Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
118. Harus Selalu Pergi


__ADS_3

Juwita menarik kopernya, lalu menunduk pada Cetta yang cuma menatap tanpa suara.


Mata anak itu basah. Dia terlihat sudah sangat paham kalau Juwita mau pergi. Tidak seperti biasa dia menangis, Cetta malah terlihat menahan diri.


"Cetta mau ikut Kakak aja," ucal dia seolah percaya Juwita cuma mau main ke minimarket. "Tunggu Cetta, yah? Cetta ambil baju dulu."


Juwita mengusap kepalanya. "Kalau udah besar, yah."


"Sekarang aja." Cetta menggeleng. Memegang ujung pakaian Juwita dengan tangan kecilnya. "Cetta mau ikut sekarang. Sama Kakak aja."


"Hm? Kamu jaga Papa dulu. Nanti dibeliin cokelat kalo pinter."


Air mata Cetta jatuh ke pipinya.


Juwita cuma tersenyum, menarik kopernya untuk pergi meninggalkan rumah itu.


Tangan Juwita sempat ditarik paksa oleh Banyu, menggeleng penuh permohonan. Dia benar-benar menangis dengan cara menyedihkan.


Justru membuat Juwita sedikit bahagia, sebab ternyata masih ada satu dua orang yang menganggap ia berharga di rumah ini.


Tapi Juwita balas tersenyum, menepuk-nepuk pipi Banyu sebagai salam perpisahan.


"Jemput Abi, main yang akur. Aku ngandelin kamu, Cahku."


"Juwita."


"Udah. Sana bawa Cetta main."

__ADS_1


Juwita benar-benar pergi. Benar-benar keluar dari gerbang bersama kopernya. Semakin dan semakin jauh keluar dari kompleks mereka, meninggalkan keheningan di rumah itu.


Ketika angin kencang berembus sekilas, Cetta mendadak jatuh. Anak itu tiba-tiba meletakkan keningnya di lantai, berteriak dan menangis histeris.


Banyu mengerjap membiarkan air matanya jatuh tanpa kendali, mendadak ingin hilang saja.


Kenapa orang-orang yang paling ia sayangi harus selalu pergi?


*


Dari sejak Abimanyu kecil, memang paling banyak masalah dari keluarga Papa. Bahkan Abimanyu dan Banyu sering muak sendiri dengan mereka, dan bagaimana mereka melihat sesama.


Mereka bakal saling merendahkan kalau seseorang yang kemarin punya uang mendadak tidak punya. Mereka juga bakal saling mencibir kalau satunya punya pendidikan, satunya justru tidak terlalu berprestasi.


Mereka cuma mau memanusiakan siapa yang mau mereka manusiakan, dan menjadikan sebagian lagi seolah-olah bukan manusia.


Tapi Mama berkata kalau hubungan keluarga tidak bakal bisa diputus mau seperti apa pun sifat orang itu.


Sepupu tetap sepupu, tante tetap bakal jadi tante, ipar tetaplah ipar, dan nenek tetaplah nenek.


Begitu kata Mama.


Tapi bagaimana dengan ibu tiri?


"Juwita pulang ke rumahnya."


Abimanyu mematung saat Papa datang, memberitahunya hal itu.

__ADS_1


"Dia bilang dia mau cerai karena kamu enggak terima dia di rumah."


"Aku enggak—" Abimanyu mau berkata kalau ia bukan merasa Juwita tidak boleh diterima. Abimanyu mau bilang kalau ia cuma sedikit kecewa. Tapi tenggorokannya terkancing, dan Abimanyu tersekat. "Aku enggak ...."


"Kamu enggak apa?" potong Adji, tapi bukan dengan nada menantang.


Cuma bernada datar yang menusuk.


"Kamu enggak tau kalo Juwita disalahin? Kamu enggak denger kalo Juwita disudutin? Atau mungkin kamu enggak liat, lupa buat nengok, ngeliat Juwita dijelek-jelekin?"


Abimanyu menunduk.


"Papa tuh enggak peduli orang ngomong apa. Enggak peduli Papa. Kamu kira kalo Juwita diomongin terus Papa ke sana, bilang 'heh, jangan sembarangan ngomongin istri saya yah!' mereka bakal berenti? Ngimpi. Enggak bakal."


"...."


"Mulut orang enggak bakal mau berenti ngomentarin hidup orang yang mereka mau komentarin. Bodo amat sama orangnya gimana."


Abimanyu terus menunduk, merenung.


"Kamu udah bikin Juwita mau pulang ke rumahnya, jadi seenggaknya kamu pulang sama Papa."


"...."


"Kalo kamu enggak mau, keluar dari sini. Kamu numpang di sini karena Ria keluarga Papa. Cari sana rumahmu sendiri, yang enggak ada hubungannya sama Papa."


*

__ADS_1


__ADS_2