Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
114. Mau Apa Sebenarnya?


__ADS_3

Kalau keluarga itu bisa diputus hubungan, Juwita rasanya mau minta Adji putus hubungan saja dari keluarganya itu. Karena bukannya jadi support system, mereka malah seperti racun yang menggerogoti.


Amunisi Ajeng diluncurkan dengan baik ke arah Juwita.


Keluarganya Adji menelepon Adji untuk menanyakan bagaimana bisa Abimanyu mabuk, ketika dulu sebelum menikahi Juwita, Abimanyu tidak pernah minum.


Juwita diam mendengar Adji marah-marah. Dia lebih kepada emosi karena begitu banyak pertanyaan datang, sementara Adji sendiri masih tidak bisa menjawab pertanyaan dirinya sendiri.


Dalam hati Juwita juga takut kalau Adji sampai menyalahkannya, terhasut oleh omongan mereka.


Apalagi waktu Adji selesai menelepon, dia langsung naik, bukan ke kamar melainkan ke ruang kerjanya.


"Hufh." Juwita tarik napas dalam-dalam, mengembuskan lewat mulut.


Jangan nangis, jangan nangis, jangan nangis.


Namanya juga dunia, bukan surga. Ya isinya pasti banyak masalah, bukan buah-buahan dan marjan.


Setelah menenangkan dirinya sendiri, sekaligus berhenti menangis (padahal sudah berusaha jangan) Juwita naik, mengetuk pintu ruangan Adji.


"Mas, aku pergi dulu sebentar, yah."


Hening.


"Aku anggep boleh yah, Mas. Sebentar aja."


Juwita berlalu, tidak mau mengganggu lebih.


Jangan ganggu laki-laki saat dia sedang marah. Karena itu bisa menciptakan perang dunia kelima. Biarkan saja dia berpikir, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan.


Salah satunya adalah membujuk anak tirinya pulang.

__ADS_1


Tahu Juwita, mana mungkin Adji tenang anaknya di rumah orang. Jadi Juwita ambil mobil, mengemudikannya ke rumah sepupu Adji itu.


Namanya Riana.


Bukan sepupu dekat. Sepupu jauh.


Waktu Juwita tiba, Mbak Ria sedang di depan rumah menyiram tanaman. Bilang bahwa Abimanyu bersama anaknya pergi main voli di lapangan sekolah terdekat.


Juwita malu waktu Mbak Ria melihatnya, entah apa yang dia pikirkan. Tapi yah apa boleh buat. Juwita cuma bisa pergi ke sekolah yang dimaksudnya, mencari anak tirinya.


"Abimanyu!"


Dia menoleh atas panggilan Juwita. Akan tetapi berbalik tak peduli lagi, seolah Juwita tidak ada.


Kayaknya dia bilang 'udahlah enggak usah peduliin' pada temannya karena mereka tetap main voli bersama. Juwita duduk menonton, sabar menunggu mereka selesai sampai azan magrib terdengar.


Ada bagian dari diri Juwita yang bilang 'buat apa dirinya mengurusi hal-hal semacam ini?'. Sudah anak tiri, merepotkan minta ampun, dia yang bikin masakah Juwita yang kena, kurangajjar pula.


"Abimanyu." Jadi Juwita panggil lagi orangnya, menghampiri dia. "Abimanyu, ngomong dulu sama—"


"Gue enggak ada urusan sama lo."


"Jangan kayak gitu dong, Sayang. Ayolah. Ngomong dulu, yuk."


Abimanyu menepis tangannya risi. "Enggak usah ngomong sok manis."


"Kita ngomong dulu, yuk. Diskusi dulu."


"Enggak ya enggak. Ngapain sih lo ke sini?"


Dada Juwita sesak, demi Tuhan. Mengingat Adji marah di rumah, mengingat gosip di keluarga, mengingat kejadian Ajeng kemarin, berpikir diam-diam bahwa ... apa mungkin memang dirinya alasan semua hal ini terjadi?

__ADS_1


"Abi." Juwita mengikuti langkah Abimanyu, berusaha membujuknya baik-baik. "Abimanyu, kita ngomong dulu. Diskusi dulu baik-baik, Sayang. Ayo, dong."


Dia tak mau mendengar Juwita. Berjalan dengan langkah terburu-buru ke rumah Mbak Ria.


Anaknya Mbak Ria sudah kasihan meliat Juwita, begitu pula Mbak Ria. Apalagi Abimanyu malah masuk ke kamar mandi, mengunci pintu, tak mengindahkan ucapan Juwita sama sekali.


Juwita menunggu lagi, sampai anak itu keluar.


Tapi waktu keluar, dia masuk ke kamar anaknya Mbak Ria yang otomatis sungkan Juwita masuki.


"Bi." Juwita cuma berdiri di depan pintu. Melihat tas Abimanyu di lantai kamar itu bersama baju-baju berserakan khas anak kamar cowok.


Kayaknya dia bersenang-senang, tapi dia mesti pulang.


"Abi, ayo dong, Nak. Ngomong dulu."


Abimanyu langsung menoleh. "Gue bukan anak lo. Lo enggak punya anak."


Dikatai begitu, jantung Juwita rasanya tertusuk. Ia mengangguk-angguk, menerimanya saja biar cepat.


"Yaudah, ngomong."


"Lo mau ngomong aoa sih, hah? Mau ngomong apa? Mau nyuruh gue pulang? Gue enggak mau, udah titik. Mau ngomong apa lagi?"


Pada titik itu, Juwita tiba-tiba merasa seluruh belenggu emosinya lepas dan tenaganya habis.


Juwita menangis membenturkan keningnya ke kusen pintu, malu dan tidak mau sebenarnya begitu.


"Terus aku tanya kamu," balas Juwita setengah merintih. "Kamu mau aku apa sebenernya?"


Orang-orang di dunia ini mau Juwita apa sebenarnya?

__ADS_1


*


__ADS_2