Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
95. Kok Bisa?


__ADS_3

Banyu mau menarik Juwita keluar biar tidak mendengar racauan abangnya, tapi Juwita mengangkat tangan, menghentikan Banyu bicara atau bergerak.


"Suka apa?" tanya Juwita, dengan ekspresi tegang.


"Elo." Abimanyu pasti bakal membunuh dirinya sendiri kalau nanti dia sadar.


Tangan anak itu terulur ke wajah Juwita, menatapnya sayu dan murung.


"Gue suka elo. Tapi lo istri Papa. Tapi gue suka. Gue sayang. Gue mau."


Juwita mengetatkan rahang, tidak bicara biar tidak bertambah masalah.


Orang mabuk itu otaknya sengklek. Dia bakal bilang kalau bumi itu bentuknya kayak lemper dan bulan adalah risol.


Namun di antara racauan tidak jelas, bakal banyak rahasia yang tumpah-tumpah dari mulut orang mabuk.


Juwita menipiskan bibir. Menenangkan dirinya sendiri dalam hati karena percuma juga ia bereaksi berlebihan di sini.


"Gue suka lo, Juwita." Abimanyu terus mengulangnya. "Gue suka. Kenapa?"


Ajeng kah yang mempengaruhi? Atau ini sungguh-sungguh perasaan Abimanyu padanya?


Juwita tak bisa berpikir dari mana datangnya perasaan itu, tapi tidak ada juga yang bisa ia lakukan kalau memang ada.

__ADS_1


Lama Juwita mendengar racauan Abimanyu sampai akhirnya dia terlihat capek, dan pelan-pelan mulai tak sadar.


Dibantu Banyu, Juwita membawa anak itu keluar, berbaring di kasur yang Sandy punya.


"Lo enggak pa-pa Abang ngomong begitu?" tanya Banyu setelah sekian lama diam memerhatikan.


Bahkan Banyu sendiri jijik dengan perasaan Abimanyu itu.


Bukan pada abangnya, dan Banyu yakin Abimanyu juga bukan maunya sengaja.


Juwita memang cantik, dan apalagi kepribadian dia yang ngeselin entah kenapa masuk dalam mendidik mereka.


Banyu juga kadang merasa abangnya cuma salah pengertian. Mama tidak ada, mereka sebenarnya masih sangat kesepian, tapi Juwita ada dan pelan-pelan sakit hati mereka mulai membaik.


Juwita istimewa buat Banyu juga.


"Enggak tau." Juwita bergumam kosong, menatap Abimanyu dengan sorot mata bimbang. "Kok bisa, yah?" gumam Juwita, lebih kepada dirinya sendiri.


Karena Juwita juga bukan orang polos, ya Juwita tahu proses suka itu ada.


Biasanya laki-laki bakal jatuh cinta pada perempuan cantik, badannya bagus. Lalu pelan-pelan dia bakal semakin jatuh cinta kalau kepribadian perempuan itu halus, lembut, atau intinya positif.


Laki-laki memang gampang suka, setahu Juwita.

__ADS_1


Tapi tetap saja, sulit baginya paham kenapa Abimanyu bisa suka padanya.


Kayak, Juwita rasa Abimanyu itu melihat Juwita lebih seperti ibu-ibu beranak lima daripada perempuan pada umumnya. Karena, status Juwita ya status ibunya dia.


Tapi nyatanya itu ada. Dia merasakan perasaan aneh itu pada Juwita.


"Mas tau dari mana Abi suka sama gue?" tanya Juwita pada omnya yang hanya melipat tangan di sudut ruangan. Pantas saja tadi Bima mengisyaratkan kalau nanti Juwita akan tahu.


"Ajeng," jawab Bima tenang. "Gue juga awalnya enggak yakin sih, tapi yah, lama-lama keliatan juga."


Tidak terlihat di mata Juwita sebab ia cuma memandang anak ini sebagai anaknya.


"Tapi gue perasaan enggak pernah mancing dia, loh." Juwita mengerutkan kening frustrasi. "Perasaan di rumah juga gue enggak pake baju terbuka gimana banget. Kok bisa?"


"Menurut gue dia cuma beradaptasi sayang sama lo, Wi." Sandy menimpali. "Gue tau ini anak emang keliatan lagi murung, sedih, takut gitu. Kebetulan ada lo. Bukan suka yang kayak, ya dia nafsu sama lo. Enggak gitu kayaknya."


Banyu mengangguk, berharap hal sama.


Kalau mengikuti istilah Juwita, sesontoloyo apa pun abangnya, Abimanyu pasti punya kewarasan.


Dia pasti juga tahu batas.


*

__ADS_1


__ADS_2