
Adji jarang menelepon Juwita ketika sedang bekerja dan sejak awal Adji sudah menekankan jika Juwita tidak perlu menghubunginya kecuali urusan darurat. Itu bagian dari kenyamanan Adji dalam bekerja.
Karena itu Juwita langsung menduga ada alasan Adji meneleponnya tiba-tiba.
"Halo, Sayang. Anak-anak gimana?" sapa Adji lembut.
"Baik. Lila lagi gangguin Cetta main game, terus Nia lagi nonton, Yunia barusan bobo. Sama Abimanyu seharian," jelas Juwita singkat namun padat.
"Abimanyu di rumah seharian? Sakura?"
"Dua jam lalu pergi ke apartemennya katanya mau ngambil barang." Juwita bersandar pada meja dapur. "Ah, Banyu katanya ngerjain tugas dulu jadi pulang sekitar jam satu malem."
Karena semua orang sudah disebutkan, Adji pasti tidak akan bertanya lagi, maka Juwita balik bertanya, "Kenapa, Mas? Tumben kamu telfon."
"Mas mesti ke NY malem ini juga jadi kamu enggak pa-pa, kan? Sekalian mau nganter Mama juga."
Juwita mengerutkan bibirnya. "Mendadak banget," gumamnya sedikit cemas.
"Enggak masalah, kan? Mas pergi sebentar, boleh?" tanya Adji seolah meminta izin, padahal sebenarnya dia yang berhak memutuskan.
Tapi cara dia berbasa-basi membuat Juwita tertawa kecil. "Oke, kalo urusan kerjaan mau gimana lagi. Kamu ada keperluan mau dianterin? Nanti aku suruh Abimanyu nyusul ke kantor kamu."
"Enggak. Enggak ada. Mas pulang besok pasti jadi kasih tau anak-anak. Kalo sempet Mas beliin oleh-oleh."
"Oke, Mas. Hati-hati."
__ADS_1
"Hm. Oh, Mas lupa. Besok pagi ART yang kamu minta kayaknya bisa dateng. Mas udah pastiin semuanya aman."
"Siap. Makasih, Mas Sayang."
"Sama-sama, Sayang."
Juwita menatap ponselnya yang kini hanya menampilkan foto anak-anak sebagai wallpaper. Ini bukan pertama kali Adji mendadak harus ke luar negeri namun ini pertama kali Juwita merasa cemas.
Abimanyu tidak akan melakukan apa-apa, kan?
Baiklah, dia pasti tidak sampai melakukan hal yang menjijikan namun Juwita tidak mau kalau dia melakukan seperti yang terakhir kali. Itu sudah cukup menjijikan.
Semoga Sakura cepat kembali. Lagipula dia bilang cuma sebentar.
*
"Gue enggak ngerti banget deh sama Abimanyu." Perempuan itu mengeluarkan unek-uneknya. "Kek jaman sekarang mana ada coba orang nikah muda, yang enggak miskin tapi milih tinggal sama orang tua?"
Rini memasang ekspresi jijik seolah dia ketakutan membayangkannya. "Amit-amit sih gue."
"Iya, kan? Terus kayak, Abimanyu mendadak berubah tau enggak. Kayak, dia mendadak beda aja sama gue. Dia enggak pernah senyum sama gue sama sekali!"
"Serius? Kalian kan pengantin baru."
"Makanya gue bingung, Rin!" Sakura menyambar kopinya dan menenggak itu seperti alkohol. "Coba lo pikir pake logika deh. Dia tiba-tiba ngajak gue nikah, tanpa alasan apa pun lo tau gue enggak hamil! Gue udah ke dokter tujuh kali saking gue curiga gue benaran hamil. Tapi ugh!"
__ADS_1
"Oke, oke, tenang dulu."
Rini menyambar air putih dan menjauhkan kopi dari Sakura, takutnya dia tersedak. "Kita semua juga curiga, terus terang aja. Kalo emang lo enggak hamil, terus ... what's the point lo nikah buru-buru?"
"Itu juga gue enggak tau!" Sakura menatap sahabatnya itu saat memikirkan berbagai kemungkinan. "Jujur yah gue ngerasa ... Abimanyu selingkuh."
"Hah?!"
"Serius. Dia tuh kayak ... ya kayak cowok lagi selingkuh. Tapi gue udah coba cari. Gue udah coba yang gue bisa tapi gue enggak tau."
Rini mengerucutkan bibirnya, ikut bingung. "Lagian lo tau sendiri dia sama adeknya gimana. Lo udah denger enggak sih adeknya Abimanyu macarin diva fakultas kedokteran yang katanya Cindo super duper cantik? Katanya sih yah, katanya, Banyu bucin banget sama dia."
Sakura tertawa sinis. "Lo udah denger kalo Banyu macarin anak SMP, sepupunya sendiri?"
"Iyuh."
"Yap, iyuh." Sakura meraih kopinya yang sudah dijauhkan, tapi kini meminumnya biasa-biasa saja. "Kenapa sih cowok ganteng kayak mereka tuh berengsek?"
Rini mengangkat bahu. "Karena mereka ganteng?"
Sebenarnya karena Sakura terlalu terlena pada ketampanan dan tidak peduli pada reputasi Abimanyu yang jelas-jelas badjingan. Tapi Sakura tidak mau mengakui ia bersalah sebab itu normal kan menginginkan orang seperti Abimanyu?
Ya, normal bagi Sakura dan siapa pun yang mendukungnya.
"Gue beneran masih nanya, Rin." Sakura menutup wajahnya frustrasi. "Kenapa Abimanyu buru-buru nikahin gue terus nyuekin gue?"
__ADS_1
*