Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
part 20


__ADS_3

Sejak mendarat di India, Abimanyu tak sedikitpun beristirahat. Ia secara langsung memantau pencarian entah lewat jalur komputer ataupun dari pencarian lapangan. Zayn bilang dia di India namun India luas. Dia juga tidak meninggalkan jejak apa pun selain informasi video itu hingga butuh waktu memastikan di mana sebenarnya lokasi Nabila.


Di antara suasana tegang dan bunyi ketikan cepat dari sepuluh orang sekaligus, alarm tiba-tiba berbunyi. Suara Abirama terdengar lewat interkom.


"Lapor, Pak," kata dia sebagaimana bawahan pada umumnya. "Ada pesan dari titik H untuk Bapak. Voice-nya langsung saya kirim dari sini saja."


"Ya." Abimanyu hanya menjawab singkat. Menunggu sampai sebuah suara tiba-tiba terdengar di seluruh ruangan.


Itu bukan suara Abirama.


"Saya Rahwana."


Abimanyu mengerutkan kening dan Olivia seketika menoleh padanya. Mereka berdua jelas terkejut mendengar aksen fasih bahasa Indonesia dari seseorang yang namanya tak pernah mereka dengar.


"Rahwana? Kamu dari Faksi Anti-Mahardika?" tanya bawahan Abimanyu yang bersama orang asing itu saat merekamnya.


"Faksi Anti-Mahardika? Hah, kalo aja saya lahir lebih cepet, kayaknya saya gabung jadi Number-nya Mahardika. Ngomong-ngomong, saya fansnya. Semoga bisa ketemu sama Lady Rose."


"Suaranya kayak masih muda," timpal Olivia, mendengar baik-baik sambil menganalisis. "Dari nada suara, tim di titik H lagi tegang sementara Rahwana ini santai-santai aja. Besar kemungkinan FAM udah ngepung di sana."


Abimanyu mengangguk, setuju dengan kesimpulan itu saat tiba-tiba suara Rahwana kembali terdengar.


"Saya mau ketemu sama Abimanyu."


Kalau dia tahu nama Abimanyu, berarti memang jelas dia anggotanya Zayn. Olivia sudah berusaha keras mencari semua indentitas tim dari Zayn namun ternyata masih ada orang lain.


"Kamu mau apa ketemu Pak Abimanyu?" tanya perwakilan tim Abimanyu lagi, di rekaman itu.


"Hm? Ngapain yah? Minta pertanggungjawaban karena dia bikin kakak saya bunuh diri—"


Apa?!


"—atau mungkin ngopi sambil bincang-bincang mertua-menantu?"


Abimanyu menahan napas. Apa yang anak muda itu bicarakan? Kakaknya yabg bunuh diri ... maksud dia Sakura?


"Sakura harusnya enggak punya adek!" Olivia ikut tersentak.


Tapi tak bisa melanjutkan karena Rahwana masih berbicara.


"Kayaknya Om—atau mungkin Papa Mertua? Kayaknya Papa Mertua udah siap bikin masalah di sini. Yah, walaupun harus dibantuin sama powernya Narendra, sepuluh tahun waktu yang cukup buat bikin India mau akur sama pewaris Mahardika. Kayaknya asal enggak terlalu banyak korban, pemerintah enggak terlalu masalah sama kalian di sini. Sampe diijinin bawa jet tempur dua."


Apa yang sebenarnya dia ocehkan? Dan APA MAKSUDNYA PAPA MERTUA?!


"Dia enggak sembarangan," gumam Olivia. "Yang tau soal hubungan Narendra sama Mahardika sekarang itu cuma sedikit. Publik harusnya masih ngira kita perang kekuasaan. Kalo dia tau berarti ...."


Dia memantau politik dari sudut yang menyebalkan.

__ADS_1


"Kalau saya sih enggak masalah Papa Mertua mau jatuhin bom. Korbannya seribu pun saya enggak peduli. Tapi yah, saya lagi baik, jadi gimana kalau kita selesaiin masalah kita secara 'kekeluargaan' aja, Papa Mertua?"


Tim Olivia akhirnya berhasil melacak dan di layar terpampang jelas video seorang pemuda berbaju tradisional India tengah mendongak pada langit tengah malam, tersenyum dengan mata terpejam.


Olivia dan Abimanyu sama-sama tercengang melihat wajah pemuda itu.


Itu persis seperti senyum dari perempuan imut yang dulu Abimanyu rusak hingga dia meninggalkan dendam bergejolak.


"Sakura," lirih Abimanyu di antara ketakutan.


*


"Rahwana kenapa belum pulang?!" Elis bergerak gelisah kesana-kemari sambil berusaha terus menghubungi anak semata wayangnya.


Dia pergi sejak pagi, tak bilang mau ke mana selain kalimat kalau dia mungkin akan lama jadi jangan mencarinya. Biasanya Rahwana selalu pulang paling lambat jam tujuh malam, namun ini sudah hampir jam dua belas malam.


"Zayn, kamu enggak bisa apa nyuruh orang nyariin Rahwana? Tante khawatir!"


"Tante, anak Tante bukan anak kecil, juga bukan perempuan. Dia pasti enggak pa-pa."


