
"Lah, bukan makasih?"
"Kamu kira ini mainan?!"
Juwita bahkan buru-buru menutupnya, dibuat takut saking banyaknya uang di dalam sana.
"Heh, enggak boleh yah kamu begitu, Mas. Uang tuh bukan mainan. Awas yah kamu ngomong begitu lagi, kucubit sampe kam—mmpt!"
Adji berhasil menutup mulut cerewet istrinya dengan bantuan roti cokelat yang tadi mereka beli.
"Enggak saya lepasin kecuali kamu janji enggak ngomel-ngomel."
Terlihat jelas Juwita masih mengomel, jadi Adji tak melepaskan.
"Saya enggak main-main. Saya juga tau ini uang banyak. Banyak banget malah. Kalau saya pake investasi, atau saya pake modal buka usaha baru, mungkin jauh lebih bermanfaat."
Terus kenapa dia mau memberikannya pada Juwita?!
Terlihat jelas begitu pertanyaan istri Adji, lewat matanya yang melotot.
"Saya mau ngetes kamu, gimana kamu pake uangnya."
Juwita berhenti melotot, langsung terdiam.
"Saya enggak bakal protes mau kamu apain juga. Kamu beliin baju bermerek selusin kek, kamu beliin tas selusin kek, atau mungkin kamu beli berlian ini itu kek, saya enggak bakal protes."
Adji akhirnya melepaskan roti dari mulut Juwita. Yang setengahnya sudah dimakan wanita itu sambil bengong.
"Yang ngatur keuangan di rumah sekarang masih saya. Belum saya kasih ke kamu, kan? Anggep aja ini tes. Gimana kamu gunain uang yang saya kasih. Kalau kamu bagus ngelola, saya juga bakal percayain keuangan keluarga ke kamu."
Juwita mendorong koper itu ke Adji. "Yaudah, aku kasih ke kamu."
"Eh?" Gantian Adji yang melongo.
"Aku enggak tau ngelola uang banyak, Mas, demi deh. Aku juga enggak mau ngeliat uang sebanyak ini depan aku. Emang keliatannya enak sih, kayaknya mau beli harga diri orang juga bisa. Tapi berarti tanggung jawabnya besar."
__ADS_1
Juwita membuang muka, tidak sudi.
Kalau sampai uang itu ia terima, Juwita benar-benar bakal pusing. Sudahlah harus mikir inves ke mana, terus harus beli barang yang nanti harganya bakal naik dan menguntungkan, habis itu kalau rugi, Juwita yang sakit hati.
Biar Adji saja yang pusing soal uang. Juwita rela dikurung di dalam rumah.
Ia tak sanggup kalau harus memikirkan soal ini dan soal itu. Memikirkan soal Cetta saja Juwita sudah mewek.
Dari dulu kan Juwita sudah bilang bahwa kalau bukan karena terpaksa, ia tak akan mau kerja. Soalnya kerja itu capek, bikin sakit kepala, bikin beban mental nambah.
Lebih enak cuci piring dan ngepel. At least Juwita tidak perlu memikirkan kalau nanti ia rugi, uangnya hangus berapa juta.
"Saya kan ceritanya mau ngetes—"
"Aku enggak lulus tes, IYEY
!" Juwita melompat gembira, kabur dari koper itu.
"Itu tugas kamu, bukan tugas aku. Aku sukanya masak aja. Bodo amat soal uang gimana."
"Ya seenggaknya beliin apa gitu. Gucci enggak mau?"
"Gucci, Juwita."
"Kalo kamu mau beliin aku Gucci kek, pot kek, bunga kek, kamu aja yang beli. Jangan nyuruh aku beli sendiri."
Juwita merentangkan tangannya bebas. Lepas, tanpa beban dan tidak mau menambah beban.
"Aku enggak mau mikir soal uang. Enggak mau tau soal uang. Yang kerja itu suami, titik enggak pake koma."
Adji memijat keningnya, mendadak malah pening karena istrinya begini.
Ya berarti bagus, sih. Dia mempercayakan pengelolaan uang pada Adji.
Juwita pun memang selalu bilang ke Adji jika rumah butuh sesuatu. Bahkan kalau dia tahu ada uang Adji di laci, Juwita pasti bakal bilang dulu, baru dia ambil jika diperintahkan.
__ADS_1
Cuma, itu lucu saja, karena sepertinya dia malah anti.
"Kamu maunya dibeliin es krim aja?" Adji duduk di tepi kasur, mengusap sayang pipi istrinya. "Maunya cokelat aja sama Cetta?"
"Iya."
Adji tersenyum lembut.
Kalau istri sudah tidak banyak minta ini dan itu, berarti dia memang sudah merasa sangat berkecukupan dari segi mana pun.
Maka dari itu Adji senang.
"Sebagian uangnya aku investasiin buat yayasan anak jalanan. Berdoa biar enggak ada lagi anak kecil yang kesusahan."
Juwita mengangguk.
"Sisanya lagi mau apa? Mobil gimana?"
"Gak."
"Satu aja. Kamu minta satu aja. Saya mau kasih. Apa aja kamu minta."
Juwita mengerutkan bibir, akhirnya mau memikirkan sesuatu.
"Kalo gitu ... aku mau liburan."
"Oke, ke mana?"
"Ke mana aja boleh?"
"Iya."
"Tapi ajak Ibu sama Ayah juga, yah?"
"Sama Mama juga."
__ADS_1
"Mau ke Roma." Juwita menjawab penuh semangat. "Aku dari dulu pengen ke Eropa. Liat menara Pisa."
*