Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
158. Tiga Orang Lebay


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Suara tangisan kencang bayi kecil itu langsung menarik perhatian seisi rumah, terutama ketiga anak Adji yang sedang sarapan di meja makan.


Juwita di depan anak itu langsung menepuk dahi, bisa menebak bagaimana selanjutnya drama ini berlanjut.


"Sayang, Sayang. Lila. Anaknya Ibu sayang, ciluk baaaaa."


Percuma.


Suara tangisan Lila masih terdengar, dan Juwita memutar bola matanya terhadap kelakuan bocah kecil ini.


Mari hitung sama-sama.


Satu, dua, tiβ€”


"Lo apain anak lo lagi?!"


Nah, kan.


Juwita menatap datar pada Banyu yang buru-buru mengambil Lila ke gendongannya, seolah-olah Juwita ini adalah monster pemangsa anak yang ia keluarkan setengah sinting dari perutnya.


Tatapan Juwita tertuju pada Lila. Begitu masuk ke pelukan Banyu, anak itu langsung diam.


Dasar drama queen.


Abimanyu ikut datang mendekati Lila. Mengusap-usap bekas tangisannya padahal itu cuma sebuah manipulasi.


"Juwita ngapain kamu, Dek?" Abimanyu bertanya, sambil mencium kening Lila. "Jahat yah Juwita sama kamu? Ngapain lagi dia? Hm?"


Juwita melipat tangan. "Kalian nih yah, udah aku bilang Lila biasain jangan digendong terus. Sini turunin. Mainnya di bawah aja sini."

__ADS_1


"Kalo dia sukanya digendong ya gendong aja, ribet amat." Banyu menggendong dia penuh kasih sayang. "Iya, yah? Kamu suka digendong Abang, kan?"


"Dibiasin begitu enggak baik! Kalian nih bisa enggak sih dengerin emmaknya sedikit! Suka-suka kalian semua aja."


Banyu malah berbalik pergi, membawa Lila yang rasanya tengah menyeringai ke Juwita gara-gara menang lagi.


Padahal Juwita tuh mau mengajari anaknya buat duduk lebih tenang. Tidak apa-apa gendong, apa-apa gendong.


Soalnya Lila sekarang sudah tidak bisa tidur sama sekali kecuali dia tidur sambil digendong, mau Abimanyu, Banyu atau Adji.


Juwita memang tidak sampai tertiban beban yang membuatnya harus menggendong terus, karena ada tiga tenaga cadangan. Tapi menurut Juwita, itu bukan kebiasaan baik, makanya ia mau melatih.


Dan lihat, anak itu sekarang sudah digendong lagi, karena dia tidak mau tahtanya direbut.


"Mas, anaknya Mbak Melisa enggak mau dengerin aku."


Adji mendongak, tersenyum tipis. Pada Lila. "Yaudah, enggak pa-pa kalau Abi sama Banyu kuat gendong. Daripada kamu capek."


Adji mengulurkan tangan pada Lila dan anak itu langsung pindah dari pelukan Banyu ke pangkuannya. "Yaudah."


Muka Juwita sepenuhnya datar.


Seisi rumah telah dikendalikan okeh satu bayi. Mentang-mentang bayi perempuan, apa-apa boleh, apa-apa yaudah, apa-apa terserah.


Pokoknya kalau ada sesuatu, semuanya salah Juwita.


Juwita mau anaknya disiplin, sudah itu salah Juwita maunya macam-macam.


"Sekarang aku tau kenapa anaknya Mbak Melisa cowok semua." Juwita mencibir kesal, karena lagi-lagi gagal menerapkan aturannya pada sang anak.


Adji malah sibuk tertawa kecil waktu Lila mau menyuapinya potongan buah. "Makan, Nak? Papa makan? Lila dulu yang makan baru Papa."

__ADS_1


Juwita jadi sebal sendiri. Bukan apa-apa yah, tapi memanjakan terlalu berlebihan kayaknya toxic juga. Takutnya jika nanti Lila dewasa, dia malah tidak bisa mandiri sama sekali.


Bukan berarti manja itu salah, tapi over itu salah.


"Lila, sini sama Ibu." Juwita mencoba peruntungan. "Sini, Sayang. Sini. Sama Ibu, yuk."


"Enggak mau," jawab Banyu seperti menirukan Lila. "Aku enggak mau sama kamu."


"Heh!"


Cetta yang sejak tadi diam ikut menyeletuk, "Lila enggak suka Kakak soalnya Kakak ngomel-ngomel terus."


"Kapan aku ngomel?"


"Tanya aja Lila."


Adji mengusap-usap air bekas buah di sudut bibir putrinya. "Ibu suka ngomel? Hm? Kamu mau ikut Papa ke kantor?"


"Enggak. Enggak boleh." Abimanyu mengambil paksa Lila. "Papa pulangnya malem terus mau bawa-bawa Lila."


"Emang tuh. Kayak bisa ngasih makan aja." Banyu mengambil Lila dari tangan Abimanyu. "Lo juga lepasin. Adek gue mau sama Abang-nya."


Juwita cuma bisa membuat ekspresi πŸ˜’ melihat Lila diperebutkan. Kalau nanti anak ini tumbuh jadi wanita yang menikmati pertumpahan darah demi memperebutkan dirinya, tolong jangan cari Juwita di mana-mana.


Tangkap saja tiga orang lebay di sana.


*


karena beberapa dari kalian masih pengen ini lanjut, seenggaknya aku bisa bikinin beberapa part bonus. but karena belum ditulis, jadi update-nya enggak akan seganas kemarin waktu udah ditulis.


maunya aku hari ini up terakhir, tapi yaudah deh kubikin lagi beberapa part bonus soal mereka.

__ADS_1


makasih yah udah sayang Juwita. 😊


__ADS_2