
Juwita berhasil bersabar sampai acara lamaran itu selesai. Meski dalam hati Juwita bertanya-tanya.
Enak banget yah ngabisin uang? Bikin acara lamaran yang sama sekali tidak ada keharusan, sementara Juwita harus menikahi duda, tidak menikah atas nama cinta plus punya tiga anak sontoloyo demi membiayai operasi Ibu.
Enak ya jadi kaya? Kayak ada tolol-tolol-nya gitu.
Daripada dibikin emosi dalam hati, Juwita beranjak melihat tiga anak sontoloyo-nya.
Kebetulan Juwita dikasih kue enak, jadi sebagai mama tiri yang berbaik budi pekerti, Juwita mau berbagi dengan mereka.
"Cetta Sayang, sini dulu, Nak."
Bocah itu langsung lompat mendekati Juwita, lengkap dengan mulut belepotan cokelat.
"Buset. Ngapain kamu? Habis makan apa? Makan orang?"
"Es krim!"
"Makan es krim enggak sampe pipi-pipimu juga dikasih makan, Pikachu."
Juwita buru-buru mengelap mulutnya, daripada nanti orang julid bilang Juwita tidak menjaga kebersihan anak tirinya.
Kampr*t enggak, tuh? Cetta yang makan, Juwita yang salah.
Memang dunia dipenuhi manusia tidak adil.
"Abang mana?"
"Enggak tau."
__ADS_1
"Yaudah, cari Abang, yuk. Makan kue sama Abang."
"Gendong."
Juwita menggendongnya, sekalian menggigit dagunya. Heran sebenarnya Juwita apa yang membuat orang lain memandanginya begitu lama.
Secantik itukah dirinya sampai para orang kaya ini minder?
Menggendong Cetta berasa kayak gendong anaknya Raffi Ahmad.
"Kakak."
"Hm?"
"Tadi kata Oma Putri katanya Kakak jelek."
"Apa?!"
Nampaknya gen sontoloyo keluarga Adji memang berasal dari nenek-neneknya juga. Heran Juwita.
Muka Juwita jadi bete lagi waktu menemukan Abimanyu dan Banyu sama-sama duduk di pojokan berdua. Mereka duduknya bersama, tidak ditemani siapa pun selain kue di meja dan gelas minuman.
"Papa mana? Gue mau pulang." Banyu langsung berucap demikian.
"Heh, bocah. Aku sabar yah di sini biarpun mau meledak. Sabar juga," balas Juwita keki.
Juwita duduk di kursi kosong sebelah Abimanyu, meletakkan kue di depan mereka.
"Kalian kenapa enggak sama yang lain? Banyak tadi aku liat seumuran kalian."
__ADS_1
"Urus urusan lo sendiri," balas Banyu pedas.
"Ya itu. Kalian tuh urusanku."
"Kenapa jadi kita urusan lo?"
"Kenapa jadi kita urusan lo," ejek Juwita menirukan perkataan Banyu tapi dengan nada menjengkelkan.
Anak itu langsung mendelik kesal.
"Sontoloyo-ku, aku dari tadi panas ati tau enggak dengerin orang ngomongin kalian. Banyu tuh kenapa sih kalo kumpul-kumpul taunya nunduk aja? Emang di rumah dia ngapain aja? Abimanyu tuh kenapa sih kalo ketemu mukanya galak terus. Nyenyenye. Sabar aku nih sabar."
Cetta tertawa karena ekspresi Juwita. "Kakak lucu banget."
"Emang ngeselin!"
Juwita mengintip sekitaran buat jaga-jaga orang dengar dan bergosip lagi. Waktu merasa aman, Juwita lanjut lagi curhat.
"Itu gunanya kalian dateng tuh itu! Biar kalian liat dunia yang lebih luas. Seisi dunia tuh ada di sini. Yang julid, yang hobi ngurusin hidup orang, hobi ngeremehin orang, hobi pamer kayak orang norak. Pandang baik-baik tuh biar kalian dewasa."
Abimanyu menatapnya miris. "Lo sarap, yah?"
"Dengerin mereka tuh aku sarap. Sampe ke kaki nyut-nyutan."
Juwita menyuapi Cetta tanpa menghentikan celotehan mulutnya.
"Bayangin aja coba, masa rambut kalian aja dipermasalahin. Ih, itu kok rambutnya Abimanyu panjang banget. Kan enggak boleh anak sekolah rambutnya panjang. Ya terus salahku di mana?"
Abimanyu spontan memegang rambutnya, sadar dia rambutnya panjang tapi ogah dipotong.
__ADS_1
"Terus, terus, tadi tuh mereka ngomong. Bajunya Banyu kok lecek banget? Padahal ganteng kok enggak bersih. Emang salahku gitu? Harus gitu kupotong rambut kalian, setrika baju kalian, sekalian semirin sepatu kalian! Harus gitu? Heloo, aku ibu tiri apa pembantu?"
*