Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
14. Balasan Juwita


__ADS_3

Adji pulang lebih sore hari ini karena berjanji menemani Juwita ke rumah sakit bersama. Tapi saat ia masuk ke dalam rumah, anak-anaknya langsung berkumpul mengadukan perbuatan Juwita.


Mereka bilang Juwita menendang wajah Mbak Uni, lalu memutar tangan Abimanyu, nyaris mencelakai Cetta dan macam-macam.


Diberondong oleh pengakuan itu, Adji cuma bisa heran.


"Ssshhh, diam, diam. Diam dulu."


Adji beranjak ke kamar, mengetuknya beberapa kali sebelum pintu terbuka. Melihat wajah Juwita kusut, tentu Adji paham ternyata benar ada masalah.


"Ada apa?" tanya Adji baik-baik. "Kenapa anak-anak ngomong begitu? Kalian berantem?"


Juwita terlihat emosional saat berusaha menjawab, "Saya nendang muka Mbak Uni."


Jadi benar. "Kenapa? Karena Cetta nakal banget?"


"Dia nidurin Cetta tapi sambil dicubit. Jempol kakinya diteken sampe nangis-nangis. Saya tanya kenapa, malah dia santai banget bilang kalau enggak begitu enggak bakal mau diatur. Dia enggak merasa bersalah, jadi saya spontan nendang mukanya. Baru dia paham kalo saya marah."


"Mbak Uni?" Adji mempekerjakan wanita itu cukup lama jadi bukan ia tak mau percaya, namun ia tak bisa langsung terima. "Kamu yakin?"


Juwita jadi sadar kalau kepercayaan padanya begitu kurang. Namun Juwita tak bisa mengeluh.


"Kamu bisa datengin orangnya kalau enggak percaya. Jelas dia enggak bakal ngaku, tapi orang bohong biasanya banyak alesan. Aku enggak punya alesan lain. Cuma itu."


Adji menatap wanita di depannya lamat-lamat. Terus terang, ia memang berpikir kalau Juwita kurang sabar menghadapi Cetta dan akhirnya berseteru dengan Mbak Uni.


Tapi ....

__ADS_1


"Kalau saya kurang tulus nolong, saya takut Tuhan enggak nolong saya lagi." Itu yang dia katakan, kan?


Dia yang takut ketulusannya berkurang jika dibalas, apa iya sampai memukuli orang karena kurang sabar?


"Maaf." Juwita menunduk. "Kayaknya keterlaluan sampe nendang mukanya. Waktu saya liat itu, saya mikir kalo dibunuh juga saya enggak salah."


"...."


"Iya sih Cetta nyusahin banget. Saya bosen main bola sama dia. Tapi bukan berarti harus diatur sama yang begituan biar nurut."


Adji memejam. Tak tahu kenapa tapi ... ia merasa Juwita tidak melakukan itu.


"Ayok, ke bawah dulu."


Di bawah, Abimanyu dan Banyu langsung mengernyit marah pada Juwita.


"Sini, Nak."


Anak itu memanjat naik ke pangkuan Adji.


"Kamu diapain sama Mbak Uni?"


Cetta memiringkan wajah.


"Mbak Uni suka bikin kamu nangis kalo nakal?"


Cetta mengerjap, lalu tiba-tiba dia mengangkat kakinya. "Kata Embak, kalo nakal berarti ada setannya. Harus dikeluarin. Kalo jempolnya sakit berarti setannya banyak."

__ADS_1


Juwita spontan mengusap-usap kepala Cetta. "Setannya udah keluar, yah? Udah dikeluarin sama Kakak."


Melihat Cetta tertawa pada Juwita, Adji rasa ia tak perlu bertanya lagi.


"Bohong." Banyu menyahut. "Siapa tau Cetta disuruh bohong sama dia! Mbak Uni udah jagain Cetta dari dulu! Papa lebih percaya dia daripada Mbak Uni?"


"Banyu—"


"Mas." Juwita memotong, dan beranjak. "Yang tadi pagi, berlaku kan?"


"Yang ap—"


Sebelum Adji bertanya, Juwita sudah menampar wajah Abimanyu dan Banyu.


Mereka berdua terdiam syok, apalagi Adji.


"Katanya orang tua enggak boleh mukul anaknya." Juwita bergumam dingin. "Tapi saya bukan orang tua kalian, jadi enggak masalah."


"Lo—"


"Kamu yang nyambar leher saya," telunjuk Juwita menekan kening Abimanyu, "terus kamu yang bilang saya *****," telunjuk satunya menekan kening Banyu, "jangan kira saya suka diem, yah."


"...."


"Saya ini bukan ibu, jadi saya enggak paham perasaan ibu. Tadi saya enggak ngelawan karena paham kalian salah paham, tapi sekali lagi kalian begitu, saya tempeleng kalian sampe nangis. Paham?"


*

__ADS_1


__ADS_2