
"Juwita hamil?"
"Lo hamil?"
"Hamil apa?" Ketika semua orang terkejut mendengar kabar itu, Cetta menjadi satu-satunya yang mendongak, tidak paham.
Tapi karena kebanyakan dari mereka terkejut, pertanyaan polos Cetta diabaikan, fokus pada Juwita yang kini menggaruk lehernya salah tingkah.
Walaupun memang itu berita mengejutkan, tidak Juwita sangka reaksi mereka bakal seperti ini.
Bukan penolakan juga sih, tapi mereka terlihat sangat syok seolah-olah itu berita yang mustahil terjadi.
Padahal kan tidak yah? Lagian Juwita dan Adji kan cuma berpisah beberapa hari, jadi jelas sebelum itu ada hubungan yang bisa menghasilkan sesuatu. Masa reaksinya harus begini?
"Serius lo hamil?" tanya Banyu, mendadak terlihat antusias. "Cewek atau cowok? Cewek, kan? Cewek, kan? Cewek, yah?"
"Dasar sontoloyo." Juwita melipat tangan. "Ya mana mungkin aku udah tau sekarang. Itu tuh keliatan pas udah kebentuk. Ini baru trimester pertama jadi mana tau cewek atau cowok."
"Cewek." Abimanyu menyahut, tanpa keraguan. "Udah pasti cewek."
Banyu mengangguk. "Harus cewek."
Adji ikut tersenyum. Kelihatan jelas dia mau bilang cewek juga, tapi nanti Juwita melotot padanya karena kesan itu malah seperti tidak bakal terima kalau anaknya cowok lagi.
__ADS_1
Kalau melihat dari jumlah cowok di rumah Adji yang berlebihan dan sedikitpun tidak ada cewek kecuali Juwita, ya wajar sih mereka sangat berharap. Memang dasar lelaki tuh begitu.
Butuh cewek dalam hidup mereka.
"Hamil apa?" Cetta bertanya lagi, masih tidak paham itu apa. "Kakak, hamil apa?"
"Kamu lagi hamil tapi dikerjain habis-habisan sama Adji?" Mama menggeleng tak habis pikir sambil menatap anaknya. "Kalo istrimu kenapa-napa kamu bisa tanggung jawab?"
Adji langsung tertusuk fakta. Di kamar tadi, dia sudah minta maaf berulang kali karena tidak tahu. Apalagi waktu mengingat itu, Juwita jadi kesal sampai menangis histeris.
Ia sengaja perlihatkan tangisannya pada Adji sampai dia diam tidak berkutik, biar tahu rasanya dikerjain itu gimana. Demi kejutan dia bikin Juwita menangis berhari-hari sampai rasanya sakit satu badan.
Surprise ndasnya, kalau alasan dia itu mau bikin surprise. Bahkan mulai sekarang, Juwita putuskan buat tidak menerima surprise-surprise-an lagi dari siapa pun, tidak peduli siapa.
Bikin kesal aaja.
"Kakak, hamil itu apa?!" teriak si Bocah paling kerdil.
Semua orang terkejut mendengar suara teriakan Cetta yang sejak tadi diabaikan. Karena Cetta sedang duduk di pangkuan Juwita, tentu Juwita juga yang paling pertama meresponsnya.
Duh, bocah kecil ini kepo juga.
"Kamu mau punya adek, anaknya aku. Nanti kamu main-main yah sama adekmu?"
__ADS_1
"Seneng dong Cetta mau punya adek bayi." Mama ikut menimpali, mencolek pinggang Cetta. "Nanti kalo adeknya cewek beneran, adeknya enak banget pasti punya kakaknya tiga. Kamu temenin yah adekmu?"
Ekspresi Cetta seharusnya 😃 sambil berkata 'adek bayinya kapan ada?' tapi yang Juwita lihat malah 😠tanpa kata.
"Kenapa? Kok kamu enggak seneng?" Kenapa mukanya dia terkesan marah pada keadaan begitu?
Cetta tiba-tiba melompat turun dari pangkuan Juwita. "Cetta enggak mau adek bayi," katanya dengan raut wajah tertekuk.
"Lah, lah? Kok gitu?"
"Pokoknya enggak mau! Kakak enggak usah punya adek bayi! Cetta enggak suka! Adek bayi berisik, suka nangis!"
"Emang kamu enggak?"
"Pokoknya Cetta enggak mau adek bayi!"
Juwita mengangkat alisnya melihat anak itu lari menjauh, hingga Abimanyu terpaksa menyusul disuruh oleh omanya.
Tapi karena kelihatannya dia baik-baik saja, ya Juwita tidak terlalu mempermasalahkan, lanjut berbincang dengan keluarganya.
Namanya juga bocah. Pasti kadang-kadang suka korslet begitu. Toh, nanti juga dia senang.
*
__ADS_1