Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
64. Tugasmu Buka Kaki


__ADS_3

"Juwita, makan." Adji menarik piringnya, mengambil sendok Juwita buat menyuapi. "Nih, aa."


"Enggak bisa." Juwita menjawab lemah. "Kebayang aku sama kodok. Itu nanti kubayangin kodok."


Baru bicara bicara, Juwita sudah muntah. Buru-buru dia lari ke wastafel, malah semakin muntah karena membayangkan kodok ada di tenggorokannya.


Nah inilah! Inilah makanya Juwita benci makhluk itu!


Habis dilihat, dilupainnya susah payah!


Lalu seenaknya orang-orang ini ketawa mengerjai Juwita!


Juwita memutuskan naik ke kamar, meninggalkan mereka makan bersama saja. Selesai makan Adji langsung menyusul. Menemukan istri mudanya itu tengah menggulung diri di selimut.


Ngambek.


"Makan es krim mau enggak?" tawar Adji lembut.


Juwita menggeleng. Cuma menenggelamkan wajahnya di tangan Adji.


Waktu Juwita melakukan itu, justru tak sengaja menyentuh luka di pipinya. Spontan Juwita meringis, membuat Adji ikut tersentak.


"Kenapa?" Adji mengusap-usap kulit pipinya halus. "Masih sakit?"


Juwita menggeleng. "Cium."


Adji dengan senang hati menunduk, mau mencium bibirnya.


"Bukan itu. Pipi maksudnya."


"Enggak sekalian?"


"Udah kayak kasir minimarket pake sekalian." Juwita bergeser, memberi Adji ruang untuk berbaring di sebelahnya.

__ADS_1


Buat mempermudah dipeluk.


"Besok anak-anak suruh sekolah, Mas."


Nampaknya mereka tidak sekolah demi menjaga Juwita, ketika Adji tetap harus pergi bekerja sedangkan rumah sepi.


Walau Juwita lihat ada lima orang berbadan kekar berkeliling di sekitar rumah sekarang, tetap saja beda kalau dijaga oleh keluarga dekat.


Tapi Abimanyu dan Banyu itu sebentar lagi ulangan semester. Juwita malah khawatir nilai mereka yang bobrok malah tambah bobrok.


Kan kasihan, yah.


"Biarin aja dulu." Adji mengusap-usap pinggangnya. "Anak-anak inisiatif sendiri, loh. Bukan saya yang suruh."


"Baguslah. Emang harusnya begitu," jawab Juwita setengah bercanda. "Tapi enggak pa-pa, serius. Kasian mereka enggak sekolah."


"Asal kamu mau ditemenin asisten."


Juwita menggeleng. "Trauma. Enggak mau."


Ya Juwita juga punya ketakutan, dan jujur memang merasa lebih aman kalau ada Banyu dan Abimanyu di sekitarnya.


Adji menunduk menatap Juwita. Mengusap-usap bibirnya yang tertekuk tanpa alasan.


"Kamu itu juga wasiat Melisa yang mesti saya jaga. Anak kesayangan Ayah Ibu yang saya minta. Nanti mereka sekolah kalau mereka mau."


Sepertinya memang kalau Adji sudah memutuskan, jarang bisa dibantah. Padahal dia bicaranya santai saja.


Juwita mengambil tangan Adji ke pipinya, memejam meresapi ketakutan yang pelan-pelan terbayang.


"Ibu sama Ayah kamu jagain juga kan, Mas?" tanya Juwita samar.


"Iya. Saya udah minta orang ngawasin rumah."

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong, Mas."


"Hm?"


"Keluarga kamu tau soal aku kemarin?"


"Kalau dari saya enggak pernah bilang. Tapi enggak tau."


Adji bicara begitu karena tidak bisa menjawab iya, mereka tahu.


Lebih spesifik, Oma Putri dan Tante Sarah tahu.


Adji tidak memberitahu. Abimanyu dan Banyu apalagi. Keluarga Adji yang lain juga sepertinya tidak tahu, namun itu membuat Adji tidak nyaman sebab Oma Putri dan Tante Sarah malah tahu.


Adji tidak bisa mencurigai siapa-siapa. Karena kemungkinannya banyak.


Yang Adji cuma bisa bilang, masalah ini masih butuh waktu untuk terpecah. Karena nampaknya orang di belakang layar itu cukup cerdas mengelak kesana-kemari.


Adji bersumpah akan menangkapnya. Siapa pun dia, orang yang menyentuh keluarga Adji tidak akan pernah ia biarkan hidup nyaman begitu saja.


"Udah. Kamu terima beres. Tugasmu bukan mikirin itu. Itu tugas saya."


Adji mencium wajah Juwita keseluruhan hingga ia terpekik geli.


"Tugasmu ini. Buka kaki."


"Gak mau."


"Ini enggak pake diskusi." Adji memaksa membuka kaki Juwita meskipun sebenarnya dia memakai celana santai. "Buka!"


Juwita terpekik, tapi juga tertawa.


Memang orang ini dari awal sudah kocak, sih.

__ADS_1


*


__ADS_2