
"Cari." Gumaman dingin Adji membuat orang-orang di depannya menegang kaku. "Saya enggak mau tau, cari."
Kemarin Adji masih menggunakan sedikit, sedikit kesabaran meski sebenarnya mau mengamuk. Adji bersabar, mencari solusi yang damai dan tenang untuk istrinya.
Bagaimanapun emosi pada sesuatu juga tidak menyelesaikan masalah. Apalagi Juwita tidak suka berlebih-lebihan.
Tapi sekarang tidak lagi. Istrinya dipukul dengan batu batako keras sampai Juwita mengalami cidera parah.
Jika Adji bersabar di sini, itu bukan keputusan bijak tapi sebuah ketololan.
"Enggak usah pake polisi. Cari pake uang. Keluarganya, temennya, semuanya, cari semuanya. Bawa ke depan saya semuanya."
"Pak—"
"Saya enggak minta pendapat."
Mereka langsung paham kalau Adji tidak akan mau mendengar siapa pun sekarang.
Ketika Adji menahan keinginan membunuhnya di sana, Abimanyu dan Banyu terpaku di depan ruang ICU.
Mereka berusaha. Mereka benar-benar berusaha sampai menghubungi sana-sini untuk tahu siapa. Tapi belum ada hasil, untuk kedua kali mereka melihat Juwita harus ditangani dokter?
Kali ini bahkan lebih parah. Dia dipukuli batako di depan mata semua orang. Terang-terangan seolah menghina betapa bodoh mereka melindungi Juwita.
"She will be okay."
Oma mengusap-usap punggung mereka, kasihan melihat keduanya bahkan sampai berdiri di depan pintu, tak sabar ingin memastikan.
__ADS_1
"Tuhan enggak mungkin nyiksa orang gitu aja. Juwita enggak bakal kenapa-napa. Oma yakin."
Abimanyu menoleh dengan mata memerah, tapi ketika melihat Banyu, ternyata anak itu sudah menangis tanpa suara.
Terlepas dari apa pun tingkah mereka pada Juwita, rumah benar-benar sepi sejak Mama pergi dan Juwita mengisinya.
Papa jadi ceria, Cetta juga terbebas dari pengasuh gila, dan Juwita bersabar sekalipun mereka berdua bertingkah kurang ajar.
Kalau Juwita sampai kenapa-napa, Abimanyu rasa keluarganya tidak akan kuat. Mereka masih terlalu rapuh setelah ditinggal oleh Mama dan kerapuhan itu cuma bisa ditutupi oleh Juwita.
Butuh seribu tahun rasanya Abimanyu menunggu sampai mereka dipersilakan melihat Juwita. Tanpa basa-basi Abimanyu masuk, mendekati tempat tidur Juwita berbaring tak sadarkan diri.
Padahal Abimanyu bisa menjaganya. Tapi kenapa malah ia biarkan dia terluka?
Dasar dirinya tidak berguna.
Abimanyu menggeleng. Menunduk, memberikan kecupan lama ke pipi Juwita.
Sumpah demi apa pun, Abimanyu tidak akan biarkan dia tidur di sini lagi, untuk ketiga kali.
"Maaf," bisik Abimanyu sendu. "Cepet sembuh."
Adji mendekati tempat tidur Juwita setelah selesai bicara dengan dokter. Diusap kepala kedua putranya yang diluar dugaan malah seperti sangat takut.
Itu hal baik mereka menyayangi Juwita.
Siang malam mereka menunggu Juwita sadar, Abimanyu dan Banyu tidak pernah meninggalkan Juwita begitu saja.
__ADS_1
Mereka seperti saat Melisa dirawat. Sedih, takut, tapi berusaha keras memaksa diri mereka di sana agar tak kehilangan.
Adji meninggalkan Juwita bersama mereka, sebab harus mengurus pencarian pelaku. Terlebih ketika Abimanyu cerita soal teror Juwita dan foto yang dikirim pelakunya jelas menunjukkan itu tindakan pembunuhan berencana.
Sandy dan Adit juga datang memberi keterangan, berusaha keras memberi petunjuk berguna.
Semua orang berusaha membantu, namun Juwita tidak kunjung bangun.
"Jangan bikin saya takut." Malam ke empat Adji melihat Juwita masih tak sadar, rasanya dunia serasa runtuh.
Padahal baru Melisa pergi di depan matanya.
"Kamu kan mau saya sawer." Adji bergumam memegang tangan Juwita, mengajaknya bicara berharap dia dengar dan sadar. "Bangun, Sayang. Anak-anak nungguin kamu."
Dokter berkata ketidaksadaran Juwita sekarang juga dipengaruhi oleh trauma berat.
Dia takut setelah mengalaminya dua kali hingga secara alam bawah sadar tak lagi ingin bangun.
Adji juga takut membuka mata setiap kali ia terbangun dalam tidur. Sebab ia berharap ketika ia bangun, Juwita juga sudah bangun, namun nyatanya tidak.
Bukan cuma Adji, Abimanyu dan Banyu pun sama takutnya.
Mereka terus memegang tangan Juwita, sesekali berbicara menyuruhnya bangun karena takut jika hari terus bertambah tapi tanda-tanda kesadarannya sama sekali tidak ada.
Juwita seperti tidak mau bangun.
*
__ADS_1