Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
127. Mau Pindah Keluarga


__ADS_3

"Suami lo ngomong apa?"


Juwita memeluk pinggang Bima sambil menangis tersedu-sedu di punggungnya. Sakit hatinya membuat Juwita bahkan tak bisa menjawab, cuma bisa melampiaskan lewat tangisan dan ekspresi sakit.


Tak tahu kenapa, tapi Juwita kecewa luar biasa. Adji langsung mengurus surat-surat perceraian mereka. Dia bahkan tidak berusaha membujuk Juwita. Tidak berusaha mengatakan hal-hal yang mungkin bisa memperbaiki hubungan mereka.


Iya sih, Juwita tahu dirinya yang memutuskan. Tapi, kenapa semudah itu buat Adji?


Aneh, kan? Kenapa Juwita harus sebodoh itu? Padahal ia yang minta jadi seharusnya ia merasa terbantu, bukan terkhianati.


Sekujur tubuh Juwita mendadak lemas. Bahkan waktu turun dari motor di depan rumah, Juwita sampai jatuh terduduk di tanah.


"Wi?" Bima memeganginya berdiri, tapi Juwita sekali lagi oleng seolah-olah nyaris pingsan.


Pernapasan Juwita pun mendadak tersendat.


"Wi, tenang dulu." Bima mencoba menenangkannya. "Tarik napas pelan-pelan, oke? Enggak ada apa-apa."


Juwita malah terisak-isak. Pedih luar biasa memikirkan ia benar-benar akan berpisah dari Adji, berpisah dari Cetta, dari Banyu dan Abimanyu saat sekarang Juwita sedang sayang-sayangnya pada mereka.


Harusnya kemarin Juwita nikmati waktu lebih banyak dengan mereka. Harusnya kemarin Juwita lebih menikmati kebersamaan mereka.


Juwita rasanya cuma mau kembali sebentar, kalau bisa semenit saja, buat memeluk mereka berempat erat-erat.


Buat main game dengan Cetta, buat menemani Banyu nonton film dokumenter, menemani Abimanyu main voli, dan lebih banyak mengekspresikan cintanya pada Adji.


Pada akhirnya Juwita menang cuma menangis. Waktu tak bisa diputar dan ia cuma bisa merasa sedih.

__ADS_1


Semalam suntuk Juwita menangis di kamarnya, ditemani oleh Yuli yang berbaik hati memijat kepala Juwita karena kasihan.


*


Sementara itu, di kediaman Adji.


Sepulang dari restoran, Adji memanggil anak-anaknya untuk makan.


Tentu Adji tahu kalau mereka tidak akan keluar jika Adji cuma bilang 'ayo makan', jadi Adji mendatangi kamar mereka satu per satu, dan memanggil dengan cara paling efektif.


"Papa mau ngomong, soal Juwita."


Mereka semua langsung berkumpul, termasuk Cetta yang tidak mau melihat Adji.


"Jadi—"


"Sebelum itu," Banyu mengangkat suara tanpa menghiraukan Adji, "aku cuma mau bilang kalo Papa mutusin cerai sama Juwita, aku mau pindah ke rumah dia aja."


Intinya maksud dia baik. Sangat amat menyayangi ibu penggantinya sampai dia merasa tak bisa berpisah lagi.


"Papa—"


"Cetta mau ikut Kakak juga." Si Bungsu menatap makanan tanpa rasa minat. "Cetta enggak suka di sini. Sama Kakak lebih seru."


Padahal ini rumahnya.


Yah, sekali lagi, ambil positifnya saja. Dia sayang pada Juwita sampai tak mau ditinggalkan lama-lama.

__ADS_1


Adji menghela napas, menatap Abimanyu. "Kamu? Enggak ada request?"


Sekalian karena mungkin dia juga mau pindah kartu keluarga.


Tapi Abimanyu cuma menatapnya tanpa ekspresi, bergumam lemah, "Papa mau ngomong apa? Juwita kenapa?"


Meski kemarin dia mendadak tidak waras, sekarang setidaknya dia kembali waras.


"Juwita ninggalin rumah karena keluarga Papa—yang jauh—terlalu banyak ngomongin dia."


"Oma Putri atau Oma Sarah?" timpal Banyu langsung, jelas keki. "Bilang aja. Biar kulemparin gas ke rumah mereka biar tau rasa."


"Dua-duanya." Adji menjawab tenang. "Tapi kesalahan utama itu kita."


"Bukan aku." Banyu menyangkal. "Aku udah nemenin Juwita, asal Papa tau. Yang banyak masalah itu Papa sama dia, nih. Juwita curhat terus soal Abi."


"Cetta enggak nakal." Si Bungsu ternyata ikut menimpali juga. "Kakak enggak pernah marah sama Cetta. Kata Kakak, Cetta baik. Bukan salah Cetta."


Salah Adji, begitulah yang mau mereka bilang.


Adji menghela napas. Menerima saja biar cepat.


Matanya melihat Abimanyu menunduk dalam. Sulit untuk dia tidak terlihat merasa bersalah, karena memang salah satu pemicu adalah dia.


Tapi Adji tidak mau menyalahkan satu orang.


Semua orang pasti punya kesalahan.

__ADS_1


Biarkan anak ini menyesali dengan cara yang menurut dia paling benar. Itu akan membuat dia jadi lebih dewasa suatu saja.


*


__ADS_2