
Juwita bangun dari tidur waktu merasakan Cetta diambil dari sisinya. Ternyata itu Adji, memindahkan anak bungsunya ke sofa agar tangan Juwita berhenti tertindih.
"Jam berapa?" gumam Juwita, masih setengah sadar.
"Setengah dua belas." Adji menyempatkan diri menunduk, mencium kening Juwita. "Tidur lagi."
Kadang-kadang, Juwita itu suka mendadak sedih melihat Ayah pulang malam. Apalagi kalau Juwita dan Ibu tidur di depan televisi bersama, terus malam-malam Ayah datang menengok mereka sebentar sehabis kerja.
Menurut Juwita, itu adalah momen haru.
Ternyata melihat Adji begitu juga sama. Dia bekerja sampai tengah malam, capek tapi menyempatkan diri menengoknya sebentar.
"Kan aku bilang pulang aja ke rumah." Juwita balas meremas tangan Adji yang memegangnya. "Aku enggak pa-pa. Ada Cetta nemenin, suster dokter banyak. Anak-anak juga rajin dateng."
Adji malah tersenyum. Walaupun kelihatan dia sebenarnya capek dan mengantuk.
"Saya kangen aja." Adji mengecup punggung tangannya.
"Kangen ngangkangin?"
"Itu utama."
Juwita terkekeh pelan. Mengintip ke arah sofa di mana anak-anak tirinya tidur bersama, menginap karena mengira Adji tidak akan ke rumah sakit hari ini.
Yakin mereka tidur, Juwita menatap Adji lagi. Mengulurkan tangan ke wajah pria itu, yang ternyata mulai kasar ditumbuhi janggut.
"Kangen juga." Juwita menepuk-nepuk pipinya. "Aku udah sehat. Makanya biarin pulang."
"Sabar dulu."
__ADS_1
"Mas." Juwita menarik Adji agar menunduk, memeluk lehernya dan berbisik di sana. "Pulang, yah? Plis."
Adji malah mengecup leher Juwita, bernapas lamat-lamat di sana dengan kesan dia sebenarnya sangat merindukan wanita itu.
"Saya enggak mau lagi liat kamu begini." Suara Adji tak bisa menyembunyikan emosi yang bergolak dalam dirinya.
"Iya."
"Saya enggak mau lagi liat kamu nangis. Kalo perlu enggak usah ketemu siapa-siapa. Kamu buat saya aja, buat anak-anak aja. Kita hidup kok biar kamu enggak kenal siapa juga."
"Iya."
"Enggak usah punya temen. Biar saya yang jadi temen kamu. Ada anak-anak banyak. Biar Abi sama Banyu yang dengerin kamu curhat. Dari pagi sampe pagi lagi saya suruh mereka denger. Kamu enggak butuh siapa-siapa. Saya sama anak-anak cukup."
Juwita tersenyum. "Iya."
"Jangan kenapa-napa lagi." Adji bergumam lemah. "Sehat-sehat terus sama saya. Mama saya enggak suka bikin menantunya susah, kok."
Untuk sejenak, Adji melampiaskan rasa rindunya dengan memeluk Juwita. Begitu pun sebaliknya, Juwita mengusap-usap punggung Adji, memberi dia semangat buat bisa lebih sabar.
Kadang-kadang Adji mencium lehernya, yang Juwita balas mengecup bahu kokoh Adji.
Ketika dua orang itu menikmati waktu kecil mereka sebagai pasangan, Abimanyu sebenarnya dengar.
Dia sadar sejak Cetta dipindahkan.
Anak itu menutup mata, tapi sibuk menangani perasaan tertusuk di dadanya. Perasaan yang seharusnya cepat-cepat dihapuskan atau akan menjadi racun.
Atau mungkin sudah jadi racun.
__ADS_1
Sebab ternyata makin lama makin susah juga perasaan ini ditahan. Bukan Abimanyu pelan-pelan mau egois buat memiliki Juwita, tapi rasa pedih waktu melihatnya itu makin besar.
Kenapa, yah? Padahal Abimanyu sudah berulang kali bilang ke dirinya buat sadar.
Seperti kata Banyu, suka ya urusan hati yang tidak bisa diatur. Cuma tindakan kita bisa dikendalikan, dan pelan-pelan pasti perasaan juga hilang.
Pelan-pelan.
Kenapa mesti Juwita, sih?
Abimanyu sulit menahan ringisan di batinnya.
Lagian banyak perempuan. Liatin kek yang lain. Jangan yang itu.
Itu punya Papa.
"Bocahku."
Abimanyu malah membayangkan suara halus Juwita tiap memanggil mereka.
Merasakan bagaimana dia memeluknya—meskipun itu juga dengan Banyu, dan itu pelukan seorang sahabat—sambil tersenyum dan berbisik, "Makasih yah, udah ada. Kalau enggak ada kalian, aku enggak tau deh mau gimana."
Walaupun dia bilang kalian bukan kamu, Abimanyu tetap berdebar.
"Kalian bocah sontoloyo kesayanganku. Gratis kalau mau manggil Mama Tiri Cantik," begitu kata Juwita.
Abimanyu menelan ludah, sekaligus berusaha menelan pahit kenyataan.
Bagaimanapun, selamanya Juwita bukan untuk dirinya. Jadi cepat-cepatlah hilang, dasar perasaan terkutuk.
__ADS_1
*