
Semua orang pasti punya masa di mana mereka berharap waktu berhenti, bukannya berjalan. Juwita sekarang berada di masa itu. Ia berharap waktu tidak berjalan namun malam tahu-tahu sudah datang lagi, sementara Juwita masih belum menemukan apa-apa di kepalanya.
Wanita itu turun ke bawah, niat ingin mengambil air minum tapi justru menemukan Adji tidur di sofa, memegang pigura kecil keluarga mereka.
Dia juga pasti sangat lelah. Kalau dipikir-pikir, bukankah dia yang paling terluka? Anaknya menyimpan perasaan untuk istrinya.
Anak yang selalu dia beri segalanya menginginkan apa yang tak bisa dia berikan.
"Mas." Juwita mengecup kening Adji sambil bergumam membangunkannya. "Mas Adji."
Pria itu tersentak kecil, kaget melihat Juwita. "Kenapa?" tanyanya khawatir, mungkin berpikir ada apa-apa.
Tapi Juwita menggeleng. Berputar dari belakang sofa ke depan, ikut naik ke atas sofa dan memeluknya.
Adji yang mendapat pelukan tiba-tiba sempat bingung, tapi tentu saja pria itu balas memeluk Juwita.
Keheningan menguasai sekitaran mereka beberapa waktu. Hanya ada tarikan napas samar satu sama lain sebelum Juwita akhirnya buka suara.
"Jauh di hati aku," gumam Juwita, "aku ngerasa keluarga kita enggak baik-baik aja kalo Abi enggak ada."
"Itu karena kamu sayang sama dia." Adji mengusap naik turun punggung Juwita. "Dunia enggak pernah baik-baik aja kalo orang yang kamu sayang enggak ada, Juwita."
__ADS_1
"Itu berarti dunia kamu enggak baik-baik aja kalo anak kamu pergi." Juwita mendongak. "Kamu ngorbanin anak kamu, biar aku di sini. Kalau aku jadi kamu, aku pilih kamu yang pergi daripada anak-anak aku."
"That's why they called me Papa." Adji tersenyum. [Makanya aku yang Papa]
"Kamu Mama, kamu Ibu, buat anak-anak. Tugas kamu itu enggak tegaan sama mereka. Mereka sakit, mereka enggak makan, mereka ada masalah, kamu selalu enggak tega. Kasian. Tapi aku, tugas aku mastiin mereka enggak sakit, mereka bisa makan, mereka belajar dari kesalahan. Even itu bikin mereka nangis, marah, mungkin benci, tugas Papa itu ngambil keputusan yang tega."
"...."
"Kamu pikir Mas enggak kasian sama Abimanyu? Mas liat dia, Juwita. Mas liat matanya. Dia kesepian, dia enggak tau harus ke mana, dia mungkin ngerasa kalau di dunia ini enggak ada lagi tempat buat dia pulang. Abimanyu punya perasaan. Abimanyu bukan monster yang ngelakuin semuanya karena dia seneng sama itu. Dia punya perasaan."
Suara Adji terdengar emosional mengucapkannya. Pria itu menarik napas, menarik Juwita dalam pelukannya.
"Tapi sebagai Papa, pura-pura enggak peduli, pura-pura enggak kasian sama anak itu tugas Mas. Karena kadang-kadang dia emang harus ngerasain sakit yang dia enggak tau harus apa sama itu. Itu yang bikin dia dewasa suatu saat."
Dia selalu begitu. Dia selalu memasang wajah tidak peduli sampai kadang-kadang Juwita penasaran dia sebenarnya punya perasaan atau tidak.
Namun Adji tidak pernah meninggalkan apa pun. Beban seberat apa pun nyatanya ditanggung olehnya.
"Aku bersyukur punya kamu, Mas." Juwita duduk di pangkuannya, memeluk Adji sangat erat. "Aku bersyukur kamu milih aku."
Sekarang Juwita benar-benar sudah tenang. Hatinya lapang terutama saat tahu Adji ada di sini untuknya.
__ADS_1
"Jemput anak-anak?" bisik Juwita. "Aku kangen. Yuni udah nangis-nangis pasti."
"Enggak sekarang." Adji tiba-tiba beranjak hingga spontan Juwita melingkarkan kaki ke pinggangnya.
Perbuatannya membuat Juwita terpekik. Melotot pada Adji yang malah cengengesan.
"Inget pinggang, dasar orang tua!"
"Mau hamil lagi?"
"Heh! Enggak usah sembarangan ngomong!" Juwita mencubit telinga Adji spontan. "Enam cukup, udah! Enggak usah nambah-nambah lagi!"
Adji malah tergelak, mengabaikan celotehan Juwita tentang betapa sulitnya harus mengurus anak banyak. Pria itu membawa Juwita ke kamar mereka, melemparnya begitu saja ke atas ranjang.
"Mas! Enggak usah kayak aktor film blue deh!"
"Kamu enggak tertarik punya sepuluh anak?" tanya Adji usil.
"Kamu kira aku kucing?!" balas Juwita murka. "ENGGAK JADI AKU MAU SAMA KAMU! SANA! JAUH-JAUH!"
Tapi jika ada satu hal yang membuat Adji berbeda, dia adalah suami yang tidak pernah takut jika istrinya marah. Mau marah sungguhan apalagi bohong-bohongan.
__ADS_1
*
Dukung karya ini dengan like 👍 kalian dan mampir ke karya author lainnya 👇