
"Abimanyu, HP-ku balikin, dong." Untuk kesekian kali, Juwita merengek pada anak tirinya. "Cahku, lanang, ganteng, balikin HP-ku, plis. Abimanyuuuuuuu."
Abimanyu pura-pura tidak dengar, sibuk memantulkan bola dari tangannya ke udara, latihan receiving. Tidak peduli bagaimana Juwita minta, dia dari kemarin selalu begitu, menghindar dari permintaan Juwita.
Padahal itu kan HP pribadi Juwita.
"Biiii, balikin HP-ku heh!" Nada lembut Juwita berubah lebih tegas. "Aku mau nelfon Ibu, loh."
Tapi tetap tidak mau balik badan. Apalagi menuruti Juwita.
Malah muncul Banyu di belakang, menyerahkan ponsel. "Nih."
Tapi itu bukan ponsel Juwita. Bukan juga ponselnya Abimanyu atau Banyu. Nampak lebih seperti ponselnya Cetta yang lebih sering dipakai main game oleh anak itu.
Juwita berdecak, memeluk lututnya di tepi lapangan sambil melihat dua anak itu.
Tahu sih Juwita kalau mereka khawatir. Mereka takut kalau Juwita pegang HP, lalu terornya berlanjut, Juwita lama-lama akan khawatir.
Tapi tidak sampai harus menahan ponsel pribadinya juga.
"Cahku, balikin dong, Sayang. Banyak nomor penting di sana, loh."
Mereka diam, pura-pura tuli.
Juwita menjatuhkan dirinya di lantai semen begitu saja, tidak terlalu khawatir dengan terpaan panas matahari pagi dari atas.
Sebenarnya alasan utama Juwita butuh ponsel itu untuk tahu siapa pengirimnya. Kalau dia terus-menerus mengirim teror dan dicueki, atau mungkin harus balas diprovokasi, siapa tahu kan dia menunjukkan dirinya pelan-pelan karena emosi.
Juwita tidak tahu tapi dirinya curiga itu keluarga Adji. Karena mereka sibuk mempermasalahkan pernikahan Juwita dan Adji. Padahal sebelum itu, hidup Juwita tenang-tenang saja.
__ADS_1
Berbeda pikiran dari Banyu dan Abimanyu yang malah berpikir itu dari teman dekat Juwita. Karena Adit yang dijadikan kambing hitam itu jelas cuma dikenal oleh teman Juwita.
Waktu Juwita tenggelam dalam pikirannya sendiri, Abimanyu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, menghalau matahari dari muka perempuan itu.
"Ngapain lo malah tidur di sini? Bangun." Walau bicaranya begitu, Abimanyu berdiri di sana cuma karena tidak mau wajah Juwita kena panas matahari.
Bukankah anak tirinya sekarang sudah sangat manis?
Memang kasih sayang Juwita tidak pernah gagal menyogok hati seseorang.
"Enggak usah senyum-senyum."
Walau dia masih tsundere.
Juwita menatap bocah SMA itu lekat. Tiba-tiba tenggelam dalam pikirannya.
"Kenapa yah orang pada enggak suka aku nikah sama Papamu?" Juwita dari kemarin mau mempertanyakan itu.
"Emang masalahnya sama mereka apa, sih? Apa cuma aku yang enggak ngerti?"
Kayak keluarganya Adji itu. Kenapa mereka begitu sibuk mengurusi padahal mamanya Adji tidak protes, Adji yang menjalani mau sendiri, anak-anak pun terlihat sudah membaik, tapi kok mereka merasa mereka berhak mengatur?
"Duit Papa bisa nyawer cewek satu Kabupaten." Banyu menjatuhkan bola ke Juwita yang spontan ia tangkap. "Cewek kan emang matre."
"Ya terus? Ngebully aku emang ada jaminan mereka dapetin Papa kalian? Enggak ada pikiran gitu kalo kelakuan mereka malah bikin jijik?"
Keduanya diam, tidak tahu mau membalas apa.
Tapi waktu Juwita mengulurkan tangan, spontan keduanya menerima, menarik Juwita berdiri.
__ADS_1
Setelah kejadian kemarin memang kayaknya dua anak Melisa ini berubah total. Biarpun celetukan mereka masih asem, kentara sekali mereka bersikap baik dan jinak pada Juwita.
Nyaris bersamaan Juwita berdiri, ia menarik keduanya, memeluk mereka bersamaan.
"Makasih, yah." Juwita mengusap-usap kepala mereka biarpun dua bocah itu syok. "Aku enggak bakal bisa tahan dibully kayak gini kalau kalian enggak bantu."
Sebab kalau tidak ada Adji dan anak-anaknya, Juwita mungkin sudah bunuh diri karena depresi.
Juwita melepas pelukan itu, berlalu masuk buat meneriaki Cetta agar keluar dari ruang peliharaannya.
"Pikachuuuuu! Sini makan es krim sama aku!"
Sementara Abimanyu dan Banyu yang ditinggal kikuk sama-sama membuang muka.
Banyu tak suka perasaan hangat di dadanya ketahuan, jadi bocah itu bergegas kabur ke kamar, meninggalkan Abimanyu sendirian.
Makanya tidak ada yang melihat waktu Abimanyu memejam, mengepal tangannya kuat-kuat.
Jangan begini. Demi Tuhan, jangan begini.
Jangan sampai sesuatu yang sudah dijaga baik-baik malah dirusak oleh ini.
Anjing. Abimanyu mengacak rambutnya, duduk menutup wajah sambil dibakar matahari.
Jangan baper, bego, jangan baper, goblock! Itu istri Papa! Istri Papa, Anjing! Nyokap tiri lo sendiri!
Iya. Tidak boleh sampai bocor perasaan laknat dan terkutuk ini.
Abimanyu tidak mau merusak apa pun di keluarganya, apalagi dengan hal menjijikan soal perasaan pada Juwita.
__ADS_1
*