Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
I Love You, Son


__ADS_3

"Beb, where you've been, seriously?"


Sakura menyambut Abimanyu dengan wajah panik. Perempuan itu dan orang tuanya berpikir kalau Abimanyu mau membatalkan pernikahan karena mendadak sadar bahwa mereka menikah terlalu tiba-tiba.


"Sorry." Abimanyu berdehem, bingung harus menatap Sakura atau pergi menata rambutnya atau pergi merokok setidaknya sebatang agar ia tenang. "Yang lain di perjalanan. Aku ngebut ke sini jadi mereka belakangan."


Sakura justru menghela napas lega. Memegangi lengan Abimanyu. "Aku kira kamu kabur."


Abimanyu ingin. Pernikahan ini benar-benar omong kosong. Banyu pasti kehilangan akal sehatnya saat dia mengatakan ini dan Abimanyu jauh lebih tidak waras sebab menghadirinya.


"Bi." Sakura mendongak sekaligus mengarahkan wajah Abimanyu padanya. "Semua orang ngira aku hamil. Mereka bilang satu-satunya alasan kenapa Abimanyu mau nikah sekarang, buru-buru ya pasti cuma karena itu. Aku takut."


Abimanyu diam saja. Karena memang sudah jadi sampah maka Abimanyu akan jujur bahwa ... ia tidak peduli.


"It'll be fine." Abimanyu menjawab setelah lama terdiam. "Tapi kamu enggak hamil beneran, kan?"


"Bi!"


"Just to be sure." Abimanyu melepaskan Sakura. "Udah. Aku mau masuk sekarang."


Sakura mengangguk dengan rona kebahagiaan di wajahnya. Bagi gadis polos itu, walau orang-orang berkata pasti ada masalah sampai Abimanyu mendesak pernikahan terjadi secepat mungkin tanpa ada rencana sebelumnya; bagi Sakura itu tidak penting.

__ADS_1


Abimanyu nyatanya akan masuk ke sana untuk menjabat tangan penghulu, meresmikan hubungan mereka begitu saja. Bukankah kadang-kadang memang ada sesuatu yang terjadi tiba-tiba? Pasti ini salah satunya.


Pasti.


Dan sementara Sakura berpikir demikian, Abimanyu sibuk menahan dirinya tidak merokok. Perasaan Abimanyu tak tenang. Ia sudah berusaha keras menahan dirinya tidak mengumpati Banyu karena ide tolol ini.


Justru, saat Abimanyu duduk menunggu waktu ijab kabul dimulai, matanya terpaku pada kedatangan Juwita bersama Papa. Dia terlihat sangat cantik walau make upnya sangat tipis. Bibirnya diwarnai lebih terang hari ini, bertolak belakang dengan polos berlian di lehernya.


Tatapan Abimanyu tertancap pada lekuk leher Juwita. Melihat anting cantik yang belum pernah Abimanyu lihat dan membuatnya terlihat seperti istri rich sesungguhnya.


Sebelum tiba-tiba semua itu terhalang oleh tubuh seseorang.


"Mungkin lo yang mau ngumumin." Abimanyu membalas tak peduli. "Teriak aja sekalian."


"Brother, trust me, satu-satunya alasan kenapa gue nyembunyiin penjahat kelamin kayak lo itu karena gue enggak mau ngancurin keluarga yang Juwita jagain mati-matian. Yang Mama TINGGALIN buat Juwita JAGAIN mati-matian."


Abimanyu mendengkus dan melirik adiknya yang duduk bersandar pada meja, hanya agar Abimanyu berhenti melihat Juwita.


"Lo jadi sok suci dari kemarin, brother." Abimanyu mengedik ke satu arah. "Lo boleh suka banget sama body Talisa tapi gue enggak boleh. Lo enggak pernah denger kata adil?"


"Bullshiit di dunia habis elo itu keadilan." Banyu beranjak pergi karena kini Juwita duduk di sofa tempat nyonya-nyonya duduk dan posisinya agak membelakangi tempat Abimanyu.

__ADS_1


Abimanyu ditinggal dalam keheningan pikirannya yang amburadul. Semakin dan semakin lama ia duduk di sini, tubuhnya semakin panas menolak.


Otaknya menyuruh Abimanyu pergi, tapi ia tetap duduk, menahannya.


Entah untuk siapa.


"Kamu mau nikah, bukan bunuh orang." Adji tiba-tiba duduk di kursi yang memang disiapkan untuknya. "Sekarang otak kamu yang kacau itu mikir apa?"


Abimanyu melirik. "What do you care?" [Emang urusan Papa?]


Jawaban yang sangat ... tidak menunjukkan status Abimanyu sebagai anak. Adji melipat tangannya, diam memandangi meja.


Tinggal beberapa menit lagi sebelum acara dimulai, jadi Adji ingin menyampaikan pendapat jujurnya.


"You know what, Son?" Adji menatap anak itu dengan berbagai emosi berkecamuk. "I love you."


Mungkin dia tidak mengingat itu atau mungkin dia tidak merasa itu nyata tapi Adji ingin dia tahu. Adji mencintai anak-anaknya sekalipun ia selama ini keras pada mereka.


Dan mungkin kalimat itu bisa mengetuk sesuatu yang sedang membeku dalam sana.


*

__ADS_1


__ADS_2