Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
48. Dibikin Nangis


__ADS_3

Namun mau bagaimana lagi? Juwita tidak bisa memaksa seseorang peduli. Jadi ia fokus pada Cetta dan Adji yang antusias menjemput Ibu di rumah sakit.


Juwita merasa sangat tersentuh ketika Adji bantu memegangi Ibu berjalan, berhati-hati menuntun sampai ke ruang depan televisi.


Mereka makan bersama. Hangat rasanya melihat Ibu kembali bisa tertawa, tampak cerah bukannya lemah karena menahan sakit.


Sungguh, tidak ada hal lain yang Juwita mau kecuali senyum dan kepuasan orang tuanya.


"Ibu sehat-sehat." Juwita menepuk-nepuk tangan ibunya. "Pokoknya sehat terus sampe umur aku kayak Ibu."


Ibu tertawa kecil. "Mamamu kapan pulang, Dji? Belum ngomong sama Juwita?"


"Belum, Bu. Katanya biar kejutan nanti. Enggak lama lagi juga."


"Tapi enggak banyak omong kan ini anak Ibu? Enggak bikin pusing, kan?"


"Kakak suka marah-marah," adu Cetta spontan. "Suka teriak-teriak."


"Idih, malah ngadu." Juwita mencubit pipi Cetta gemas. "Wong kamu emang suka bikin teriak. Kugigit nih, gigit."


Ekspresi Banyu dan Abimanyu tidak bisa seceria mereka yang berada di ruangan itu. Bagi mereka berdua, pertemuan ini sama tidak pentingnya dengan lamaran kemarin.


Banyu yang melihat Cetta duduk di pangkuan Juwita, tertawa lebar dengan akrabnya justru merasa tak senang.


Rasanya posisi Mama sudah sepenuhnya digantikan oleh Juwita.


Okelah, mereka akui Juwita tidak seburuk itu. Setelah dijalani, Juwita nyatanya punya sisi yang menyenangkan juga. Tapi tetap saja.

__ADS_1


Tidak bisa semudah itu, kan?


"Oi." Abimanyu memanggil adiknya. "Lo mau cabut?"


"Balik?"


"Hm. Gue mau latihan."


"Papa gimana?"


"Balik naik taksi aja."


"Yaudah."


Abimanyu mengisyaratkan Banyu bicara, karena dia ogah jika kena omel. Banyu mendengkus, tapi karena memang mau pergi, dia memutuskan bicara saja.


Juwita langsung menoleh. Muka Adji juga langsung tidak enak, sebab itu kode keras kedua anaknya bosan karena suasana rumah ini tidak menarik.


"Emang kenapa?" tanya Adji, berusaha tenang.


"Aku ada PR," bohong Banyu. "Bang Abi juga katanya mau latihan."


Cetta yang belum terlalu mengerti juga mendongak. "Cetta juga mau pulang, Pa."


Anak itu menikmati, tapi nampaknya dia langsung mengingat peliharaannya, mainannya, dan hal-hal di rumahnya yang pasti jauh lebih menyenangkan.


Juwita menoleh pada Ibu, langsung merasa tidak nyaman karena ibunya memaksakan senyum.

__ADS_1


Ayah mengisyaratkan Juwita untuk pulang saja, menuruti keinginan anak tirinya. Padahal Juwita masih mau di sini, memastikan keadaan Ibu.


"Yaudah, ayok pulang, Mas."


Adji paham situasi tapi merasa tidak enak harus bicara ketika anaknya yang merusak suasana.


Pria itu bangkit, pamit pada mertuanya hingga mereka bisa segera pulang.


Sepanjang perjalanan, Juwita diam saja.


Mungkin nasib yah, karena pada akhirnya Abimanyu dan Banyu tidak mau tahu perasaan Juwita. Yang penting bagi Abimanyu cuma voli, sedangkan yang penting bagi Banyu cuma kemauannya sendiri.


"Kakak kok nangis?"


Juwita menggeleng, tapi berulang kali menyeka air matanya.


Egois tidak sih kalau Juwita sedih? Ia mau bersama Ibu sedikir lebih lama. Soalnya Ibu juga baru keluar dari rumah sakit, pasti butuh bantuan untuk melakukan ini dan itu.


Tapi Juwita tidak bisa minta lebih, sebab Adji menikahinya untuk ini.


Melisa mengirim malaikat penolong untuk Juwita agar ia mengurus anak-anaknya.


"Juwita—"


Setiba di rumah, Juwita berlari turun, pergi bersembunyi sambil menangis terisak-isak di pelukan Cetta.


...*...

__ADS_1


__ADS_2