"Tante khawatir, Zayn! Minimal harusnya dia angkat telfon!"


Zayn mengerutkan keningnya kesal. Diam-diam sebenarnya Zayn juga berharap bisa tahu dan jelas ia sudah meminta Rin melacak Rahwana.


Bocah sialan yang setelah dewasa malah lupa peran itu, masalah apa yang dia rencanakan? Zayn tahu dia pergi pasti untuk urusan Nabila dan kedatangan Abimanyu. Tapi apa?


Bocah itu? Zayn jauh lebih percaya kalau dia tenggelam di sungai daripada dia tertangkap oleh orang-orang Abimanyu. Lagipula tim pencari Abimanyu belum mendekat ke kota ini.


"Tante tenang aja. Rahwana baik-baik aja."


*


"Kamu mau nipu saya?" Abimanyu tak pakai tunggu untuk menghampiri posko titik H di mana pemuda bernama Rahwana itu menunggu.


Dia benar-benar santai sekalipun orang-orang bersenjata lengkap mengelilinginya. Seolah dia merasa nyawanya itu seribu jadi kalau hilang satu pun tidak masalah.


Tapi mungkin saja itu karena wajahnya. Hampir sama seperti Kisa dulu yang wajahnya dibuat mirip dengan Juwita agar Abimanyu tidak menyakitinya.


"Kasar banget, Papa Mertua. Emangnya muka saya muka-muka operasi?"


Abimanyu mengerutkan kening dalam. Tidak. Abimanyu bisa melihat itu memang wajah alami dia.


"Jadi kamu saudaranya Sakura? Sepupunya?"


"Adek kandung."


Rahwana melepaskan perban di jari telunjuknya, menunjukkan sebuah luka sayat kecil yang masih segar. Dengan santai dia mencolek ujung meja, meninggalkan darahnya di sana.

__ADS_1


"Silakan. Kalian pasti bawa alat buat tes beginian kan? Takutnya Om Zayn ngasih perempuan asing yang mukanya dibikin mirip sama Bisu."


"Bisu?!" Abimanyu menggebrak meja. Membuat seseorang yang hendak mengambil darah Rahwana jadi ragu. "KAMU MANGGIL ANAK SAYA BISU?!"


"Karena dia Bisu," jawab Rahwana serius.


"ANAK SAYA ENGGAK BISU! JANGAN SEMBARANGAN NGOMONG KAMU!"


"Abimanyu." Olivia menahan bahunya, mengingatkan Abimanyu bahwa dia harus tenang. Bisa saja ini cuma permainan emosi dari Rahwana. "Jadi, Rahwana, kenapa kamu manggil Abimanyu papa mertua? Maksud kamu apa?"


"Emang ada maksud lain? Maksudnya ya aku sama Bisu suami-istri."


Meja yang membatasi mereka mendadak terlempar dan kini leher Rahwana sudah tercekik oleh tangan Abimanyu.


"KAMU APAIN ANAK SAYA?! KAMU MAU BALES DENDAM?! KALAU MASALAH KAMU SAMA SAYA, CARI SAYA! BIKIN MASALAH SAMA SAYA! JANGAN JADI PENGECUT YANG BERANINYA CUMA DI BELAKANG SAYA!"


"Kayaknya Papa Mertua salah—"


"ANAK SAYA BUKAN ISTRI KAMU!"


"Bisu istri saya," tegas Rahwana tak peduli sekuat apa cekikan Abimanyu. "Bisu—enggak, Nabila istri saya, Abimanyu."


Abimanyu sudah terlalu kalap. Tubuh pemuda itu diangkat hanya dengan satu tangan, sebelum tangannya yang satu lagi melayangkan pukulan keras.


Pukulan itu terlalu keras sampai Rahwana terlempar ke batang pohon, membuatnya tampak meringis.


Tapi Abimanyu belum selesai. Didatangi pemuda itu, meraih kerah bajunya dan kembali memukul wajahnya. Tentu saja tidak ada yang menghentikan. Mereka semua gemetar melihat kemarahan dari komandan mereka yang mungkin sudah menahan seluruhnya sejak sepuluh tahun terakhir.


Hanya saja ....


"Sakit," gumam Rahwana tenang, walah darah bercucuran. Pukulan Abimanyu sudah berhenti sekalipun dia masih terlihat ingin.


"Balikin anak saya!" geram Abimanyu.


Rahwana justru tertawa kecil. "Bisu," bisiknya. "Sesakit ini ternyata yah?"


"JANGAN BANYAK OMONG DAN BALIKIN ANAK SAYA!"


"Katanya kamu udah kalah dari Zayn sejak Bisu lahir, Abimanyu." Rahwana berusaha beranjak meskipun lehernya langsung dicekik. "Tapi itu hal kedua. Hal pertama apa yang sebenernya bikin kamu kalah?"


"Mulut kamu mungkin sobek duluan sebelum ngasih tau saya."


"Ya," Rahwana tersenyum, "kelahiran saya yang paling pertama mastiin kamu kalah."


Pukulan menyakitkan setelah itu harus dirasakan Rahwana sebagai bayaran dari omongannya.


*

__ADS_1


__ADS_2