Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Mata Seorang Pelaku


__ADS_3

Adji menatap anak bungsunya dari Melisa itu dengan pupil bergetar. Barusan dia berkata apa?


"Semuanya Bang Abi yang bikin, Pa," ucap Cetta sambil gemetaran menahan marah. "Semuanya cuma akting Abang. Dia mau jadi hero buat Kak Juwita, biar Kak Juwita peduli lagi sama dia."


Adji berpaling pada Abimanyu dan mau tak mau skenario itu terdengar masuk akal. Sangat masuk akal anak yang sedang tidak waeas ini melakukan hal sekonyol itu.


Tapi ... apa? Dia sampai sejauh itu? Adji selama ini menilai dia sebagai manusia dan dia ... dia memutuskan berhenti jadi manusia?


"Juwita." Banyu mendorong Abimanyu yang juga dipenuhi darah, tersungkur ke kaki Juwita. "Lo masih mau belain dia? Masih lo liat dia kayak bayi? Ini bayi nafsu sama lo, tau lo trauma tapi malah make itu buat bikin dia jadi hero sendirian. Masih lo liat dia kayak bocah? Masih keliatan kayak gitu?"


Juwita sempat termenung.


Dan saat itu terjadi, Abimanyu yang juga termenung kini tertawa. Dia meringis memegangi wajahnya yang terluka parah tapi tetap saja tertawa seolah ada yang melucu padanya.


"Anjing," umpat dia lirih. Bersusah payah untuk bangkit, mengabaikan dingin di bajunya berkat siraman air dingin dari Juwita tadi. "Jadi gitu ternyata. Jadi ceritanya gue beneran antagonis sekarang."


"...."

__ADS_1


"Fine. Gue antagonis. Sekarang apa? Gue masuk penjara? Atau diilangin kayak Ajeng dulu? Terserah, Pa, terserah."


Adji maju, mengangkat tangannya untuk menampar Abimanyu. Dari matanya, Adji sudah terlihat sangat kecewa karena dia percaya pada Abimanyu paling tidak soal keluarga.


Namun sebelum tamparan itu sampai, Juwita menahannya.


"Juwita!" Banyu menggeram protes.


"Maaf," gumam Juwita, "tapi aku enggak percaya."


"Karena udah kayak gini, kenapa enggak sekalian kita bahas?" Juwita menoleh pada Adji. "Kamu masih mau percaya sama anak kamu karena tau kan, Mas? Dia punya kesempatan. Banyak banget kesempatan buat ngapa-ngapain."


Abimanyu dan Juwita dulu sangat dekat bahkan sampai normal bagi mereka berpelukan. Tak jarang juga Abimanyu tinggal di rumah sendirian mengawasi Juwita dan saat Yunia baru lahir, Juwita melarang Adji tinggal di rumah terlalu lama dan lebih memilih diurus oleh Banyu dan Abimanyu saja.


Ada sangat banyak kesempatan Abimanyu berbuat sesuatu karena cintanya, nafsunya, tapi sampai detik ini, jujur saja, tidak pernah ada yang dia lakukan. Dia cuma berteriak. Dia cuma mendorong Juwita ke tembok, berulang kali meneriakkan kalau dia mencintai Juwita dan dia sangat amat tersiksa akan hal itu. Dia berteriak karena dia mencintai Juwita tapi tidak melakukan apa-apa demi mendapatkan itu.


Bukankah karena itu Adji masih percaya? Sebab anaknya yang hilang kendali ujung-ujungnya masih mengendalikan diri walau di batas yang cukup ekstrim.

__ADS_1


"Dia nyuruh orang ngikutin aku?" Juwita menunjuk Abimanyu. "Dia? Ini anak? Mas, waktu Lila lahir, kamu nangis tapi waktu Nia lahir, Yunia lahir, kamu udah biasa aja. Tapi dia, ini anak, ini anak kamu, dia nangis bahkan waktu aku nangis karena nifas habis lahirin Yunia. Dia lebih banyak nangis buat aku daripada kamu. Terus kamu percaya ini anak beneran jadi penjahat?"


Adji seperti tertampar. Begitu juga Abimanyu yang tak menyangka bahkan di saat seperti ini Juwita masih saja membelanya.


Banyu yang menggeleng atas kalimat itu. "Lo masih aja belain Abang, Juwi. Selalu. Selalu kayak gitu. Selalu!"


"...."


"Enggak pernah Abimanyu salah di mata lo. Enggak pernah dia jahat. Pokoknya apa pun, apa pun, Juwita, lo bakal selalu nyari celah buat bikin dia enggak salah. Lo enggak mau terima seburuk apa pun Abimanyu. Lo pilih kasih sama dia."


Mungkin saja iya. Mungkin faktanya Juwita memang cuma pilih kasih pada anak tirinya ini.


Tapi Juwita percaya pada dirinya. Mata anak ini, saat Juwita ketakutan, dia justru terlihat lebih ketakutan.


Itu bukan mata yang pantas bagi pelaku, kan?


*

__ADS_1


__ADS_2