
"Abang, Lila mau peluk."
Abimanyu tersenyum lebar menerima adik perempuan pertamanya datang, memeluk dia erat-erat. Terlepas dari apa pun, hubungan Abimanyu dan adik-adik tirinya selalu baik. Ia dan Banyu, terutama, menyaksikan mereka semua lahir dan membantu Juwita mengurus mereka sebelum semuanya kacau.
"Abang kemarin nginep?" Lila memegang wajahnya dan bertanya dengan suara lucu. "Lila mau tidur sama Abang. Kok Abang enggak bangunin Lila?"
"Nanti, Sayang." Banyu menjawab sebelum Abimanyu bersuara. Anak itu datang, mencium wajah Lila yang langsung tertawa geli. "Nanti Abang Abi pulang lagi ke rumah. And guess what? He's gonna married."
"Really?! Do we gonna have a party?"
"Absolutely." Banyu mengedipkan sebelah mata sebelum dia pergi ke dapur, membantu Juwita mengurus sarapan dan meninggalkan Abimanyu dengan segudang pertanyaan kepo adik-adiknya.
Abimanyu berusaha tersenyum, berusaha menjawab, dan berusaha untuk percaya pada kebohongan yang ia buat untuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Juwita pun berusaha untuk tidak menoleh. Walau pada akhirnya wanita itu menoleh, melihat wajah Abimanyu.
"Juwita," tegur Banyu yang sibuk menyingkirkan pinggiran roti. "Stop ngeliat Abang kayak dia pengemis yang enggak makan seminggu. Dia bukan pengemis, dia makan empat kali sehari jadi dia enggak butuh bantuan."
Juwita menatap Banyu pasrah. "Aku cuma ngeliat."
"Cuma ngeliat?" Banyu menaikkan alis dengan ekspresi yang jelas-jelas menunjukkan dia tidak percaya. "Buat lo, Abang itu lebih bocil daripada Yunia."
Juwita mencubit pipi Banyu. "Overprotektif."
"It's called love, Mommy."
__ADS_1
"Hei." Adji tiba-tiba menyelip, menepis tangan Juwita dari Banyu. "Jangan love-love-an sama istri Papa."
Banyu spontan bergeser dengan eskpresi jijik. "Iyuh."
Juwita tergelak. "Morning, Sayang," sapanya mesra.
"Good morning." Adji tak melupakan ciuman keningnya. "Jangan mesra-mesraan sama Banyu depan aku, oke? Dia lagi jomblo."
"Pa! That is disgusting!"
Nia yang melihat mereka langsung ikut berseru. "Papa is disgusting!"
Seruan yang membuat Adji menyerbunya dengan gelitikan.
Abimanyu tahu satu sisi bahwa ia adalah masalahnya. Namun anak itu tak tahu bagaimana cara memperbaiki kerusakannya. Abimanyu hanya tahu bahwa saat ia mendongak, melihat Juwita tertawa sebagai 'istri dari Papa', hatinya berdenyut menolak.
"Abang, turunin Lila."
Abimanyu membiarkan adiknya berlari ke pelukan Papa, berdebat dengan Nia tentang siapa putri Papa yang paling cantik sementara Juwita menggendong Yunia yang masih setengah tertidur.
Ya, Abimanyu tahu keluarganya bahagia dan ia adalah sampah.
Maka dari itu tak heran Banyu datang, membanting gelas kopi ke depannya lalu tersenyum seakan dia tidak sengaja.
"Sorry."
__ADS_1
Abimanyu membuang napas kasar. Memutuskan beranjak karena ia tahu ia tak suka melihat semuanya.
"Pa, I'm leaving," pamitnya.
"Kabarin soal pacarmu seminggu lagi."
Tanpa merasa harus menjawab, Abimanyu pergi. Anak itu mengeluarkan motornya dari garasi, sebelum Cetta berlari keluar menghampirinya.
"Dari Kak Juwita," kata Cetta, menyerahkan kotak makanan. "Salad plus ayam suwir full protein, katanya."
Abimanyu menatap kotak makanan itu dengan perasaan berkecamuk. Ia tahu ini kasih sayang seorang ibu. Ia tahu Juwita melakukan ini karena dia seorang ibu dan dia merasa bisa gila jika memikirkan anaknya tidak makan.
"Abang." Suara Cetta menyentak Abi dari lamunan.
"Hm." Kerongkongan Abimanyu serasa terganjal saat ia menerima kotak itu.
"Abang—"
"Aku udah ngerasa gila," potong Abimanyu, tak mau mendengar apa pun itu. "Jangan tambahin."
Cetta mengerutkan bibir dan berucap, "Hati-hati, kata Kak Juwita."
Motor Abimanyu melesat terlalu cepat saat itu sampai ia berpikir jika ia terpelanting ke aspal dan mati begitu saja, maka itu lebih baik.
*
__ADS_1