melepaskan diri darinya. Ketika Rahwana sok meringis lagi, Nabila tidak peduli. Ia mengambil kain lap bersih dari dalam mangkuk air, lalu mulai mengelap bekas darah di wajah Rahwana.
Sentuhan Nabila yang penuh hati-hati itu seketika membuat Rahwana tersenyum.
"Bisu."
Nabila menatapnya.
"Bisu istri aku kan? Kita udah nikah."
Nabila mengangguk.
"Kalo gitu Bisu ... jangan pergi kalo enggak sama aku, yah?"
Nabila sekali lagi mengangguk.
Ia tidak akan pernah pergi, kecuali bersama Zayn atau Rahwana.
Itu sudah dari dulu sekali.
__ADS_1
*