
"Kamu gimana di sana, Juwi?"
"Baik kok, Bu." Juwita merapikan rambutnya saat menjawab panggilan yang diapit di bahu kanannya. "Baru awal juga, jadi belum ketemu siapa-siapa. Masih sama Ad—Mas Adji, anaknya, terus pengasuhnya."
"Anaknya gimana? Enggak nyusahin kamu, kan?"
Haha, sungguh tidak menyusahkan. Saking tidaknya, Juwita sampai gemas mau menampar bokong mereka berkali-kali.
"Baik semua kok, Bu. Manis banget malah. Bikin gemeeeeees banget."
Juwita harus mengepal tangan menahan kekesalan yang memuncak. Tapi ia terus menjawab baik agar Ibu dan Ayah tidak khawatir.
"Yaudah, Bu, aku mau bikin sarapan dulu. Nanti sore aku ke sana. Ibu sama Ayah baik-baik."
Begitu panggilan terputus, Juwita meletakkan ponselnya di atas meja dan keluar. Pergi ke kamar anak tirinya yang kemarin diberitahukan oleh perawat.
Mereka tidur dalam kamar yang sama, bertiga. Kata pengasuhnya, itu pengaturan dari Melisa jadi meski beda umur, mereka terbiasa bersama dalam satu ruangan.
Baru saja Juwita mau mengetuk, pintu sudah terbuka, menampilkan sosok Abimanyu baru setengah memakai kaus.
"Hadeh." Dia menghela napas kecewa. "Nenek nih enggak tau apa pagi-pagi mata harus ngeliat yang baik-baik?"
"Heh!" Juwita berkacak pinggang. "Kamu ketemu aku tadi, yah! Lagian kalo manggil yang konsisten!"
"Oh, maaf. Gue panggil nenek aja, yah? Soalnya mirip."
"Oh, mirip nenek kamu, yah? Duh, ngadu sama Papa enggak nih, yah?"
Abimanyu berdecak, pergi begitu saja karena merasa kalah.
Juwita yang merasa menang langsung tertawa kecil. Masuk ke kamar tersebut, menemukan sebuah ruangan yang diluar dugaannya.
__ADS_1
Pikir Juwita tadi, mereka tidur sekasur. Tapi ternyata tidak. Ada sebuah ranjang yang ditumpuk berdua, nampaknya satu untuk Abimanyu karena satu lagi diisi oleh Banyu.
Sementara itu, kasur Cetta untuk dia sendiri, diletakkan di sisi lain, dengan pagar pembatas di setiap sisinya.
Juwita menaiki tangga, melihat Banyu tidur sambil memeluk boneka ikan.
"Banyu, bangun." Juwita tak kenal dengan mereka, jadi sebagai orang dewasa, Juwita cuma bisa pura-pura kenal, pura-pura terbiasa. "Banyu, bangun. Banyu. Ba—"
"Akh, berisik!"
Buset.
"Bangun."
"Berisik!" Dia menutup telinganya dengan bantal. "Pergi deh lo."
Mau yang ini mau yang itu, semuanya menjengkelkan.
Bocah ini, nampaknya dia suka menggunakan sang adik kecil untuk berbuat brengsek. Cetta memang alat mengusili orang terampuh, karena anak kecil tidak pernah berdosa.
Juwita pun mendekati Cetta.
"Sayang." Juwita mengusap-usap pipinya. "Bangun, Nak. Cetta sayang, bangun, Nak. Hei."
Mata anak itu terbuka. "Mama?"
"Kakak." Juwita mengusap-usap wajahnya lembut. "Bangun, yah? Bangun. Sini, gendong sama Kakak. Ke Papa, yuk. Ayuk."
Selalu ingat satu hal. Anak kecil itu latah.
Kuncinya adalah memenangkan dia di awal agar mengikut.
__ADS_1
Cetta yang mendengar Juwita pun spontan mengulurkan tangan, mau digendong.
Juwita menggendongnya, merayu dengan ucapan sayang sampai dia nyaman.
Nah, begitu dia nyaman ....
"Kita bangunin Abang dulu, yuk. Sama-sama ke Papa."
"Abang juga?"
"Abang juga. Sini, bangunin Abang."
Juwita meletakkan dia di kasur atas, dan Cetta merangkak ke kakaknya. Merasa diganggu dengan tidurnya, Banyu langsung menggeram.
"Akh! Cetta, awas!"
Diteriaki macam itu, Cetta jelas menangis.
Juwita yang melihat itu langsung tertawa. Apalagi waktu Banyu bangun, terpaksa harus minta maaf sudah membentak adiknya.
"Lo!"
Juwita menjulurkan lidah. "Makanya dibangunin baik-baik ya bangun dong, Sayang."
Segera Juwita naik ke tangga lagi, mengambil Cetta yang menangis.
"Oooowww, jahat yah Abang Banyu? Ih, apaan tuh bentak-bentak orang. Dasar jahat."
"Jangan ngajarin Cetta aneh-aneh!"
Juwita pura-pura tidak dengan, membawa Cetta pergi sementara Banyu terpaksa bangun sambil marah-marah.
__ADS_1
*