
"Emangnya enggak boleh yah morotin suami?" balas Juwita polos. "Ya, gimana, yah? Gue kan enggak makan gaji buta juga. Gue masakin dia pagi malem, gue layanin kebutuhan di ranjang, gue urusin anak-anaknya, ya masa gue enggak digaji?"
"...."
"Hubungan suami istri kan simbiosis mutualisme, yah. Dia ngelakuin sesuatu, ya kita ngelakuin sesuatu. Enggak boleh berat sebelah. Lagian apa bedanya? Lo ke kantor kerja disuruh-suruh bos terus digaji per bulan sama lo di rumah disuruh-suruh suami terus digaji, ya kan sama-sama kerja. Iya enggak, sih?"
Artinya : bodo amat congormu ngomong apa. Hidup juga hidupku, aku yang mutusin. Blweeek 😝
Memang semakin orang dewasa, semakin badjingan pula lingkup pertemanannya.
Juwita cuma bisa diam dan jaga image, karena tol*l juga mengajak orang bertengkar cuma gara-gara beda pendapat.
Ketika latih tandingnya Sandy akan berakhir, Juwita mendatangi tempat Abimanyu menyaksikan dengan sangat serius.
Diam-diam Juwita melihat anak itu, mendadak jadi ingat apa yang dia katakan.
Menikah demi uang.
Kalau hanya sebaris kata itu, rasanya jadi sangat negatif dan matrealistis. Padahal Juwita bahkan tidak menikmati sepeserpun mahar dari Adji.
Semuanya untuk Ayah dan Ibu. Tanpa sedikitpun Juwita menyesal.
Lagian, omongan soal 'perempuan tuh harus sukses' atau 'perempuan seharusnya enggak bergantung ke suami' juga seharusnya tidak mengganggu.
__ADS_1
Menurut Juwita, perempuan harus bergantung. Harus!
Karena apa?
Karena capek, Anying! Juwita berteriak dalam hati. Capek tau enggak, kerja, kerja, kerja! Capek hati nih kerjaaaaaa mulu tiap waktu, padahal enggak wajib.
Kalau saja Ibu tidak sakit dan ekonomi keluarga mereka tidak merosot, Juwita juga ogah kerja. Lebih enak bergantung pada Ayah.
Terus sekarang Juwita tidak boleh gitu bergantung ke suaminya?
Dih, terus gunanya pernikahan apa? Kalau perempuannya kerja, laki-lakinya kerja, terus bedanya di mana?
Perempuan kerja, laki-laki kerja, yang ngurus anak pembantu laknat. Sungguh indah dunia.
Sedangkan gue, dihina anak sontoloyo ini aja gue masih ngurusin. Masih aja gue dibilang parasit.
"Kakak, Cetta ngantuk."
Nah, Juwita serasa ditempeli roh tuyul sekarang. Apa ini bukan kerja keras? Masih juga Juwita dibilang cuma nebeng kaya?
Tangan Juwita sampai pegal menggendong Cetta. Padahal anaknya juga bukan.
"Mau pulang."
__ADS_1
"Bentar, yah. Abang kan lagi nonton."
"Kenapa enggak nonton bola aja? Cetta enggak suka bola pukul."
"Bola voli."
"Pulang aja," rengek anak itu.
"Yaudah, jalan-jalan aja yuk di luar. Sambil nunggu Abang selesai."
"Ayok."
Juwita menepuk bahu Abimanyu buat memberitahunya kalau ia dan Cetta akan keluar. Anak itu cuma mengangguk singkat, fokus pada pertandingan.
Karena tadi Juwita memberikan sepatu Cetta pada orang lain, jadi memang dia harus digendong.
Juwita keluar dari stadion, cuma iseng-iseng saja mencari pemandangan waktu melihat sekumpulan pengamen kecil tengah menunggu lampu merah.
Juwita itu paling tidak tega melihat anak kecil bekerja. Makanya Juwita langsung ke sana, mengajak Cetta berkenalan daripada dia bosan sendirian.
Tanpa Juwita sadar, salah satu dari kerabat Adji melihat Cetta dalam gendongannya. Mengambil video ketika Juwita mengajak anak dari pengusaha besar itu justru duduk bersama sekumpulan anak-anak kumuh.
...*...
__ADS_1