Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
37. Nanti Kesepian


__ADS_3

"Kamu ngajak mereka buat belanjain?" tanya Juwita langsung, begitu kedua anak tirinya sudah jauh.


Pria di sampingnya tersenyum kecut. "Soalnya saya enggak pinter ngomong begituan."


Yah, Juwita rasa dia memang tidak pandai menghibur. Jadi cara dia menghibur mungkin seperti ini.


"Yang suka dihibur pake belanjaan itu perempuan, Bapak." Juwita berbalik. "Apalagi yang kalah, dijauhin temen, pinter sendirian, plus enggak bisa ikut turnamen."


"Ya emangnya mesti gimana?" Adji buru-buru menyusul dengan Cetta memegang tangannya.


"Entah. Biarin aja dulu."


Cetta mendongak. "Abang lagi marahan sama temennya, Pa?"


Adji mengangguk.


"Kata Mama enggak boleh berantem sama temen. Kok Abang berantem?"


"Berantem boleh, kok." Juwita menjawab.


"Kata Mama enggak."


"Kata Kakak boleh." Juwita tersenyum saat membungkuk pada bocah itu. "Yang penting enggak pukul-pukulan. Berantem mah boleh. Yang sopan."


Adji tertawa kecil. Hanya menggeleng mendengar Juwita berkata demikian.


Mereka pergi berkeliling membeli beberapa hal. Juwita ditarik oleh Cetta setiap kali anak itu melihat sesuatu yang menarik dan Adji akan membelikannya bahkan tanpa protes.


Benar kata Ibu. Mempercayakan laki-laki mengurus anak itu harus dipertimbangkan ulang. Nampaknya kalau Cetta bilang mau beli buaya pun orang ini akan berkata boleh.

__ADS_1


Juwita masih merasa canggung untuk melarang anak Adji belanja, jadi ia cuma melihat.


Sampai akhirnya baterai Cetta habis, dan anak itu mau digendong saja.


Adji langsung menghubungi anaknya untuk mengambil Cetta karena tujuan sebenar dari belanja ini—beli perlengkapan untuk lamaran besok—belum tercapai.


"Saya juga cape—"


Adji menghentikannya bicara, menarik Juwita pergi.


Jelas Juwita bingung. "Kenapa?"


"Istirahat sama saya aja. Biarin anak-anak main sendiri."


Idih, licik juga. Tapi Juwita setuju. Ia juga capek kalau harus menuruti semua permintaan anak Adji. Walau agak tidak enak karena rasanya mereka jadi pengganggu.


Juwita menatap tangannya yang sekarang terbungkus tangan Adji, berjalan di antara kerumunan manusia di mal.


"Kamu lagi baper, yah?" celetuk Adji tiba-tiba.


"Hah?"


Adji menoleh, tersenyum usil. "Melisa kalau lagi baper saya gandeng, tangannya gerak-gerak."


Ish! Ini orang bisa tidak sih tidak mengganggu Juwita dengan keusilannya yang menjengkelkan?


Buru-buru Juwita menarik tangan, tidak mau ketahuan. Tapi Adji malah tertawa, mengulurkan tangan kembali.


"Sini tangannya. Kesepian loh nanti." Adji betah menggodanya.

__ADS_1


"Diem, ah. Buruan jalan."


"Yakin enggak mau?"


"Gak."


Adji malah mengangkat tangan, melebarkan itu di depan wajah Juwita. "Yakin?"


Kalau ini bukan mal, Juwita sudah menggigit tangan dia sampai putus!


Adji malah tertawa lebih lepas karena eskpresi Juwita. Tanpa bertanya lagi dia menarik tangan Juwita, dan kembali menggenggamnya.


Ia ditarik menuju salah satu butik brand fashion ternama, disambut oleh pramuniaga.


"Saya istirahat di sana, kamu belanja sendiri dulu."


Rupanya dia capek juga.


"Tapi aku—"


"Perjanjian soal biaya orang tua kamu itu urusan pra nikah." Adji mengusap puncak kepalanya sekilas. "Sekarang lain urusan. Belanja aja. Saya yang bawa kamu, berarti saya enggak keberatan."


Juwita menggigit bibir. Menatap kepergian pria itu ke kursi istirahat dengan gamang.


Hah. Juwita mau menciumnya kalau dia seperti ini.


Tapi tidak! Tidak boleh! Harus dia yang mulai.


Masa Juwita yang harus menaklukkan dia? Tidak mungkin!

__ADS_1


*


__ADS_2