
Well, Juwita berharap Cetta cuma asal ngambek karena tidak paham soal apa itu adek bayi. Lagian biasanya justru anak-anak seumuran dia akan suka kalau bertemu anak kecil, karena ada sesuatu yang bakal mereka permainkan—maksudnya, ajak bermain.
Tapi waktu mereka pulang ke rumah, Cetta mendadak bersikap aneh.
Anak itu jadi mengabaikan Juwita, tidak mau bicara padanya, selalu menempeli Adji sambil berkata kalau dia tidak mau bersama Juwita sampai Juwita membatalkan niatnya punya adek bayi.
Kayaknya dia kira punya adek bayi itu semudah pergi ke toko mainan, beli yang disuka terus bawa pulang.
"Papa enggak usah punya adek bayi, yah? Cetta enggak suka. Papa sama Cetta aja, yah? Papa, yah?"
Adji diam, karena kemarin waktu dia membujuk, Cetta justru menangis kencang, tidak mau diam sampai satu jam lebih. Akhirnya Adji memutuskan tidak banyak bantah, tidak bilang iya tidak juga bilang tidak.
"Papa, plis. Cetta enggak mau." Cetta menggoyang-goyangkan bahu Adji, terus mendesak agar Adji berkata iya. "Papa, pliiiiiiiis. Cetta enggak mau adek bayi. Papa larang Kakak, yah?"
"Emang kenapa sih sama adek bayi?" Juwita nimbrung, kepo juga dengan alasan bocah ini menolak.
Padahal prediksi Juwita yang paling senang kemungkinan adalah dia. Soalnya kalau dia punya adik, dia bakal punya teman main baru. Dia juga pasti bakal sok jagoan pada adiknya, memuaskan keinginannya jadi pahlawan kesiangan dan adiknya bakal tepuk tangan tanpa paham apa maksudnya Cetta.
Kan? Harusnya begitu. Tapi kok dia malah tidak mau?
"Punya adek bayi seru, loh. Rumah jadi rame."
"Enggak mau!" Cetta berteriak keras, kabur dari pelukan Adji buat menangis ke Opa-nya.
Mama dan Papa memang kembali tinggal bersama mereka, karena resepsi pernikahan kedua mereka tinggal beberapa hari lagi, jadi sementara waktu Mama menunda keinginan untuk traveling.
Permasalahan Oma Putri kemarin tidak dibesar-besarkan oleh Mama. Bahkan waktu Oma Putri secara langsung mengatakan Mama tidak tahu terima kasih pun, ternyata Mama malah cuek saja.
Kata Mama, niatnya pulang ke Indonesia memang cuma buat bertemu Juwita, plus liburan bersama. Bukan pusing sama masalah keluarga yang baper.
__ADS_1
"Cetta enggak mau! Enggak mah adek! Enggak mau adek bayi, Opa!"
Juwita menjatuhkan diri ke samping Adji, bersedekap lelah.
Hadeh, anaknya Melisa memang tidak bisa hidup tanpa masalah. Pasti waktu Melisa ada, dia sangat bimbang mau menjual anaknya ke mana biar bebas dari masalah.
Oke, bercanda. Tapi maksud Juwita, apa anak itu baik-baik saja?
"Enggak usah kamu pikirin banget. Toh, Cetta belum tau apa-apa jadi begitu." Adji tersenyum mengusap-usap perut Juwita. "Nanti adeknya lahir dia juga seneng. Apalagi kalo perempuan."
Keluarga ini mendambakan anak perempuan karena mereka semua laki-laki.
Juwita menikmati elusan Adji di perutnya sambil mengintip ke arah Cetta yang lagi menangis tersedu-sedu. Opa dan Omanya membujuk juga, berkata kalau Cetta pasti bakal suka nanti.
Tapi nanti ya nanti, karena nyatanya sekarang dia tidak suka. Waktu dibujuk bukannya bahagia tentu Cetta malah merasa jengkel dan marah.
*
Suara langkah kaki terdengar dari dalam sel-sel kurungan itu. Nana yang berada di salah satu sel terdengar langsung mendongak, mau tak mau terusik lantaran hampir tak pernah seseorang datang ke tempat ini.
Fasilitas terkutuk ini, sebagai salah satu wanita yang berkutat dalam dunia bisnis yang akrab dengan kekuasaan, Nana sedikit tahu tentang fasilitas yang dibuat oleh mantan presiden Mahesa Mahardika ini.
Organisasinya sudah berjalan bahkan sebelum dia menjadi presiden, namun menjadi sangat kokoh jelas setelah dia menjabat sebagai orang nomor satu di negara ini.
Mereka bergerak berlandaskan keuntungan semata, tapi tidak menerima semua uang dari sembarang orang tanpa pertimbangan. Karena itulah Nana tidak bisa keluar sekalipun ia pun uang yang cukup membayar mereka.
Nana terus mendengar suara langkah kaki itu mendekat, dan anehnya berhenti di depan sel Nana.
Tanpa aba-aba, suara kunci pintu terbuka mulai terdengar. Nana terbelalak melihat selnya yang selalu tertutup rapat mendadak terbuka.
__ADS_1
"Kamu ...."
Pria yang membuka pintu selnya mengangkat alis, mengamati penampilan Nana. "Gue udah ngingetin sama lo kan jangan ikut-ikutan sama Ajeng. Lo enggak dengerin gue."
"Bukan urusan kamu."
"Sekarang urusan gue, karena gue ngeluarin lo dari sini."
"Apa?!"
Pria itu datang, bersama kunci yang seketika membuka belenggu di tangan dan kaki Nana. "Gue nego sama Pak Mahardika buat ngeluarin lo—jelas pake uang. Jadi sekarang lo bebas."
Nana mengerjap bingung. Tapi ketika pria itu menariknya berdiri, Nana berdiri, meskipun sulit baginya mencerna karena yang ia tahu, sekali masuk ke dalam sini, seseorang tidak akan lagi bisa keluar.
Mereka akan dianggap tidak pernah ada, dan keberadaan mereka sepenuhnya akan dihapuskan. Sebagai seorang mantan presiden paling berkuasa, Pak Mahesa Mahardika bahkan tidak perlu berkedip untuk melakukan itu.
"Gue juga nego sama Adji buat setuju bebasin lo. Awalnya dia nolak, tapi gue bilang kalau yang lo lakuin itu cuma bantuin Ajeng ngasih tau lokasi istrinya Adji sekali. So, secara kemanusiaan, lo cuma salah satu jadi enggak seharusnya dikurung di sini seumur hidup."
Nana mengepal tangannya kuat-kuat.
Adji, itu benar. Pria sialann itu yang menjebloskan Nana ke sini hanya karena satu hal yang Nana lakukan, dan itu seharusnya benar.
Dia yang sejak awal sudah bermain api dengan Ajeng. Dia yang sejak awal sudah menghinakan dirinya sendiri dan sekarang dia menyalahkan Nana karena karmanya?
Nana tidak akan memaafkannya.
Tidak sampai Adji merasakan sendiri hal yang Nana rasakan di sini.
*
__ADS_1