
Adji tertawa meskipun tengah dipukuli sandal. Juwita terus aaja berteriak jengkel, melampiaskan rasa kesal dan khawatirnya, walau terlihat jelas dia lega.
Pelan-pelan ia menahan tangan Juwita, tapi digigit saking marahnya dia.
Adji tergelak, justru merasa sangat lucu karena Juwita misuh-misuh.
"Ya saya kan enggak pernah bilang mau cerai. Cerai di tangan saya kok kamu yang nentuin."
Iya, kan? Sudah Adji bilang berkali-kali tidak pernah meluncur dari bibirnya kata cerai. Cuma Juwita yang terus-terusan menarik kesimpulan, padahal dia bisa nanya.
"Enggak lucu!" teriak Juwita keras.
"Lucu ah menurut saya." Adji masih tertawa.
"Gak!" Juwita menarik tangannya keras agar terlepas dari tangan Adji. "Aku benci kamu! Dasar bapak sontoloyo!"
Adji cengo melihat Juwita benar-benar berlari pergi, meninggalkan semua orang begitu saja.
Di sudut kolam renang Bima yang menggendong anaknya pun berkata lewat mic, "Yak, dan begitulah akhirnya, permisah, sebuah kejutan yang salah diartikan. Makanya sebelum ngasih kejutan, ada baiknya kasih tau dulu yang mau dikasih, biar dia bisa pura-pura bahagia."
"Papa ditolak?" tanya Cetta polos.
Membuat Banyu dan Abimanyu kompak tertawa.
"Jangan gitu," ucap Banyu. "Kasian."
Bocah-bocah ini, kejutannya gagal juga karena mereka!
Adji berdecak. Langsung beranjak menyusul ke arah mana Juwita hilang. Adji kadang suka lupa yah kalau istrinya itu baperan.
Kesana-kemari Adji mencari, yang ternyata ia temukan Juwita sedang menangis di dekat tangga darurat.
Tangisannya tersedu-sedu, seolah dia malah sedih dan bukannya gembira.
"Kamu kenapa malah nangis?" tanya Adji lembut, sambil ikut berjongkok di sebelahnya.
Juwita semakin terisak. "Aku enggak mau ngomong sama kamu!"
__ADS_1
Barusan dia ngomong.
"Saya minta maaf kalau kejutannya enggak lucu," bujuk Adji halus, sebisa mungkin tidak membuat dia makin bapwr. "Maksudnya tadi itu anak-anak minta maaf sama kamu, udah bikin kamu mikir keluar dari rumah. Baru habis itu saya jelasin kalau kita enggak usah pisah. Gitu maksud saya."
"Kamu bilang dateng ke sini buat cerai," jawabnya seperti merengek. Sibuk menangis tanpa repot-repot menyembunyikan keengganannya.
"Loh? Kapan saya bilang kita ketemu di sini ngurus cerai? Kalau cerai mah di pengadilan agama." Adji mengangkat bahu, yakin ia tak punya kesalahan dalam memberitahu.
"Kamu bilang mau ketemu notaris, mau ngomongin kontrak yang kemarin."
"Iya, emang."
"Tuh, kan!"
"Mau saya perbaharuin." Adji meluruskan. "Waktu kamu bilang 'uang yang saya kasih bakal kamu balikin, kamu cicil' di situ saya ngerasa 'kok saya malah ngutangin istri saya'? Padahal maharmu itu utang saya, itu sepuluh tahun."
"Kalaupun misal saya sama kamu cerai, karena ada hubungan sebelumnya, normal dan baik-baik ya tetep maharmu harus saya bayar. Itu yang mau saya lurusin, biar kamu enggak salah paham lagi."
"Hiks." Juwita memeluk lututnya. "Kamu enggak bilang."
Ujung-ujungnya dia menangisi kesalahpahaman dia sendiri. Yang sulit buat Adji menahan perasaan bahwa dia itu lucu.
"Aku mikir kamu mau ninggalin aku!"
Adji sok menghela napas. "Kenapa saya mau ninggalin kamu?" tanyanya, meminta hal konyol yang Juwita jadikan landasan pikiran sempit itu.
Juwita mulai berhenti menangis. "Abi ninggalin rumah, terus minum-minum, terus juga keluarga kamu enggak seneng."
"Hm, terus?"
"Terus apa?"
"Abi ninggalin rumah, minum, kata kamu—pertanyaan saya, itu salah kamu bukan?"
Pernahkah Juwita menyuruh Abimanyu pergi? Tidak.
Pernahkah Juwita menyuruh Abimanyu minum alkohol? Tidak.
__ADS_1
Terus urusan Juwita dengan kesalahan Abimanyu apa?
Tugas dia sebagai ibunya cuma menegur. Cuma menjaga. Adji yang sebagai orang tua kandungnya pun begitu. Ia cuma bisa menegur, memberitahu anaknya kalau dia berbuat salah. Masa Juwita yang ibu tiri salah sedangkan Adji sebagai orang tua kandung malah tidak salah apa-apa?
Kalau setelah ditegur masih terjadi kesalahan, ya itu tanggung jawab Abimanyu. Makanya Adji memberhentikan anaknya sekolah agar Abimanyu punya waktu panjang merenungi kesalahannya itu.
Berhenti sekolah adalah hukuman berat bagi Abimanyu, sebab dia jadi tidak bisa bersaing dalam pertandingan voli.
Yang overthinking itu Juwita.
"Terus keluarga saya marah, kata kamu. Saya tanya, Mama marah enggak sama kamu?" kata Adji lagi. "Papa enggak suka sama kamu?"
"Yang bagian sana enggak."
"Terus? Emangnya saya mesti peduli mereka suka apa? Saya enggak suka mereka ngomentarin saya—pernah enggak mereka peduli sama itu? Perasaan dari dulu sampe sekarang saya dikomentariiin terus, padahal saya enggak pernah suka."
"...."
"Terus alesan saya cerai sama kamu apa?" Adji menarik pipi Juwita. "Alesan saya lepasin istri saya yang muda, cantik, montok, plus bisa ngurus rumah ini apa? Hm? Sempit pula. Itu namanya saya yang tololl."
Juwita langsung memeluk Adji, bersama bekas tangisnya itu.
"Janji enggak ninggalin?" bisik Juwita, masih setengah merengek.
"Impian orang kayak saya mah cuma nikah sama daun muda kayak kamu. Masa udah dapet malah ditinggal?"
Pelukan Juwita mengerat. Ketika Adji menunduk ke dadanya, dilihat Juwita tengah tersenyum nyaman, memejamkan matanya rapat-rapat.
Terlihat jelas Juwita merindukan pelukan Adji. Dan Adji harap dia juga merasakan kalau berpisah beberapa hari ini pun membuat Adji sangat rindu padanya.
"Saya udah nyebar undangan buat nanti." Adji berbisik. "Kamu mau kan temenin saya di pelaminan sebentar?"
"Sebentar doang?"
"Sebentar aja." Adji tersenyum kecil. "Habis di pelaminan temenin saya di kamar."
"Kalo itu lama?"
__ADS_1
"Kalo bisa selama-lamanya."
*