
Ujung-ujungnya Juwita cemas juga. Kalau diingat lagi, terakhir kali Adji dan Abimanyu bicara kan anak itu teriak-teriak. Padahal Juwita sudah percaya mereka menyelesaikan masalah tanpa bikin masalah baru.
Abimanyu itu masih remaja belum matang. Otaknya masih butuh proses buat dipakai berpikir waras. Dia memang anak baik, tapi kalau sedang marah ya dia bisa jadi anak super duper nakal.
Anak seusia Abimanyu tidak akan mau ditegur pakai cara bos menegur anak buahnya. Jadi Juwita turun.
Tak ia sangka Adji sudah sangat emosi sampai main tangan.
Begitu Abimanyu pergi, Juwita mengusap-usap punggung tangan Adji yang hampir memukul anaknya. Dalam hati Juwita juga takut, tapi ia berusaha terlihat tenang.
"Ssshhhh." Juwita mendekat pelan-pelan, mengusap-usap punggungnya biar Adji lebih tenang. "Mas tarik napas dulu."
Juwita harus hati-hati memilih kata biar tidak sampai pecah pertengkaran keluarga.
Sumpah, Juwita tidak mau sampai kehadirannya memicu sesuatu yang lebih buruk lagi. Jangan. Pokoknya jangan.
"Anak-anak emang begitu, Mas. Suka enggak tau diri sama orang tua."
Pertama, Juwita pro pada Adji, buat menghasutnya.
"Emang. Emang anak-anak tuh paling tau kurangajjar sama orang tua. Bodo amat sama orang tua."
Tangan Adji dingin. Dalam hati dia pasti takut melihat foto anaknya seperti itu.
Makanya dia mau memukul Abimanyu. Sebagai orang tua, dia mau mengontrol anaknya ke arah yang dia rasa benar meskipun harus pakai kekerasan.
Tapi tidak.
__ADS_1
Dia bakal menyesal kalau sampai Abimanyu berbalik membenci Adji betulan. Dan Juwita bakal lebih menyesal kalau sampai anak itu benci ayahnya karena Juwita.
"Wajar kamu marah, Mas. Wajar banget kamu marah. Aku juga marah." Juwita tak berhenti mengusap punggung Adji yang rasanya perlahan semakin lunak.
"Kamu tau, kan?" gumam Adji lemah. "Kamu suruh Sandy bohong? Makanya kamu langsung lari waktu itu?"
Adji memang bukan orang bodoh. Jelas susah dibohongi dengan sandiwara macam itu.
"Iya." Juwita tidak boleh memperlihatkan kesan ia tidak bisa dipercaya di sini. "Iya, aku nyembunyiin."
"Kenapa? Kamu tau dia salah, kenapa kamu enggak bilang sama saya?"
Jangan jawab dengan nada merasa benar. Jangan jawab dengan kesan yakin pasti benar.
"Aku panik," jawab Juwita lemah, terkesan mengakui ia salah. "Aku enggak tega kamu ngeliat anak kamu begitu, jadi aku suruh Banyu bawa Abi pergi."
Adji menghempaskan dirinya ke sofa, memijat kening dan berulang kali mengeluarkan helaan napas frustrasi.
"Kamu seharusnya bilang ke saya. Kalo saya tau dia begitu, saya masukin dia ke penjara. Biar dia tau dia salah. Bukan malah dilindungin."
"Iya, Mas. Maafin aku. Aku enggak kepikiran sama sekali. Aku cuma takut aja. Maaf. Aku salah."
Juwita mengusap-usap tangan Adji, menunggu sampai dia benar-benar terlihat lebih tenang, tidak marah lagi.
"Aku tanya Abimanyu juga. Aku introgasi sama yang lain."
Juwita pelan-pelan menjelaskan, menyisipkan kesan kalau ada alasan dibalik itu, dan bukan Abimanyu mau berbuat nakal.
__ADS_1
"Aku enggak tau dia jujur atau enggak, dia bilang dia enggak tau."
Adji menggeleng. Tidak percaya.
"Ya mungkin dia bohong kali, yah? Namanya juga dia punya salah, takut ngaku. Cuma, dia sebenernya sedih banget habis itu. Jadi aku bilang, yaudah enggak pa-pa. Dia minta maaf udah ngecewain, dia janji enggak bakal ngulangin lagi, jadi aku bilang sama Banyu, yaudah enggak usah dibesar-besarin."
Adji mendengarnya penjelasan Juwita.
"Karena aku enggak mau justru itu diungkit-ungkit, diulang-ulang justru bikin dia sakit hati, dan akhirnya malah ngulang lagi. Maksud aku, kamu tau kan, namanya juga anak kecil. Kalau disalahin malah enggak mau salah. Jadi mau enggak mau ya kita sabar ngedidik."
Adji diam.
"Udah, yah?"
Nah sekarang Juwita bisa bicara terus terang.
"Yang tenang, yah? Hati-hati loh Mas tangannya. Takutnya nanti Abi ngerasa kita benci sama dia."
"Dia salah."
"Iya. Iya, Mas, salah. Salah banget. Kita kasih tau, yah? Maafin, yah?"
Senyum Juwita berkembang manis waktu Adji mengangguk, akhirnya luluh.
Padahal dalam hati Juwita panas dingin.
*
__ADS_1