
Juwita sedang tidak mau bertemu siapa pun, siapa pun itu, sekarang. Jadi waktu Adji bilang polisi mau menanyakan beberapa hal, Juwita menggeleng, ogah bekerja sama.
Bukan apa-apa. Juwita merasa trauma jadi ia butuh ketenangan, bukan pertanyaan beruntun.
Untungnya Adji juga sigap. Dia memang sudah memastikan video kekerasan itu tidak tersebar, tidak sampai ke telinga Ibu, dan sebisa mungkin diselidiki diam-diam.
Soalnya tidak terkenal banget juga Juwita sudah banyak haters.
"Pulang aja?" tanya Adji wakti tengah malam Juwita bangun, ternyata dia enggak tidur.
Tadi Juwita memang bilang mau pulang, karena yang perlu dipantau cuma kondisi psikologisnya. Secara fisik, luka bekas pukulan itu enggak sampai butuh infus.
Juwita mengangguk, apalagi karena anak-anak semua stay di kamar. Mereka susah pulang. Rumah sepi, apalagi Adji khawatir ada serangan susulan yang mungkin mengincar anak-anaknya lagi.
"Banyu, Abi."
Dua-duanya bangun cepat, karena mustahil bisa tidur nyenyak di sofa.
Tapi terus terang Juwita kaget waktu Abimanyu datang, menggendongnya turun dari tempat tidur ke kursi roda padahal enggak disuruh.
Mereka enggak banyak bicara waktu Adji membawa mereka pulang pukul dua pagi, dan lagi-lagi Abimanyu menggendong Juwita dari lantai satu ke lantai tiga.
"Makasih." Juwita menepuk-nepuk lengan anak itu, melihat sisi dia yang yah, tidak bisa dibilang sontoloyo.
Banyu dan Abimanyu turun setelah Juwita diselimuti, sementara Cetta diizinkan tidur di kasur itu berdua.
Adji sepanjang malam tidak tidur, sibuk memikirkan siapa sebenarnya pelaku kekerasan pada istrinya.
Siapa pun dia, kalau perlu Adji pastikan masuk ke liang lahat.
__ADS_1
Tidak layak hidup menyakiti orang tanpa alasan jelas.
Apalagi waktu melihat muka Juwita bengkak. Pagi-pagi Juwita menangis terisak-isak karena nyeri, sampai Juwita jadi menolak bicara dan cuma mau Cetta memeluknya saja.
"Kenapa enggak sekolah?" tanya Adji waktu turun, melihat dua anaknya duduk di depan televisi tanpa niat mau sekolah.
Bukan menjawab, mereka mendongak ke atas.
"Juwita gimana?" Abimanyu bertanya ragu.
"Masih sakit. Kalian kalo laper pesen aja. Beliin Juwita sama Cetta bubur juga."
"Pencarian gimana? Udah ketemu?" Banyu buka suara juga. "CCTV depan minimarketnya udah dicek, kan?"
"Polisi enggak tol*l, Banyu."
Adji tidak menjawab, cuma membuka kulkas dan mengeluarkan kotak jus.
Baru dua teguk Adji minum, Cetta muncul dari tangga sambil teriak. "Papa, Kakak nangis lagi."
Bukan cuma Adji, Abimanyu dan Banyu ikut melompat dari kursi, buru-buru naik mengecek.
Mereka pikir Juwita kenapa, ternyata dia menangis karena panggilan masuk dari ibunya tapi enggak bisa diangkat.
"Biar saya yang ngomong. Jangan nangis."
Banyu dan Abimanyu menelan ludah. Sumpah yah, mereka pikir Juwita itu perempuan yang mustahil menangis.
Kayak, ya dia hidupnya santuy dan apa-apa dibawa mengalir macam air.
__ADS_1
Mau dikatai apa pun juga dia punya balasan. Namun ternyata dia punya sisi cengeng.
Dan nangisnya itu dalaaaaaam banget. Bikin Abimanyu dan Banyu yang sama-sama kurang peduli dengan orang lain jadi ikut tersengat.
Adji keluar angkat telepon, jadi Abimanyu dan Banyu merasa harus mendekat, menenangkan Juwita.
"Udah." Walau canggung, Abimanyu mengusap-usap punggungnya. "Jangan nangis."
Cetta ikut naik, menepuk-nepuk lengan Juwita. "Kakak, jangan nangis. Cetta enggak suka."
Malah tambah nangis.
Juwita sebenarnya cuma merasa mau menangis. Sedih saja. Tapi ketika anak tirinya datang berkata jangan menangis, secara alami Juwita merasa mau tambah menangis.
Tadinya menangis tanpa suara, kini Juwita mulai tersedu-sedu.
Melihat Juwita mulai menangis keras, Cetta pelan-pelan malah ikut menangis. Kepalanya sampai diletakkan di lengan Juwita, terlihat sangat terluka karena Juwita sedih.
Lamaaaaaa Juwita menangis. Luar biasa lama. Sampai Adji datang pun dia masih menangis.
"Pa, telfon dokter." Banyu mengira Juwita kesakitan makanya menangis tak henti-henti, tapi Adji menggeleng.
Dia pengalaman mengurus perempuan. Juwita barusan minum obat pereda nyeri, jadi bukan karena sakit Juwita menangis.
Kata Melisa, kalau lagi sakit mau demam atau apa pun terus perempuan menangis, diam saja dengar. Dia bukan butuh dokter.
Memang harus menangis biar lega.
*
__ADS_1