
Paginya, Juwita membuka pintu kamar anak-anak untuk membangunkan mereka, tapi terkejut menemukan Abimanyu sedang mengancing seragam.
Lah, ini mimpi? Perasaan ini anak selalu lari pagi bahkan jika kemarin malam meteor jatuh di samping rumah.
"Nanti kita berangkat sore. Sekalian aku jemput aja di sekolah," ucap Juwita, mengenai Sandy Purnawirawan yang mau Abimanyu temui.
Tapi tanpa menunggu dia menjawab, Juwita berlalu.
"Bangunin adekmu."
Sebenarnya Juwita sudah memaafkan dia, dan hanya berpikir menasehati agar jangan terlalu mementingkan diri sendiri. Cuma, boleh dong kalau Juwita bersikap sedikit dingin?
Biar dia tahu kalau dia membuat orang lain tersinggung ya dia harus tanggung jawab.
"Kakak!"
Cetta yang baru bangun langsung berlari menghampiri Juwita di dapur.
"Kamu sana mandi dulu."
"Kakak udah enggak nangis?"
"Gaaak. Tes vokal doang kemarin. Sana, sana. Mandi yang bersih."
Suasana sarapan kali ini tenang, walaupun Juwita kepo berat kenapa Abimanyu tidak pergi lari pagi. Jangan bilang dia kesambet jin?
"Kamu mau ke Ibu? Saya anter?"
Juwita menggeleng. "Naik mobil sendiri aja kalo boleh. Soalnya nanti mau jemput Abi."
Bapaknya yang disebut melirik, tapi kemudian mengangguk, menyerahkan kunci mobil lain ke tangan Juwita. "Hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung telfon."
__ADS_1
Adji menyempatkan diri mencium kening Juwita dan Cetta sebelum beranjak pergi, tidak mengajak Abimanyu atau Banyu bicara sama sekali.
Mata dua anak itu jelas bisa melihat jarak antara Juwita dan Adji sudah terpangkas habis.
Waktu sama-sama berada di bus menuju sekolah, Banyu mengutarakan pertanyaan pada abangnya.
"Kalo Juwita punya anak, kira-kira Papa masih peduli sama kita?"
Abimanyu cuma diam, menjalani harinya seperti biasa, pura-pura tidak terganggu dengan apa pun yang Juwita dan Adji tunjukkan.
...*...
Sore seperti yang dijanjikan, Juwita pergi menjemput Abimanyu ke sekolah buat pergi bersama ke stadion tempat atlet voli kenalannya latihan.
Di perjalanan mereka masih saling diam, dan cuma Cetta yang mengoceh sana-sini.
Waktu hampir sampai ke stadion tujuan mereka, Juwita menghentikan mobil, tidak sengaja mihat anak kecil pemulung memanggul karung yang besarnya nyaris melebihi tubuh anak itu.
Mungkin dia masih di usia Cetta.
Cetta langsung memunculkan kepalanya. "Mana?"
"Itu yang bawa karung."
Abimanyu mengangkat alis tidak paham.
"Kok hero? Itu kan pengemis, Kakak."
"Congormu, Bocah. Manggul karung begitu dibilang pengemis. Itu dia kerja, bocah. Kerja."
Juwita membuka pintu setelah mengambil sejumlah uang di dompetnya.
__ADS_1
"Sini, kenalan dulu sama calon lelaki sejati. Biar kamu jadi laki juga."
Cetta menurut turun, sementara Abimanyu cuma duduk di mobil menyaksikan.
Mata anak itu memerhatikan Juwita berjongkok di samping si bocah pemulung, nampaknya bicara sesuatu sambil mengusap kepala Cetta.
Waktu Abimanyu pikir dia cuma mau memberi uang, tiba-tiba Juwita bantu melepaskan sepatu Cetta, dan memasang kan sepatu itu ke kaki bocah tadi.
Jelas Abimanyu heran. Kenapa dia harus melakukan itu? Uang yang dia berikan tadi sepertinya cukup banyak. Beberapa lembar uang merah.
Itu seharusnya sudah cukup.
Apalagi waktu kembali, karena Cetta tidak pakai sepatu lagi, otomatis dia harus digendong.
"Lo ngapain sih sampe segitunya? Ngasih uang doang kan cukup."
Juwita menatap Abimanyu dengan sorot mata jijik. Itu sumpah bikin Abimanyu berang.
"Anak yang taunya terima enak, bisa bebas luangin waktu buat hobi karena enggak mikirin besok harus makan apa," ucap Juwita dingin, "seenggaknya harus berguna buat ngasih orang lain, kan?"
"Apa?"
"Jadi kamu enak, yah. Ngeliat orang cuma dari sudut pandangmu yang, yah, begitu-begitu aja."
Abimanyu terbelalak. "Bacot lo, anj*r. Lo juga nikah sama bokap gue buat duit!"
"Yamakanya itu kan aku yang alhamdulillah beruntung dapet duda kaya ini juga harus berbagi biar sesamaku di luar sana tau rasanya ditolongin?" balas Juwita sinis.
"...."
"Emang apa sih yang penting buat kamu selain diri sendiri?"
__ADS_1
Abimanyu tidak bisa membalas.
*